Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 264


__ADS_3

"Nah, apa yang seharusnya Mama lakukan?" tanya Olivia sambil berjongkok.


"Menangis," jawab Olvi dengan semangat. "Terakhir kali Mama terluka, Papa terlihat sangat tertekan. Aku rasa Papa lebih khawatir daripada aku!"


Olivia terkejut sedikit dan menatap Alio, kemudian tanpa sadar tersenyum. Sampai sekarang, ia masih tak bisa melupakan adegan ketika Alio tiba-tiba muncul dan menyelamatkannya.


Olivia tersenyum dan kembali menatap wajah putranya dengan gemas, ia merasa bahwa Olvi adalah anak yang cerdas. "Kalau begitu, aku akan mencobanya nanti."


...—oOo—...


Sopir mengantarkan mereka ke mobil Alio.


Untuk mencegah Alio membawa Olvi pulang, ketika mereka masuk ke dalam mobil, Olvi segera berpura-pura tidur. Namun, ketika ia berpura-pura tertidur, ia akhirnya benar-benar tertidur.


Mobil Alio melaju dengan cepat dan tak terasa, mereka sudah tiba di apartemen Olivia.


"Olvi..." bisik Olivia pelan, namun ia tak tahu bahwa Olvi benar-benar tertidur.


Karena Olvi tak bangun-bangun, Olivia segera menyadari bahwa putranya benar-benar tertidur.


Olivia terkejut ketika Alio mengikutinya saat ia membawa Olvi keluar dari mobil.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara, Alio berjalan menuju lift sambil melempar pandang ke Olivia. "Bagaimana tanganmu yang terkilir? Sudah baik-baik saja?"


"Kadang-kadang masih terasa sedikit sakit," jawab Olivia sambil mengusap pergelangan tangannya.


"Apakah kau masih sanggup menggendongnya?" tanya Alio sambil melirik Olvi kemudian menatap Olivia. "Kedepannya, biarkan dia berjalan sendiri, dia sudah besar dan semakin hari semakin berat."


Alio menghela nafas lalu menambahkan. "Biar aku yang menggendongnya."


Olivia tak memiliki pilihan selain menyerahkan Olvi karena permintaan Alio. Meskipun nada bicaranya terkesan sombong, Olivia merasa nyaman dengan perhatian Alio.


Olivia mengangguk setuju. "Oke, aku mengerti. Olvi masih bisa memelukku untuk saat ini. Tapi saat anak itu tumbuh dewasa, aku pikir dia tidak akan membiarkan aku melakukan itu lagi."


Alio menatap ke samping, dari sudut pandangnya, hanya wajah lembut dan cantik Olivia yang bisa terlihat.


Ketulusan hati Olivia terlihat jelas pada pandangan mata Alio. Keduanya memasuki lift berdampingan. Di bawah cahaya terang di dalam lift, kulit Olivia yang bening terlihat sangat jelas.


"Olvi selalu ingin cepat tumbuh dewasa, terutama karena dia anak laki-laki, jadi jangan terlalu memikirkannya," ucap Alio dengan suara yang pelan.


Olivia melirik Alio lalu tersenyum, berusaha semampunya untuk menyembunyikan kesedihannya dari Alio. "Ketika Olvi dewasa nanti, dia akan memiliki kehidupnya sendiri. Dan aku harus memiliki kehidupku sendiri juga di masa depan."


Mendengarkan perkataan Olivia, Alio menatap mata Olivia lebih dalam dan bertanya "Kehidupan seperti apa yang kau inginkan?"

__ADS_1


Namun, Olivia tak memberikan jawaban apapun.


Apa yang sebenarnya diinginkan Olivia dalam hidupnya? Dahulu, hidupnya hanya berputar di sekitar Olvi. Olivia bahkan tak memikirkan masa depannya sendiri, pikirannya selalu dipenuhi oleh kekhawatiran tentang masa depan Olvi.


Namun sekarang, Alio muncul dalam hidup mereka.


Kehadiran Alio membuat Olivia merasa lega. Kini, ia tak perlu terlalu khawatir lagi tentang Olvi. Namun, kini Olivia merasa ada kehampaan dalam hatinya.


Mampukah Olivia mengambil langkah untuk mencari kebahagiaannya sendiri, tanpa harus memprioritaskan masa depan Olvi?


"Aku belum memikirkannya. Aku akan membicarakannya dengan Olvi ketika ia sudah dewasa," ucap Olivia dengan suara yang pelan sambil terus tersenyum.


Alio menyadari bahwa wanita itu berusaha keras untuk menahan tangisnya.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~

__ADS_1


__ADS_2