HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

"Kamu gila, ya?"


Ucapan itu membuay Olive membuka mata, ia melihat sebuah payung hitam melindunginya dari air hujan dan matanya berkaca kaca melihat sang suami berdiri tekak di belakangnya sambil memegang payung.


"Mas, Damar." Olive pun bangkit, menatap wajah suaminya. Segera Olive memeluk tubuh sang suami dengan erat, sampai Damar tidak bisa bergerak. Meski hatinya hancur, Damar sendiri tidak bisa menampik rasa cintanya pada sang istri. Jantung berdebar kencang, deru nafas Olive menyentuh dada.


Duar...


Gemuruh petir semakin kencang, Olive semakin mengetatkan pelukannya. Di bawah payung teduh, mereka saling berpelukan. Kedua tangan Olive melingkar di pinggang suaminya namun, Damar hanya diam dengan sesekali melihat air hujan turun di mengitari mereka berdua. Kepedihan Damar saat ini seolah membuat Alam ikut berduka. Gemericik air hujan menyaksikan betapa hancur perasaan Damar saat ini, Petir menggambarkan amarah bergemuruh kencang dalam jiwanya, dan angin kencang menggambarkan hati Damar yang sangat rapuh di terpa kelukaan.


Dalam waktu beberapa menit Damar memaku sambil menyaksiakan sang istri terus menangis sambil memeluk tubuhnya.


"Mas, tolong beri satu kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku" Melepas pelukan, menatap mata sang suami. Damar masih terdiam seribu bahasa.


"Mas..." Olive mnghuyung lengan Damar


"Jangan bicarakan itu lagi, jika tidak saya bisa lepas kendali dan berakibat fatal untuk kedepannya" Seketika Damar berbalik badan. Otomatis payung pun berputar sampi air hujan kembali membasai wajah Olive.


"Apakah pintu maafmu telah terkunci rapat untukku?" Tutur Olive sambari menyentuh pundak Damar. Bukan uluran tangan atau senyuman di balik wajah itu, malah tepisan tangan Damar yang begitu kasar.


"Setelah melakukan perbuatan zina baru kamu mempertanyakan pintu maaf? apakah kamu pernah berpikir sebelum kamu berzina, tentang perasaanku nantinya? kamu itu egois. Kembali padanya setelah luka di hatimu saya obati. Saya juga tau Gilang adalah ayah dari anak itu. Sekarang saya tidak ada artinya untuk kamu lagi, kan? kalau begitu untuk apa memberi kesempatan kedua, sedangkan kesempatan pertama tidak kau jaga"


Duar...


Kedua manusia itu sudah tidak memperdulikan petir, angin kencang, dan derasnya hujan menimpa. Antara keduanya hanya ada rasa saling tersakiti satu sama lain.


Olive menangis...


"Baiklah, kalau begitu. Mungkin sulit bagi kamu karena kesalahanku terlalu fatal tuk di maafkan...." Perlahan Olive pun berbalik. Keduanya saling membelakangi.


"Jika kesempatan itu sudah tidak mungkin lagi maka, aku siap menunggu semua keputusan kamu, mas. Kemeja ini juga sangat mustahil kembali semula dan mungkin kamu harus mencari kemeja baru yang bisa menjadikannya pantas untukmu" Air mata bercampur air hujan mengiringi langkah kaki Olive. Damar masih memaku di tempatnya sambil menyentuh bagian dada, merasa hatinya semakin sakit.


"Kamu ingin pisah dariku lalu berlari padanya, kan?"


Ucapan Damar menghentikan langkah kaki Olive, bibir bawahnya di gigit menahan sakit maha dasyat. Meski kajadian itu bukan atas kemauan dirinya tapi, sang suami sudah melihat dengan kedua matanya. Apa yang bisa Olive perbuat selain pasrah dengan keadaan.


Menarik nafas panjang sebelum mengucapkan kata yang memberatkan "Jika itu pilihan kenapa tidak" Kembali Olive melangkahkan kaki.


Dengan segera Damar berbalik melihat punggung istrinya, langkah kaki yang dulunya berlari menyambutnya dengan girang kini malangkah pergi darinya.


"Kenapa kamu menaykiti ku lagi dan lagi..."


Brak....


