
Ketika Alio kembali ke kamar, tim medis dan dokter Lay sudah pergi.
Olivia tidur dengan gelisah, wanita itu berkeringat setiap saat, maid yang berada di sana menyeka keringat Olivia dengan lembut.
Olvi berbaring di samping Olivia sambil menatap wanita itu tanpa berkedip, alisnya yang kecil berkerut khawatir.
Ketika anak itu melihat Alio masuk, sepertinya ia lega karena bisa melampiaskan perasaan sedihnya, Olvi berlari ke arah pria itu dan tangannya yang kecil melingkari kaki Alio hingga wajah kecil Olvi tenggelam diantara kedua kaki pria itu.
Air mata anak itu mengalir keluar dari matanya dan langsung membasahi celana Alio.
"Jangan menangis!" nada bicara alio serius. "Pria sejati tidak akan menangis dalam keadaan apapun."
"Tapi, aku sangat khawatir dengan Mama." Olvi mencoba menahan air matanya, tapi anak itu tak bisa melakukannya.
Alio berjongkok untuk melihat putranya yang kecil itu.
"Percayalah, dokter Lay bilang ... Mamamu akan baik-baik saja, setelah istirahat malam ini, dia akan lebih baik besok."
"Benarkah? Papa tidak berbohong, kan? Mama kesakitan, aku tahu itu, sakit..."
Alio melihat kearah Olivia, lalu dia menyentuh kepala Olvi dengan lembut. "Tentu saja Mamamu akan membaik, jadi jangan menangis lagi! Jika kamu benar-benar menyayangi dan mengkhawatirkan Mamamu, sekarang kembalilah ke kamarmu dan tidur! Jika dia tahu kamu tidur tengah malam begini ... itu sangat tidak baik untuk pemulihannya.
__ADS_1
"Tapi jika aku pergi sekarang, tidak ada yang akan merawat dan menjaga Mama. "
Alio tak mengatakan apa-apa, tapi hanya menggendong dan mengantar anak itu kembali ke kamar anak-anak.
Setelah menenangkan anak itu, Alio kembali ke kamar Olivia.
Alio menyuruh semua maid pergi sehingga menyisakan Alio dan Olivia di kamar.
Olivia mengenakan piyama dan berbaring di atas tempat tidur, wanita itu tampak sangat gelisah, tangannya di atas selimut bergerak tak tenang, Alio memperhatikan itu dan menggenggam tangan Olivia dengan lembut, ia memberikan kehangatan dan kegelisahan wanita itu perlahan mereda.
Karena pelukannya yang tiba-tiba, membuat Alio sedikit terkejut.
Alio menghela nafas dan hanya membalas pelukan Olivia sambil memejamkan matanya.
Alio tersenyum, malam yang damai menjadi saksi sejarah dari salah satu kebahagiaannya.
...—oOo—...
__ADS_1
Keesokan harinya...
Ketika Olivia bangun di pagi hari, ia melihat hanya ada dirinya sendiri di tempat tidur dan tak ada orang di sekitarnya.
Olivia menatap hampa samping tempat tidurnya yang kosong, hanya merasa bahwa adegan memeluk Alio tadi malam mungkin itu hanyalah mimpinya.
Tapi, ketika Olivia mengulurkan tangan dan menyentuh tempat tidur itu, ia masih merasakan hangat di sana, bagian tempat tidur yang meninggalkan suhu tubuh Alio.
"Syukurlah Nyonya sudah bangun."
Seorang maid berucap dengan ekspresi lega usai mendorong pintu masuk dan melihat Olivia bangun.
"Hmm." Olivia merasakan sakit di wajahnya, ia mengulurkan tangan dan menyentuh bagian wajah yang sakit masih bengkak.
Olivia juga merasakan kesakitan ketika ia mengangkat tangan, ia teringat saat berhadapan dengan para pria kemarin, mereka tak punya hati dan belas kasihan padanya, mereka terus melakukan kekerasan fisik padanya.
"Nyonya, tolong pelan-pelan. Ketika saya memandikan Anda tadi malam, Saya melihat bahwa Anda mendapatkan banyak luka."
Maid itu membungkuk dan membantu Olivia bangun dengan menambahkan bantal di belakang kepalanya. "Hati-hati, saya sudah menyiapkan sarapan untuk Anda dan kemudian akan memberi obat pada luka Anda ketika sudah selesai sarapan."
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~