Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 234


__ADS_3

"Jangan biarkan dia makan apapun dalam beberapa jam. Jika dia haus, teteskan air ke bibirnya," ucap dokter Lay memberitahu Olivia.


Olivia mengangguk, bahkan jika ada staf medis, Olivia bersikeras merawat putranya sendiri.


Lalu Alio menyuruh semua orang untuk keluar. 


Hanya ada mereka bertiga yang tersisa di ruangan, Olivia duduk di tepi tempat tidur putranya dan kemudian meneteskan air ke bibirnya putranya perlahan-lahan dengan kapas. 


Alio menyaksikan adegan itu sambil duduk di sofa. 


Perlakuan keibuan Olivia menyentuh hati pria itu.


Olivia memang seorang ibu yang hebat.


Tapi jika Alio membiarkan anak itu tinggal bersama Olivia, tak ada alasan yang tepat baginya untuk mengunjunginya.


Alio mulai merasa itu baik bahwa mereka tak berhasil di perpustakaan tadi. 


Tapi Alio yakin bahwa suatu hari, Olivia akan menyerahkan diri padanya dengan sukarela.


"Apakah kamu sibuk besok?"


Tiba-tiba Olivia memecah keheningan saat Alio memikirkannya.


Alio tersadar dari pikirannya dan menjawab. "Ya," singkat, padat, dan jelas.


Pria itu tak pernah memiliki hari yang tak sibuk.


"Istirahatlah sebentar!" Olivia mengambil selimut dari lemari. 

__ADS_1


Kamar rawat Olvi mewa, jauh lebih bagus daripada apartemen tempat Olivia tinggal.


Selimutnya masih baru dan memiliki aroma yang harum.


Olivia berjalan ke arah Alio dengan selimut di tangannya. "Sudah pukul 3 pagi sekarang, tidurlah selama beberapa jam!"


Alio berdiri dan menatap mata Olivia dengan lembut. "Bagaimana denganmu?"


Mereka sangat dekat, jarak di antara mereka hanyalah selimut di pelukan Olivia. 


Olivia bisa mencium aroma menyegarkan Alio yang mengingatkannya pada ciuman di ruang baca. 


Wanita itu tersipu dan pipinya memerah, Olivia berusaha menghindari tatapannya. "Aku akan tidur dengan Olvi, aku akan merawatnya."


Alio tak mengatakan apa-apa lagi dan mengambil selimut itu, Olivia hendak berbalik tapi tiba-tiba ia ditarik ke arah pria itu. 


Alio menarik Olivia ke dalam pelukannya, wanita itu terkejut dan tanpa sadar meletakkan tangannya di pundaknya. 


Mata Alio menatap ke arah Olivia, Olivia merasa haus dan menjilat bibirnya. 


Tiba-tiba Alio mencium bibir Olivia.


Kali ini ciuman Alio lembut dan dalam, tak seperti ciuman agresif di perpustakaan. 


Bibir Alio menempel di bibir Olivia dan tangan pria itu memegang pinggang Olivia dan memeluknya erat-erat.


Olivia kehilangan kendali atas dirinya sendiri, tangannya mencengkeram ujung kemeja pria itu. 


Gairah di mata Olivia belum reda ketika Alio melepaskannya.

__ADS_1


Alio tersenyum pada Olivia dengan mata berbinar. "Ah, sepertinya aku bukan satu-satunya yang merasa bernafsu di perpustakaan tadi."


Mendengar itu, Olivia merasa malu.


"Aku tidak menyesali itu!" Olivia menolak untuk mengakui. "Kamu yang menyesal."


"Itu benar, aku menyesal." Alio langsung mengakuinya.


"..." Olivia tak pernah berpikir Alio akan menjawab seperti itu. "Kamu tidurlah sekarang!"


Alio masih memegang tangan Olivia dan menatap mata wanita itu. "Aku akan terbang ke Swiss besok pagi jam 8:15 dan aku tidak akan pulang dalam seminggu, jaga Olvi untukku."


Seminggu ...


Itu berarti Olivia hanya bisa melihat Alio di TV dalam seminggu, Olivia berpikir itu mungkin kesempatan bagus baginya untuk tenang. "Jangan khawatir, aku akan menjaganya. Cepat tidurlah sekarang! Kamu harus bangun pagi besok."


"Tentu saja," ucap Alio dengan suara lembut. "Tetap bersama anak itu di mansion selama beberapa hari. Jangan pulang ke apartemenmu kalau-kalau Olvi sakit lagi, oke?"


"Baiklah."


Alio tersenyum. "Jika kau terus mendengarkan aku, maka aku tidak akan kehilangan kesabaran."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)


Thankyou so much and see you next part~

__ADS_1


__ADS_2