
Sebelum Olivia bisa menghindar, seseorang sudah meraih lengan dan menjambak rambutnya, sementara orang lain melayangkan tangan ingin menampar wajah Olivia.
Pada saat itu, pintu ruangan tersebut tiba-tiba diterobos oleh seseorang dari luar. Sebelum semua orang bisa melihat dengan jelas, seorang pria berjas formal masuk dan mendorong wanita-wanita liar itu.
"Ahhh!"
Wanita-wanita yang menyerang Olivia terhuyung-huyung sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
Segera setelah itu, beberapa pria lain yang mengenakan pakaian hitam masuk ke dalam ruangan dan berdiri di dekat pintu.
Mereka memiliki aura yang menakutkan. Jesi yang melihat situasi itu merasa agak gugup di dalam hatinya. Apa-apaan ini?! Mereka bukan orang-orang dari Presiden, kan?
"Nyonya Olivia, apakah Anda baik-baik saja?" tanya pria yang memimpin pasukan itu tampak khawatir usai mengamati keadaan Olivia.
Olivia baru saja tersadar. Di sini datang orang-orang bawahan Arnold, dia adalah Ken.
"Aku baik-baik saja. Itu ... mengapa kalian bisa ada di sini?" Olivia terengah-engah, mencoba untuk tetap tenang. "Tapi baguslah, kalian tepat waktu! Jika kalian terlambat sedikit, mungkin aku benar-benar akan dihajar oleh mereka."
__ADS_1
"Tuan tahu bahwa hari ini Anda akan menemui seseorang disini, jadi dia memerintahkan kami untuk menunggu di sini sejak pagi-pagi sekali," jelas Ken.
Ternyata itu perintah, Olivia seharusnya sudah memperkirakannya.
"Nyonya Olivia, siapa yang menjambak rambut Anda tadi?" tanya Ken dengan suara yang lebih dingin.
Sebenarnya, Olivia juga tak tahu siapa yang menyeret dirinya dan menjambak rambutnya. Karena suasana saat itu kacau dan barusan Olivia di keroyok, jadi ia tak melihat dengan jelas.
Namun, seorang wanita bangkit dari lantai sendirian dan dengan marah berseru. "Aku yang menjambaknya! Ada masalah apa? Apa yang bisa kau lakukan padaku? Aku peringatkan, kau telah membuat masalah besar hari ini! Kau mendorongku, apakah kau tahu siapa aku?"
Ken tersenyum sinis. "Sejujurnya, saya tidak tahu siapa Anda. Apakah Anda orang penting?"
Ketika wanita itu menyebut-nyebut suaminya, dia cukup bangga.
Terlihat jelas bahwa dia sering menggunakan status ini untuk memperlihatkan kekuasaannya.
Olivia tahu siapa Tuan Glen itu. Dia adalah seorang pejabat dan pengusaha.
__ADS_1
"Aku beritahu padamu, wanita yang baru saja kau dorong adalah istri Tuan Glen. Bahkan sekarang Wali Kota Stein harus memberi sedikit penghormatan kepada mereka. Apa statusmu di sini? Kau telah menyinggung istri dari orang penting!" ucap wanita lain sambil berdiri dari lantai.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, wanita itu berpaling dan berkata kepada Nyonya Glen di sampingnya. "Cepat hubungi suamimu dan minta dia menghukum bocah sombong ini."
"Oke, aku akan segera meneleponnya." Nyonya Glen tersenyum bangga dan mengeluarkan handphonenya untuk menelepon.
Sementara itu, Jesi sudah merasa gugup dan ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya dia tak bisa berkata apa-apa.
Jesi mencoba untuk menyelinap keluar saat kekacauan terjadi.
Namun, Ken bereaksi cepat saat melihat wanita itu mengendap-endap ingin melarikan diri.
- Bersambung -
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~