
Setelah beberapa hari kemudian, Gea memutuskan untuk pergi ke tempat yang di maksud oleh Dimas. Tekatnya begitu kuat, sehingga dia menerima pengasingan diri untuk beberapa tahun ke depan...
Pukul 09:30 Gea sudah berada di bandara, di temani dengan Dimas dan Fita.
Sembari menunggu jam terbang, Gea meminta Dimas dan Fita menemaninya hingga dia berangkat.
" Masih ada waktu setengah jam lagi untuk kita bersama..." Lirih Gea.
" Padahal aku ingin segera melihat kamu jauh dari diriku..." Dimas tiba-tiba saja menyuguhkan kata kejam padanya.
" Dimas! Tidak baik bicara seperti itu." Maki Fita. Ucapan Dimas membuatnya kesal, apa lagi Gea.
" Padahal kamu sudah berjanji padaku, jika kamu mau jadi kakak ku..."
" Siapa bilang? mana mungkin Mama Gua melahirkan anak dalam beberapa hari, lalu menjadi sebesar ini." Kembali Dimas menguji kesabaran Gea.
Berharap Gea terpancing, malah mamanya yang terpancing emosi...
" Dimas...." Pandangan mata Fita seolah menghardiknya perlahan.
" Mau berangkat jam berapa? sepertinya penerbangan menuju London akan segera lepas landas." Ucap Dimas sembari melihat jam di tangannya.
" Masih ada 10 menit lagi, sabar sedikit kenapa?."
__ADS_1
" Terserah kamu saja." Dimas meraih ponselnya.
Setelah beberapa menit berlalu, Gea mendengar namanya di panggil...
" Tante, Gea pamit ya. Jaga diri Tante baik-baik."
Fita meraih tangan Gea, lalu memandang matanya...." Semoga niat kamu ini adalah awal bahagia dalam hidup mu, Nak."
" Iya, Tante." Tanpa segan, Gea mencium tangan Fita. Kedekatan antara mereka berdua semakin dekat. Di tambah lagi dengan pengakuan Gea, bahwa dia ingin menjadi bagian dari keluarga Fita.
" Ingat! awali semua dari hati." Dimas segera mendekati Gea dan Mamanya.
" Selama kamu disana, jangan sekali-kali punya niatan untuk kembali ke sini, sebelum kamu benar-benar bisa menjadi baik." Dimas mencubit hidung Gea.
" Keterlaluan sekali kamu ini...." Fita menepuk lengan kanan anaknya.
" Sudah,sudah, jangan ribut seperti ini..." Fita mencoba melerai silat lidah di antara keduanya. " Cepatlah masuk, nanti kamu tertinggal..."
Senyuman Fita membuatnya semakin yakin, bahwa dia bisa merubah diri sebaik mungkin. Karena saat ini Gea sangat membutuhkan dukungan mental dan kasih sayang tulus dari seseorang.
" Cepat masuk...." ucap Dimas.
Langkah kaki terasa sangat berat, ketika Gea harus segera meninggalkan Dimas dan Fita.
__ADS_1
" Tunggu aku pulang..." Lambaian tangan mengiringi kepergiannya. Sebelum wajah Mereka menghilang, Gea menyempatkan mengulas senyum di bibirnya.
" Akhirnya wanita gila itu pergi juga...." Dimas menghela nafas panjang.
" Bicara apa kamu ini." Ketukan keras kembali Fita layangkan di bahu putranya.
" Kenapa Mama jadi marah padaku? padahal aku bicara apa-adanya. Sepertinya Mama lebih menganggap dia sebagai anak dari pada aku." Protes Dimas.
" Bicara apa kamu?." Kesal dengan kata-kata Dimas. Fita segera mencubit pipi Dimas.
" Sudahlah...mari kita pulang." Fita menggandeng lengan putranya, lalu mereka segera pergi dari tempat tersebut.
Beberapa jam berlalu. Kini Dimas sudah sampai di rumahnya.
" Sepi juga tidak ada dia..." Lirih Dimas dengan pandangan lurus menuju sebuah kamar kosong di samping kamar Ibundanya.
" Semoga kamu bisa menjadi apa yang kamu mau, dan kamu bisa menemukan dia(lelaki) yang mau memperbaiki masa depan kamu ." Lirih Dimas. Ada rasa sedikit kehilangan. Perlahan Dimas membuka kamar dimana biasanya Gea menginap.
" Apa-apaan si Gea itu..." Dimas terkejut ketika dia membuka pintu kamar. Banyaknya tulisan tertempel di dinding kamar berisikan tulisan tangan. Bahkan ada beberapa Foto Leo disana.
( AKU BENCI CINTA) sebuah foto terpajang di dinding dengan bertuliskan kekecewaan.
" Apa ini..." Dimas meraih sebuah kertas.
__ADS_1
" Ternyata keinginannya begitu kuat." Setelah puas membaca tulisan tersebut, Dimas duduk di tepi ranjang.