Sontak Damar terkejut lalu bebalik "Olivia....." Teriaknya kala melihat sang istri tergeletak bersimpah darah. Entah bagaimana kejadian itu sampai ada sebuah mobil menghantam Olivia.


"Sayang, bangun, jangam bercanda. Ayo bangun..." Menghuyung badan lemas Olive lalu Damar melihat darah menetes semakin banyak.


Brummmm...


Mobil yang telah menabrak Olive melarikan diri. Sekilas Damar melihat mobil itu tapi ia tidak perduli yang terpenting sekaranga adalah nyawa istrinya.


Segera Damar membawa sang istri ke rumahnya.


"Mbok, tolong panggil Kenan" Teriak Danar dari luar pintu, koas warna putih yang di kenakan berubah warna menjadi merah karena darah yang keluar dari kepala Olive.


"Astaga, Non Olive..." Mbok Inah berkari dari dapur melihat istri majikannya tergeletak penuh darah.


"Jangan banyak bicara, cepat panggil Kenan suruh datang bersama tim medis" Jelasnya sembari memberikan pertolongan pertama. Bagi seorang Dokter pasti ia tau lanhkah pertama dalam menghadapi situasi saat ini. Tapi, Damar tidak memiliki alat lengkap layaknya di rumah sakit. Jadi, ia memutuskan memanggil Kenan beserta tim lainnya.


"Non Olive kenapa, den?" Kembali Mbok Inah bertanya.


"Nanti saya jelaskan, Mbok. Yang penting sekarang Mbok jaga dia dulu, saya mau ambil sesuatu di kamar" Damar berlari menuju kamarnya.


"Ya Allah, Non. Kenapa bisa jadi seperti ini..." Mbok Inah menangis melihat Olive terbaring seperti saat ini.


"Non..." Kepala Olive bergarak kekiri dan kanan membuat Mbok Inah berlari memnggil Damar.


"Aden, Non Olive sudah sadar..." Teriak Mbok Indah dari bawah.


Tak lama Damar datang dengan mambawa sebuah perban dan obat merah. Dengan bahan seadaanya Damar membut luka di kepala Olive sampai para medis datang.


"Awhhh......." Pekik Olive kala tangan Damar tidak sengaja menyentuh lukanya.


"Tahan ya..." Dengan tangan gemetaran, Damar mencoba membalut luka di kepala depan Olivia.

__ADS_1


Penuh ketelatenan dan wajah panik Damar membuat Olive ingat bagaimana keduanya di peetemukan dulu, jika masih mungkin ingin sekali Olive kembali padanya, melalui ssmuanya penuh canda seperti sedia kala.


"Jangan banyak gerak..." Celetuk Damar kala Olive hendak membenarkan kepalanya yang meleset dari bahu sofa.


"Ada apa, Dam?"Databglah Kenan berserta tiga orang awak medis, mereka sudah membawa perlengkapan darurat.


"Istri saya jatuh, tolong lihat lukanya..." Ucap Damar sambil menatap Olive yang masih teebaring meringis keskitan.


"Bukankah kamu itu juga Dokter kenapa harus panik.." Lirihnya sambil membungkuk melihat perban yang Damar pasang.


"Maaf, saya buka kembali perbannya" Kenan membantu Olive berdiri di bantu juga oleh beberapa tim medis.


"Sepertinya kita harus melakukan operasi ringan di bagian ini, kalau tidak darahnya akan semakin banyak yang keluar. Daerah kepala paling rawan..." Belum sempat Kenan menjelaskan Damar lebih dulu memukul kepalanya.


"Saya juga tau. Jangan ceramah depan saya, scepat lakukan operasi sekarang juga"


"Operasi? di sini?" Ucap Mbok Inah.


"Iya, Mbok."


"Tapi, kan..."


Damar menyentuh pundak Mbok Inah "Serahkan pada ahlinya. Mbok jangan khawatir, Dokter ini bukan sembarang Dokter. Mbok bantu doa saja"


"Oke, kalau gitu keliarkan semua peralatan" Tutur Kenan pada timnya.


Dengan jeli dan telatan, Kenan melakukan operasi kecil di ruang terbuka. Kerana lukanya tidak terlalu parah jadi, Kenan bisa malakukan operasi dadakan di ruang terbuka seperti saat ini.


