
Selama beberapa saat hanya ada satu kalimat yang melekat di benak Olivia 'Aku lapar' ucapan Alio terdengar menyedihkan dan membuat pria itu tampak seperti anak yang terlantar, benar-benar mengganggu hati nurani Olivia.
Benar, Alio melewatkan makan hanya untuk berurusan dengan urusan negara.
Kasus baru-baru ini tentang ledakan Istana putih Presiden harus ditangani dengan serius dan sungguh-sungguh untuk menenangkan masyarakat, maka akan dibutuhkan banyak upaya untuk menyelidiki. Untungnya, Alio melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.
Olivia menghela nafas dan menyerahkan pakaian di tangannya kepada maid yang datang padanya.
Wanita itu berjalan langsung ke dapur, sementara Alio pergi ke atas untuk mandi, mereka berdua berpapasan, tapi Alio tak memandang Olivia sedikitpun.
Selama beberapa hari terakhir, pria itu antara tak bersemangat atau acuh tak acuh pada Olivia, tapi Alio masih terlihat tak bersahabat.
Olivia sudah terbiasa dengan hal itu.
Wanita itu mengambil bahan-bahan segar dari kulkas, lalu seorang maid senior datang menghampirinya dan bertanya. "Apakah Anda perlu bantuan?"
Olivia menggelengkan kepalanya dan menolak sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, terimakasih."
__ADS_1
Maid senior itu berkomentar. "Saya benar-benar tidak tahu sejak kapan Pak Presiden suka makan makanan seperti ini. Dulu dia sangat pemilih soal makanan dan tidak akan pernah menyentuh makanan seperti ini."
"Mungkin karena dorongan hati," sahut Olivia.
Maid senior itu mengangguk, lalu mengambil pena untuk menuliskan menu makan Pak Presiden dengan hati-hati. Seperti bahan-bahan bubur yang akan sering disiapkan di dalam kulkas.
Setelah beberapa saat Olivia selesai memasak bubur, Alio Wilson turun tak lama kemudian.
Saat Olivia membawa bubur ke ruang makan, Alio duduk disana sambil membaca sesuatu yang Olivia tak bisa mengerti, sepertinya itu adalah dokumen dalam bahasa Arab.
Alio baru saja mandi, jadi rambut hitamnya masih sedikit basah, pria itu mengenakan piyama putih yang menutupi luka-lukanya.
Olivia berjalan ke arah pria itu, meletakkan bubur di atas meja makan dan mulai menyajikannya.
Meski ragu-ragu, Olivia tak lupa mengingatkan Alio. "Kamu masih belum sepenuhnya pulih, jadi makan yang banyak!"
"Hm." Alio meletakkan file di tangannya. Kemudian pria itu mengambil sendok dan mencicipi bubur buatan Olivia.
__ADS_1
Alio hanya pernah makan bubur ayam beberapa kali dalam hidupnya, jadi itu masih pengalaman baru baginya. Apalagi masakan Olivia sangat enak, jadi selera makan pria itu perlahan mulai membaik.
Melihat Alio makan dengan lahap dan penuh semangat tanpa pilih-pilih, Olivia merasa lega. "Selamat menikmati, aku akan kembali ke atas."
Usai mengatakan itu, Olivia hendak beranjak pergi. sementara Alio melirik wanita itu. "Kau tidak punya sesuatu yang istimewa untuk dikatakan kepadaku?"
"Ah?" Olivia berbalik.
Kata-kata Alio yang tiba-tiba membuatnya agak bingung, pria itu menikmati bubur buatannya dengan gerakan yang sangat elegan.
Alio menatap Olivia. "Kau bilang padaku kalau kau ingin berterima kasih padaku untuk sesuatu tadi malam, tapi kau berhenti berbicara saat itu. Maksud kau apa?"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~