HASRAT

HASRAT
Perih


__ADS_3

"Pak bagaimana ini? apa lebih baik kita kabari keluarganya. kita bisa cari identitasnya di tas ini atau kita bisa cari keluarganya di pinselnya" Ibu yang menemukan Olive tadi lantas membuka tas milik Olive. dia menemukan sebuah ponsel dan sebuah kartu pengenal "Namanya Olivia Sunandar. Dia sudah menikah dan tinggal di alamat ini, pak" menunjukkan sebuah alamat pada kartu pengenal itu. Tapi, sayangnya alamatnya sangat jauh dari sana sehingga mereka memutuskan menunggu sampai Olive tersadar.


"Begini saja buk kita cari keluarganya di ponsel saja. Kalau kita ke alamat ini sangat jauh bisa memakan waktu hingga setengah hari." Bmsuaminya memberi saran. Setelah mereka mengeluarkan ponsel itu mereka bingung bagaimana cara menggunakan ponsel mewah itu.


"Ibu nggak tau cara pakainya pak...." ujarnya sambil membolak balikkan ponsel itu. Tentu saja mereka tidak bisa menggunakan ponsel itu sebab memang ponselnya sengaja di matikan. Untuk mencegah Damar dan Gilang menghubunginya.


"Aduh gimana dong, pak? apa kita tunggu si eneng bangun aja baru setelah itu kita tanya bagaimana cara kita menghubungi keluarganya." jelasnya sambil memandang sang suami.

__ADS_1


Tak betapa lama suster keluar dari ruangan itu, dia bilang bahwa pasien telah sadarkan diri. Dia mencari siapa yang telah menolongnya. Mereka berdu lantas masuk "Neng bagaimana kondisunya?" tanya si bapak.


"Saya baik baik saja, pak, buk. Saya sangat berterima kasih kepada kalian, jika tidak ada kalian mungkin nasib saya dan bayi saya tidak seperti sekarang ini. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih" Olive hendak memposisikan dirinya tapi agak kesulitan sampai si ibu tadi membantunya.


"Sudah selayaknya kami sebagai sesama manusia menolong orang yang sedang kesusahan. Tapi kami mau tanya neng apakah neng punya nomer keluarga neng yang bisa kami hubungi? tadi kami sudah coba membuka hp neng, tapi kami tidak bisa menyelakannya"


Kedua orang tadi saling melempar pandang, mereka mengira Olive ini adalah korban perselingkuhan atau korban kekejaman mertua seperti biasanya orang orang di sekitar mereka. "Tapi neng jujur saja kami tidak bisa membantu biaya rumah sakit ini. Bukan apa apa sih neng tapi kami ini hanya seorang pedagang kecil mana bisa kami melunasi biaya rumah sakit ini" ujarnya berterus terang. Bagaimana mereka bisa membantu kalau mereka sendiri saja kesulitan mencari uang.

__ADS_1


Olive tersenyum sambil meminta tasnya "Saya bisa membayarnya sendiri. Dengan kalian membantu saya saja itu sudah membuat saya berhutang banyak." ia mengambil kartu Atm yang ada di dakam tas.


"Sekali lagi saya mau munta tolong sama bapak dan ibu untuk memberikan kartu inj pada pihak rumah sakit, dan pinnya ada di balik kartu itu"


Mereka memundurkan langkah seolah menilak kartu itu "Kami tidak beranu neng, takutnya nanti kami di kira maling" ucap si bapak ketakutan.


Melihat kedua wanita dan pria paruh baya di sampingnya itu membuat Olive yajin bahwa keduanya orang baik baik.

__ADS_1


"Pak, saya percaya sama kalian berdua. Tolong saya ya pak. Mana mungkin dengan kindisi saya seperti ini harus membauar administrasi sendiri." ucapan Olive mereka pertimbangkan sampai bapak itu pun mengambil karti dari tangan Olive lalu keluar dari ruangan. Sedangkan si ibu tadi masih di dalam bersama Olive.


__ADS_2