HASRAT

HASRAT
Tentang Gilang


__ADS_3

Sesampainya di ruangan itu Gilang melihat Olivia terbaring di ranjang rumah sakit. Jarum infus menancap di tangan kanannya. Sorot matanya terlihat sendu dan wajahnya terlalu pucat.


"Olive...." Ucapnya sambil melangkah mendekati Olive.


Olivia masih terdiam, matanya terlihat berkaca kaca. Ia terlalu membenci masa lalunya bersama Gilang sampai membuatnya tersakiti selama bertahun tahun lamanya. Kemunculan Gilang hanya membuatnya menderita, dan jika waktu bisa di putar pasti dia akan meminta untuk hidup sebeluk bertemu dengan laki laki tersebut.


Langkah kaki Gilang terhenti di samping samping tempat Olive terbaring. Melihat penggelangan tangan kiri yang masih terbalut perban dan satu lagi menancap jarum infus membuatnya iba.


"Maafkan saya karena hanya membawa luka bagi hidup kamu. Tapi saya sangat mencintai kamu, benar hanya kamu seorang" Mencoba mengusap kepala Olive tapi ia menipisnya dengan menoleh ke lain arah.


"Kenapa kamu masih di sini, pergi kamu, pergi. Harusnya kamu tidak pernah datang lagi dalam kehidupan saya, penyesalan terbesar dalam hidup ini adalah KAMU" Teriak Olive.


Melihat penolakan itu membuat Gilang segera memeluknya "Please jangan bicara seperti itu, membuat saya sakit"


"Ah.....lepas"

__ADS_1


"Bagaimana pun bayi yang saat ini kamu kandung adalah darah dagingku" Lirihnya sambil menahan beberapa pukulan di dada.


"Apa maksud kamu?" Betapa terkejutnya Olive saat mendengar kata Bayi lolos dari mutut Gilang.


Perlahan Gilang melepaskan tubuh Olive lalu duduk di kursi sebelah ranjang, ia meraih tangan kiri Olive "Kamu hamil"


Kabar itu membuat Olive meloloskan air mata. Haruskah dia senang atau sedih dengan kenyataan ini, karena dia juga bingung benih siapa yang saat ini ia kandung. Damar suaminya atau Gilang seorang yang telah melukai dirinya. Dia juga sadar jika ada dua benih di dalam rahimnya.


"Nggak, ini nggak mungkin. Kamu pasti bohong...." Dengan derai air mata, Olive menggelang kepala masih tidak mempercayai apa yang ia dengar.


Terlihat Gilang menarik nafas panjang lalu mengeluarkan dengan berat "Tapi saya yakin dia adalah anak saya. Kalau itu benih suami kenapa baru sekarang kamu hamil selama bertahun tahun lamanya menikah dengan dia"


Olive membulatkan mata "Tidak, itu tidak mungkin. Pergi kamu, Pergi....." Olive hesteris.


Kebetulan ada seorang perawat masuk "Ada apa ini?"

__ADS_1


Keduanya langsung menatap ke arah perawat tersebut "Suruh dia kelur dari sini, sus. Saya tidak ingin melihatnya di sini" Dengan berderai air mata Olive meminta Perawat itu mengusir Gilang dari hadapannya.


"Mohon maaf, Pak. Lebih baik anda keluar dulu biarkan pasien tenang"


"Tidak bisa sus, dia sedang mengandung anak saya"


"Lebih baik anda bicarakan ini nanti setelah pasien membaik" Gilang pun di usir paksa oleh suster tersebut.


"Tapi sus dia mengandung anak saya..." Gilang masih saja memaksa masuk sampai suster tadi geleng kepala.


"Mohon maaf sekali lagi kalau anda memaksa masuk itu akan membuat pasien semakin drop, apa anda mau terjadi sesuatu pada istri dan anak anda"


Seketika Gilang bungkam.


"Non Olive, kemana non Olive" Mbok Inah merasa cemas melihat istri majikannya sudah tidak di tempatnya lagi. Mbok Inah mencoba bertanya orang sekitar tapi mereka tidak melihatnya, lalu Mbok Inah mencari di kamar mandi tapi tetap tidak di temukan.

__ADS_1


"Bagaimana ini?" Mbok Inah sangat panik, ia pun hanya bisa menunggu Damar keluar dari ruang operasi.


__ADS_2