Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 100


__ADS_3

Alio mengarahkan pandangannya ke Lay lalu berkata.


"Ini tak ada hubungannya dengan wanita itu!" tegas Alio.


Saat Lay membahas wanita itu, Alio pun teringat dengan kencan buta Olivia. Lalu, Alio mengerutkan keningnya.


"Bagaimana mungkin, kau bilang wanita itu tidak ada hubungannya!? Nona Olivia adalah obat penghilang rasa sakitmu!"


"Metode penghilang rasa sakitmu sudah memperluas wawasanku. Terima kasih!" seru Dr. Lay dengan makna yang dalam.


Arnold yang berada di samping mereka, tak tahu dan tak mengerti tentang obat penghilang rasa sakit yang di maksud, jadi ia bertanya.


"Apakah ada metode penghilang rasa sakit yang kamu tidak ketahui, Kak Lay?"


"Mencium adalah obat penghilang rasa sakit, apakah kamu melihatnya?" Dr. Lay bertanya sambil menatap Arnold.


"Diam!" teriak Alio dengan dingin. "Jika kau masih mengatakan satu kata lagi tentang hal itu, keluar dari sini!"


"Oke, perban selesai." Dr. Lay tersenyum dan tak melanjutkan.


Ejekan untuk Alio sudah cukup.


Arnold bertanya. "Sudah larut malam sekarang, apakah Kak Lay akan menginap disini?"


Alio berpikir sejenak. "Tidak, pulanglah!"


"..."


Dr. Lay mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


Alio sudah berubah, biasanya ia pulang ke mansion Alio Wilson tak lebih dari sebulan sekali sebelumnya. Pria itu sangat sibuk dan biasanya ia akan beristirahat di istana putih Presiden.


Tapi, sekarang … Alio lebih sering pulang ke mansionnya.


Apakah itu karena Alio memiliki seorang putra di mansionnya atau karena ada wanita lain disana?


...—oOo—...


Olivia membawa pakaiannya ke ruang cuci meskipun para maid akan membantunya, ia masih mencoba untuk melakukannya sendiri.


Cepat atau lambat, Olivia akan pindah dari rumah ini, jadi ia tak membiarkan dirinya beradaptasi dan terbiasa dengan semua kemewahan yang ada di sini.


Olivia berjalan keluar dari ruangan, saat ia melihat situasi di bawah, ia mengerti kalau Pak Presiden akan segera pulang.


Sambil memikirkan itu, Olivia kembali ke ruang cuci.


"Pak Presiden!"


Sebas langsung melangkah maju menghampiri Alio dan mengambil jas yang pria itu serahkan padanya.


"Apakah Anda sudah makan?" tanya Sebas kemudian.


Alio menggeleng. "Belum."


"Chef sudah menyiapkan makanan untuk Anda, silakan datang ke ruang makan dan tunggu sebentar."


"Apa menunya?"


Sebas melaporkan menu, saat Alio mendengarkan, alisnya sedikit mengernyit.

__ADS_1


Terlalu bosan dan Alio tak memiliki nafsu makan.


"Olivia!"


Saat Olivia hendak memasuki kamarnya, ia dihentikan oleh panggilan Alio.


Olivia agak terkejut dan menatap pria itu di lantai bawah.


"Aku lapar dan ingin makan bubur!" ucap Alio di lantai bawah.


Jadi, pria itu ingin aku memasak untuknya?


"Pak Presiden ingin makan bubur, cepat siapkan dan sajikan untuknya!" perintah Sebas pada para maid.


Alio langsung menghentikan para maid dengan melambaikan tangannya, pria itu hanya menatap Olivia. "Turun!"


...—oOo—...


Olivia merasa bahwa ia memang tak bisa mengabaikan Alio, ia bisa saja menolak pria itu, mau pria itu lapar atau tidak, itu tak ada hubungannya sama sekali dengannya.


Selain itu, Olivia juga mengingatkan dirinya lebih awal untuk menjaga jarak dari Alio.


Namun, saat Olivia ingin menolak, ia menggigit mulutnya.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2