"Istirahat dulu, jangan banyak gerak." Jelas Kenan.


"Mbok, bawa dia ke kamar" Titah Damar.


"Baik, Den." Mbok Inah membantu Olive menuju kamar.


"Kalian tunggu si mobil, ada hal yang harus ayaa bicarakan sama Dokter Kenan" Ucap Damar kepada tim media lain.


"Baik, Dok" Ucap mereka serempak.


Damar menghemlaskan tubuhnya di atas sofa.


"Sepertinya kamu begitu mencemaskan dia..."


"Bagaimana tidak, dia itu masih istriku. Aku belum siap kehilangan dia"


Kenan mengernyitkan kedua alisnya "Kalau kamu takut kehilangan dia maka jangan suruh dia pergi, sebelum dia benar benar menghilang dari kehidupan kamu selamanya"


"Entahlah, apa yang akan terjadi ke depannya, tapi untuk saat ini hatiku masih terasa sakit"


Kenan menepuk pundak sahabatnya "Ambil langkah yang terbaik buat kehidupan kamu selanjutnya." Kenan bangkit lalu berpamitan kembali bertugas.


"Thank, ya."


Di balik kejadian itu ada Gilang yang baru saja sampai di rumahnya. Alisya menghampiri sang suami "Mas...." Alisya menjulirkan tangan hendak menciuk tangan suaminya.


"Tidak perlu..." Gilang segera berjalan masuk tanpa menghiraukan sang istri yang masih memaku di luar rumah.


"Sampai kapan kamu akan bersikap seperti itu padaku, mas." Perlahan Alisya menyeka air matanya lalu masuk ke dalam.


"Duduk kamu" Ucap seseorang yang tengah duduk di sofa ruang tamu. Di lihatnya ada 5 orang, Dimas, Raka, Gea, dan Lily. Mereka menatap tajam putra sulung mereka itu.


"Kalian?" Gilang terkejut kala melihat semua kelauraga berkumpul di satu meja hang sama, dari tatapan mereka Gilang sudah tau akan ada hal yang kurang baik.


"Mami, kapan datang?" Gilang menghampiri ibu kandungnya. Gilang memeluk sang ibunda.


"Papi apa kabar?"


"Baik." Ucap Raka.


"Ada yang ingin kamu tanyakan padamu, kamu harus menjawab dengan jujur" Raka mulai membuka suara.


Gilang pun duduk.


"Saya ambilkan minum dulu..." Ucap Alisya.


"Apakah benar video ini adalah kamu?" Raka mengeluarkan ponsel dari saku celananya, memperlihatkan sebuah rekaman di mana Video itu mereka dapat dari nomor tidak di kenal.

__ADS_1


Nomor tidak di kenal itu tidak lain adalah sang penjaga villa hanya saja dia tidak memberi tau jika dia di balik semua ini. Selebihnya ada video lain dari Damar, sengaja ia kirim pada Dimas supaya semua keluarga Gilang tau bagaimana sikap putra mereka.


"Dari siapa kalian mendapat video ini?" Tentu Gilang panik mendapati videonya bersama Olive tersebar luas.


"Tidak penting dari siapa kami mendapatkan bukti itu, yang paling penting kami ibgin dengar kebenaran dari bibit putra kami ini" Ucap Gea.


Gilang terdiam sejenak, ia tidak bisa berkata apa pun sebab video itu benar adanya.


"Mami tidak menyangka kamu bisa senekat itu. Harusnya kamu sadar, kamu itu sudah beristri. Melirik wanita saja harusnya tidak boleh apa lagi sampai menidurinya. Sungguh keterlaluan kamu, Gilang" Ucap Lily penuh air mata.


"Tapi di mana salahnya Gilang, Mi? gilang mencintai dia dari dulu dan Gilang hanya mau bersamanya bukan dengan yang lain"


Plak...


Dengan reflek Lily bangkit dari duduk lalu menampar Gilang dengan keras.


"Salahnya di mana kamu bilang?" Jari telunjuk Lily menunjuk tepat di depan wajahnya.


"Hubungan kalian itu sangat salah di mata hukum atau pun di mata umum. Dan kamu maaih tanya slaahnya di mana?" Sambung Raka, ia merasa gemas melihat tingkah putranya tersebut seolah membuat darahnya mendidih.


