Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 332


__ADS_3

Alio mengambil buku catatan pekerjaan rumah putranya dan membaliknya. "Aku di sini untuk memeriksa pekerjaan rumahmu."


"Tidak perlu khawatir, Papa biasanya tidak seperti ini, aku tahu Papa sangat sibuk. Biasanya Mama dan Kepala Pelayan akan memeriksanya untukku. Dan guruku bilang kalau pekerjaan rumahku sangat baik," jelas Olvi lalu mengambil buku itu dari Alio.


Alio agak kesal dan melemparkan handphonenya ke atas meja hingga membuat Olvi menatapnya.


"Telpon dia!" perintah Alio.


"Siapa yang harus ditelpon?" tanya Olvi bingung.


Alio berkata. "Bukankah kamu meminta Papa untuk menjemput Mamamu?"


Namun, Olvi menjawab dengan acuh tak acuh. "Papa tadi bilang Papa tidak akan menjemput Mama. Lagian tidak apa-apa kalau Mama tidak pulang malam ini, aku bisa bertemu Mama besok. Selain itu, aku tidak perlu mencari Mama."


Olvi sambil memegang pensil dan pura-pura menulis di bukunya.


Alio merasa tak mungkin menipu anak ini, jadi ia memutuskan untuk mengubah rencananya menjadi rencana B.


"Baiklah, jika kamu tidak ingin menelponnya, tidak perlu kamu lakukan. Namun, Papa akan segera menikah dengan wanita lain. Ketika itu terjadi, kamu bisa memanggil wanita itu sebagai Mamamu, bukan lagi Olivia," ujar Alio dengan suara dingin saat ia berdiri.


Olvi segera meletakkan pensilnya dan menatap tajam ke arah Alio. Namun, beberapa detik kemudian, ia mengambil handphone dengan patuh.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, telponnya berhasil terhubung. Alio tak tahu apa yang terjadi di seberang sana, tapi Olvi terdengar panik ketika ia bertanya. "Mama, apakah Mama baik-baik saja? Tadi Mama bertemu dengan Mami Rena untuk makan, kenapa Mama sekarang berada di rumah sakit?"


Alio mengerutkan kening, menunggu penjelasan dari seberang sana, namun kekhawatiran yang dirasakannya membuatnya tak sabar menunggu.


Tanpa ragu, Alio merebut handphone dari tangan Olvi.


"Apa yang terjadi?" tanya Alio dengan suara rendah.


Di sisi lain, Olivia terkejut mendengar suara Alio yang tiba-tiba muncul.


Setelah menghela napas sejenak, ia dengan lembut menjawab. "Jangan khawatir denganku! Aku baik-baik saja. Aku hanya di sini untuk memberikan transfusi darah."


Alio hanya bisa mengucapkan "Um" sebagai tanggapan.


Olvi memandang Alio dengan rasa cemas, namun kemudian tangan Alio menepuk pelan pundak kecil Olvi. "Tidak apa-apa, itu hanya transfusi darah untuk orang lain," ucap Alio menenangkan.


Olvi merasa lega mendengarnya.


"Sekarang, kerjakan PR-mu!" perintah Alio sambil mengetuk meja, memberikan instruksi pada Olvi.


Tanpa menunggu lama, Alio langsung meninggalkan ruangan.

__ADS_1


Olvi terdiam setelah menyadari bahwa dirinya hanya dimanfaatkan oleh ayahnya. Rasa kesal menyelimuti anak itu karena setelah Alio memanfaatkannya, ayahnya pergi begitu saja tanpa peduli padanya.


Alio keluar dari kamar putranya dan membuka pintu, pria itu kemudian berbicara lagi di telepon. "Putramu meminta aku untuk menjemputmu. Bisakah kita bicara besok? Sudah terlalu malam sekarang dan perjalanan ke kediaman Presiden akan memakan waktu dua jam bolak-balik."


"Olivia!"


Panggilan suara Lucas terdengar di telepon memanggil wanita itu.


"Lucas?" Alio dengan cepat mengenali suara pria itu.


"Nyonya Obella sakit dan membutuhkan transfusi darah, jadi aku dan Lucas baru saja bertemu di sini."


Oliva merasa bahwa kata-katanya terdengar seperti penjelasan, meskipun ia tak tahu mengapa ia harus menjelaskan hal itu kepada Alio.


- Bersambung -


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2