
"Kamu tidak mengerti." Olivia menjelaskan kepada pria itu. "Merek ini lembut dan cocok untuk pakaian anak-anak, aku khawatir merek lain akan melukai kulit Olvi."
Olivia terlihat sangat lembut ketika berbicara tentang anak-anak, ia bahkan meminta Olvi mengendus deterjen dan bertanya apakah anak itu menyukai aromanya.
Alio bisa melihat senyum lembut di wajah Olivia, lampu-lampu di tempat belanja mencerahkan penglihatan pria itu dan Olivia tampak lebih cantik.
Alio merasa detak jantungnya semakin cepat karena ia hanya melihat ke arah Oliva.
Kemudian, Alio langsung memalingkan wajahnya saat tersadar.
Olivia memasukkan lima botol deterjen pilihannya ke dalam keranjang, lalu berdiri.
Namun, karena barang belanjaan Olivia sudah banyak, keranjang yang ia bawa pun mulai terasa berat.
Melihat Olivia yang terlihat keberatan saat membawa keranjang, tanpa sadar tangan Alio bergerak mengambil alih keranjang tersebut dari tangan Olivia.
Olivia tak menolak bantuan Alio dan ia malah tak menyangka kalau seorang Alio Wilson akan jalan-jalan di tempat ini sambil menenteng keranjang.
Alio tak terlihat seperti pria bajingan yang selama ini Olivia kenal.
__ADS_1
Terlepas dari statusnya sebagai seorang Presiden ataupun kepribadiannya yang dingin, saat ini Alio terlihat lebih seperti pria normal.
"Apa yang sedang kau lihat?" tanya Alio dengan tatapan dingin pada Olivia.
"Saya sedang melihat Anda, Pak Presiden yang terhormat," jawab Olivia jujur dengan sangat sopan dan hampir tak bisa berkata-kata saat tertangkap basah oleh Alio.
"Saya masih tidak menyangka mengapa orang sibuk seperti Anda ini meluangkan waktu Anda yang sangat berharga itu dan berbelanja bersama kami?" lanjut Olivia bertanya sambil menyindir.
Setelah mendengar itu, Alio hanya tersenyum samar lalu beralasan. "Bisa dibilang kalau aku ini sedang mengamati BAGAIMANA kondisi kehidupan rakyatku secara diam-diam," jelas Alio.
"Baik, silahkan lanjutkan pekerjaan Anda yang sedang mengamati 'BAGAIMANA kondisi rakyat Anda secara diam-diam…," balas Olivia sopan mengiyakan perkataan Alio.
Lalu, Olivia berjalan ke area piyama, diikuti oleh Alio dan juga Olvi di belakangnya.
"Sayang, apakah kamu menyukai piyama ini?" tanya Olivia lalu tersenyum hangat setelah ia memberikan beberapa lembar piyama.
"Ini bagus, aku suka!" jawab Olvi yang sangat senang.
"Papa, piyama-piyama ini akan cocok untukku, kan?" tanya Olvi menatap ke arah Alio.
__ADS_1
Sekarang, Alio sedang memperhatikan pasangan muda yang sedang memilih piyama.
Sang istri memilih piyama untuk suaminya sebagai hadiah.
Alio tak menjawab pertanyaan sang putra, lalu ia pun tiba-tiba berbalik dan bertanya pada Olivia. "Dimana hadiahku?"
"Hadiah apa?" tanya Olivia balik dengan ekspresi bingung.
"Hadiah ulang tahunku!" seru Alio yang masih kesal saat membicarakan hari ulang tahunnya dan Olivia tak tahu kalau Alio masih memikirkan hadiah ulang tahunnya.
"A-aku t-tidak punya hadiah untukmu," jawab Olivia gugup.
Setelah Alio mendengar itu, ia hanya melirik Olivia dengan tatapan dingin lalu berjalan pergi.
"Mama, apa aku bilang? Papa pasti akan marah, kan?" tanya Olvi sambil berbisik.
— Bersambung —
***
__ADS_1
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
Thankyou so much and see you next part~