"Kenapa kalian hanya tau menyalahkan aku saja? kenapa kalian tidak menanyakan diri kalian sendiri salahnya di mana" Gilang sudah lepas kendali kala hubungannya di permasalahkan.


Dasar hubungan adalah cinta tapi tidak semua cinta berakhir bahagia. Landasan cinta Gilang keliru, mencintai wanita bersuami adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.


"Mami tidak pernah menyangka jika anak mami akan sejahat itu, kelakuan kamu tidak lebih baik dari seorang penjahat. Mami menyesal telah melahirkan kamu..." Bentak Lily.


Gilang mengeratkan kedua tangan sembari bangkit dari duduknya.


"Mami harusnya ingat kata pepatah BUAH JATUH TIDAK JAUH DARI POHONNYA. Kalian dulu juga pernah mengalami hal yang sama, bukan?" Ucapan Gilang sontak membuat semuanya terbelalak.


"Cukup, Gilang" Bentak Gea selaku ibu tiri yang telah membesarkan dia selama ini.


"Jaga bicara kamu. kami ini adalah orang tua kamu harusnya kamu menghormati kami"


"Lalu saya harus bagaimana? semua yang terjadi mutlak kesalahan kalian sendiri. Pernahkan kalian mengerti bagaimana perasaan saya selama ini? apa kemauan saya dan apa pilihan saya? kalian ini hanya tau perjodohan saja, tanpa sadar kalian telah melukai hati anak kalian sendiri" Gilang pun segera meninggalkan ruang tamu.


"Gilang, berhenti kamu.." Teriak Dimas sambil melihat putranya manaiki anak tangga.


"Kesalahan yang saya perbuat berawal dari kesalahan kalian. Jika kalian hanya ingin menceramahi kehidupan saya maka, pintu rumah ini masih terbuka lebar."


"Jaga ucapan kamu, Gilang..." Bentak Lily.


"Maaf, Mi. Kalau kalian tidak menyalakan api maka tidak akan ada yang terbakar" Gilang segera melanjutkan langkah menuju kamar.


"Astaga...." Lily merasa sangat sedih melihat putra kandungnya bersikap tidak sopan seperti itu "Gilang benar. Semua ini salah kita" Air mata Lily menetes deras.


Segera Raka memeluk sang istri "Dia butuh waktu. Suatu saat dia akan menyadari jika semua ini kita lakukan demi kebaikan dia sendiri" Di usaplah lengan sang istri sembari meminjamkan bahu kokohnya.


"Maafkan atas sikap Gilang, Bang. Mungkin kita bisa bicarakan ini baik baik esok hari." Jelas Dimas.


"Semua ini salahku. Salahkan aku atas didikanku yang salah ini..." Sambung Gea. Dia juga menangisi kisah pilu sang putra. Meski hanya putra sambung, tapi baginya sudah seperti putra kandungnya sendiri.


"Sayang, jangan seperti itu, ini bukan salahmu." Ucap Raka, melihat sang adik menunduk merasa sangat bersalah.


Dimas melepas nafas panjang "Hufh...."


Dari balik pintu dapur, Alisya mendengarkan semua percakapan mereka. Hatinya hancur mendapati suaminya tidak menerimanya. Bahkan, sempat menyalahkan perjodohan itu.


Sebelum keluar dari dapur, Alista menyeka air matanya lalu merapihkan kembali cadar yang ia kenakan.


"Silahkan di minum..." Santunnya seraya meletakkan minuman dingin untuk mereka.


"Terima kasih, Nak"


Alisya mengangguk "Saya pamit ke dalam dulu"


"Iya, silahkan"


Alisya menaiki anak tangga. Ketika pintu kamar di buka, di lihatnya Gilang telanjang dada.


"Ah, maaf..." Kembali pintu di tutup.


Dengan santai Gilang berjalan menuu kamar mandi tanpa menghiraukan Alisya yang maaih di luar kamar.


"Semua membuatku muak" Gemericik air mengguyur tubuh Gilang dari ujung kepala hingga ujung kaki. Sekian kalinya takdir mempermainkan dirinya sampai di titik terlemah.

__ADS_1


__ADS_2