
" Aku dan Gilang masuk dulu, kamu tunggu disini." Titah Dimas pada wanita di sebelah Gea.
Sebelum pergi, Dimas sempat melirik wanita di sebelah Lily.
Pakaiannya sama persis dengan yang di pakai Gea.
Ah, mungkin hanya kebetulan saja.
Segera Dimas masuk, dengan menggandeng anak tersebut.
" Kenapa Anda tidak masuk bersama mereka?" ucap Gea sengaja memancingnya.
" Kenapa memang? apa urusannya dengan kamu?" Ketus Lily dengan nada kasar.
Gea geram mendapat perlakuan seperti itu. Dengan berusaha keras, Gea mencoba menahan emosi dalam dirinya. Hal yang kerap di lakukan ketika marah, ialah mengepalkan tangan sekuat mungkin, dan menarik nafas panjang.
Semua itu, bisa sedikit meringankan beban dalam dirinya untuk sementara waktu.
Emosi kerap kali menggoyahkan tujuan utamanya untuk berbenah diri, akan tetapi Gea tidak ingin perjuangannya sia-sia.
Perjalanan panjang di lakukan, demi membuktikan, bahwa tidak selamanya pendosa selalu berbuat jahat.
Segala rintangan silih berganti menguji kesabarannya, bahkan tidak jarang Dia mengalami kesulitan dalam mengontrol amarahnya, tapi kembali lagi pada niat baiknya itu.
Halangan utama dalam proses perbaikan diri, ialah sabar. Dimana hati harus mengontrol situasi di dalam otak, serta menyeimbangkan diri dari luapan amarah.
" Maaf, bukan maksud saya lancang. Hanya saja suami anda tampan, begitu pula dengan anak itu." Dengan melepas kaca mata hitamnya, Gea menatap wajah Lily.
" Omong-omong, siapa anak itu? sepertinya suami anda sangat mirip dengannya."
" Tentu saja mereka mirip! memang mereka ayah dan anak." Cetusnya
__ADS_1
Betapa hancur hati Gea saat mendengar semuanya, serasa dunia hancur.
Pada akhirnya, Gea tidak mampu menahan rasa sakit hatinya, lalu memilih pergi dari tempat itu.
Lily merasa heran dengan wanita yang baru saja di bicara padanya itu, sebab dia pergi begitu saja.
" Dasar orang aneh."
Tanpa pikir panjang, Gea berlari keluar dari Rumah Sakit.
Semua rasa bercampur aduk dalam dirinya, semua amarah seolah meluap tanpa terkendali.
Ya, lagi-lagi kesabarannya kembali di uji, setelah ujian panjang yang di lewati dan kini Gea harus kembali menelan kepahitan yang sangat menghancurkan dirinya.
" Betapa jahatnya kamu padaku, Dimas." Segera Gea masuk dalam mobil, lalu beranjak pergi dari sana. Pikiran Gea seolah terpenuhi dengan semua ucapan Lily.
Saat mobil mulai keluar dari pekarangan Rumah Sakit, perlahan Gea mengendarai mobil lalu menuju sebuah tempat, dimana dirinya harus mendapatkan ketengan batin.
" Permainan apa lagi yang harus aku jalani? kenapa semua ujian ini sangat menyakitkan." Lirihnya sembari memukul stir kemudi.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya, tibalah di sebuah tempat yang sangat ramai.
Tempat itu ada pertama kalinya dia menjalin janji pada Dimas dan dirinya sendiri, untuk menjadi seorang baik seperti Criztine.
" Di pantai ini, dulu aku pernah berjanji untuk merubah semuanya. Di tempat ini pula akan ku luapkan rasa sakit dalam diri ini."
Gea menuju tempat, dimana dulunya dia dan Dimas bercerita tentang semua hal.
Betapa sakitnya Gea kala mengingat sebutan (Anak) dari wanita itu, jika sudah seperti itu, pasti saja anak itu adalah anak dari wanita tersebut.
Sejauh mata memandang, hanya ucapan dan bayangan wajah Dimas yang melintas di matanya. Suara ombak mengiringi dentuman keras dalam hatinya, angin bertiup kencang membawa butiran pasir halus yang menyentuh wajahnya, terasa perih bagai di sayat. Lara dalam hatinya, seolah membuat gelap dunia.
__ADS_1
" Tuhan....." Gea berteriak sekencang mungkin, untuk melepas segala amarah dalam dirinya. " Bantu aku keluar dari semua ini."
Sikap Gea mengundang simpati dari banyak orang yang berada di sekitarnya.
Semua mata menatap ke arahnya, dengan pandangan aneh, mungkin mereka menganggap Gea adalah orang yang Aneh.
Ketika semua keluar dari dalam dirinya, Gea bersandar pada pohon besar di sampingnya itu.
" Are you oke?" Seseorang berdiri di sampingnya " Saya pikir anda butuh teman." Seorang wanita berkacama duduk di sampingnya. " Boleh kenalan?" Wanita itu menjulurkan tangannya, lalu di sambut hangat oleh Gea. " Sebut saja Fee, kalau boleh tau, siapa nama kamu?"
Gea berusaha melebarkan senyum padanya.
" Panggil saja Gea."
" Gea, nama yang indah, seindah orangnya. Oh iya, sepertinya kamu sedang ada masalah?" Wanita itu mencoba menggali permasalahan yang saat ini Gea hadapi.
Gea diam, tidak ingin masalahnya di ketahui orang lain. Wanita itu terus mencoba membuka pembicaraan untuk sekedar basa-basi, sebelum lanjut pada tahap selanjutnya.
" Dulu, saya pernah mengalami kejadian luar biasa, dimana saya harus kehilangan seorang anak dan suami sekaligus. Dan saya juga melakukan hal sama seperti kamu saat ini, berteriak lantang mengeluarkan segalanya, tapi saya sadar bahwa, semua adalah suratan Takdir." Jelas wanita yang duduk bersamanya itu.
" Saya juga punya masalah dengan calon suami saya, dia punya anak dari wanita lain." ucap Gea dengan kembali berlinang air mata.
Wanita itu adalah seorang Psikologi. Jadi dia ingin membantu Gea keluar dari jeratan kegelapan yang membelenggu. Tatapan mata Gea kepadanya, membuat sang Psikolog membaca kesedihan mendalam dalam dirinya. " Yang kamu butuhkan saat ini adalah ketenangan, kedamaian, dan juga butuh teman untuk bicara. Jika Anda bersedia, saya akan menjadi tempat keluh kesah anda, bagaimana?"
Gea mengiyakan, lalu mereka saling bercerita tentang kehidupan mereka. Sampai pada akhirnya hati Gea merasa tenang dan damai.
Meski tidak semua rasa sakit itu hilang, namun dia bisa merasakan ketenangan batin.
" Terima kasih, sudah mau menjadi pendengar." Uluran tangan Gea membuat sang Psikolog itu tersenyum.
" Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu. Ini ada kartu nama saya, jika butuh tempat bersandar, hubungi saya."
__ADS_1
Tak lama kemudian Sang Psikolog pergi. Gea pun memutuskan untuk tidak kembali ke rumah Dimas, melainkan kembali ke Apartemen milik keluarganya. Sedikit menepi, akan membuatnya sedikit tenang.