
Beberapa saat kemudian, Leo sudah rapi dengan rambut tersisir indah, juga aroma wangi khas dari tubuhnya.
"Kamu sudah mandi?." Tanya Risa dengan langkah menuju tempat Leo berada.
"Sudah." Senyum Leo mengembang " Sekarang tolong buka perbanku, dan ganti dengan yang baru."
"Apakah kamu yakin jika aku bisa melakukan itu...?"
"Biar aku ajari, semua ada prosedurnya sayang, jadi tidak akan terjadi hal buruk. percayalah!." Jelas Leo.
Tak berapa lama Leo menyodorkan semua peralatan yang hendak di gunakan.
Deg...
Seketika nampak rona pipi Risa terlukis indah, senyuman tipis mengembang bagaikan keindahan mentari pagi.
"Ayo lakukan...."
"Aku takut." tubuh Risa gemetar saat hendak membuka perban di kelapa kekasihnya itu.
"Baca buku di meja itu, nanti kamu lakukan sesuai prosedurnya ya." Leo mewanti-wanti dirinya untuk tidak salah langkah.
"Biar aku saja."
__ADS_1
Suara itu terdengar dari kejauhan, langkah kaki mulai terdengar jelas di telinga, namun saat mereka fokus dengan asal suara tersebut, keluarlah seorang wanita cantik berseragam dokter....
"Tina..." Leo berdiri lalu menyambut hangat wanita tersebut.
"Bagaimana kondisi kamu..?." Tanya Tina sembari melihat balutan perban di kepalanya.
"Aku baik! oh iya, silahkan duduk." santun Leo.
"Ehemmm..." Risa berdehem.
"Halo gadis manis, perkenalkan saya adalah Tina." Uluran Tangan Tina di acuhkan begitu saja.
"Siapa perduli." cetus Risa membuang muka.
"Leo,dia kasar kepadaku."ucap Tina dengan memeluk lengan Leo manja.
"Risa, jangan seperti itu." Leo melepaskan tangan Risa.
Risa kesal atas penolakan Leo terhadapnya, kini dia memilih untuk meninggalkan mereka...
"Kamu mau kemana...?" Tanya Leo.
Risa tidak menghiraukan dirinya, api cemburu tengah menguasai diri...
__ADS_1
kini satu-satunya cara untuk mengendalikan emosi adalah secepatnya menjauh dari pergulatan api cinta tersebut.
"Dia tidak sama dengan Criztine." Ucap Tina.
"Memang sifat mereka saling bertolak belakang, bahkan aku sendiri mengetahui itu, namun aku sudah memutuskan untuk bersama dengan dia dan melupakan semua tentang Criztine." Leo bersandar pada bahu sofa.
"Kamu benar mencintai wanita bar-bar itu? sepertinya karakter dia sangat berbanding terbalik dengan kamu."
Kembali Leo terpojok...
kediaman Leo saat ini membuktikan bahwa dirinya belum sepenuhnya menerima Risa.
"Kenapa diam? kamu adalah seorang dokter, dan makanan keseharian kamu adalah mengobati semua orang yang membutuhkan, lalu kenapa kamu tidak bisa memberikan pengobatan hati untuk dirimu sendiri?...sedangkan kamu sudah memilih untuk bersama wanita itu, jadi mau tidak mau kamu harus mencintai dia seutuhnya." Jelas Tina dengan wajah serius.
"Dokter itu juga punya sisi lemah! mungkin aku bisa menangani semua pasien dengan kerja kerasku, tapi aku tidak bisa menjamin kesembuhan luka di dalam diri ini." Leo merasa kalut atas semua kalimat mematikan yang di layangkan Tina.
"Terserah kamu saja. aku tidak akan bahas masalah pribadi kamu lagi, kalau begitu aku akan mengganti perban kamu dulu." Ucap Tina sembari menyiapkan semua peralatan yang di butuhkan.
Dengan kelihaian Tina sekejap saja Perban sudah selesai di ganti.
"Tina..."
"Hemmm...." jawab Tina dengan sibuk membereskan sisa-sisa perban.
__ADS_1
"Kenapa sulit sekali melupakan dirinya..." Leo tertunduk sedih, semua kesedihan menyatu menjadi sebuah ikatan Luka.
"Bukan sulit, hanya saja kamu terlalu bodoh untuk kembali mencintai wanita lain. padahal hati kamu sudah terbuka tapi kamu terlalu berat untuk melepaskan masa lalu kamu." Jelas Tina.