
"Lucas…," panggil Olivia membuka suaranya dengan ragu-ragu.
Olivia mencoba menarik tangannya dari tangan Lucas. "Kalau kamu mau … ayo kita lakukan sesuatu yang lain selain bermain golf, ya?"
Setajam mata Lucas, pria itu menundukkan kepalanya dan melirik Olivia, lalu pria itu melihat ke arah Pak Presiden dan yang lainnya.
Lucas berkata dengan ekspresi tak senang. "Sejak Pak Presiden muncul, kamu seperti menaruh sepenuh hatimu padanya. Bagaimana kamu bisa memperlakukanku seperti ini? Apakah aku sangat tidak menarik?"
"Omong kosong! Aku tidak menaruh hati pada Pak Presiden." Olivia membantah dengan tegas.
"Kamu … tidak?" Lucas mendengus dan kemudian ia meniru Olivia menatap Alio. "Kamu menatap Pak Presiden dengan mata bersemangat dan penuh harap untuk waktu yang lama sehingga matamu hampir copot!"
"Siapa bilang aku menatapnya? Aku tidak menatapnya!" Olivia tak ingin mengakuinya.
"Lalu siapa yang kamu lihat?" Lucas mengangkat alisnya, tampak tak percaya.
Olivia memanyunkan bibirnya dan mengangkat dagunya menunjuk seseorang. "Yang aku lihat? Aku hanya melihat translator pria yang berdiri di samping orang asing itu."
"Kamu ... tidak berbohong padaku, kan?" Lucas masih tak percaya.
"Dia adalah cinta pertamaku." Olivia menyerahkan tongkat golf kepada Lucas dan berucap dengan malu. "Tapi, kami sudah putus bertahun-tahun yang lalu. Setelah beberapa tahun, dia akan menjadi iparku."
Lucas menatap Olivia dengan simpati. "Gadis yang malang."
__ADS_1
"Jangan mengasihaniku!"
"Olivia, aku pikir dia tampaknya sangat tertarik padamu." Lucas bersandar di bahu Olivia, sepertinya pria itu tak tahu bagaimana cara berdiri dengan benar. "Lihat! Dia memelototi kita begitu aku mendekatimu."
"..." Olivia tanpa sadar menatap Yuta. Mata mereka bertemu dan yang membuat Olivia tersentak, Yuta tersenyum padanya.
Itu aneh, belum lama sejak mereka terakhir kali bertemu, tapi ... sekarang, penyesalan yang Olivia miliki karena Yuta sudah sangat banyak memudar.
Selain itu….
Pandangan Olivia otomatis tertuju pada orang lain di samping Yuta.
Alio duduk di tempat istirahat dengan tegak dan berbicara dengan Tuan Rei. Dihormati dan didukung oleh publik, aura elegan dan superior Pak Presiden bisa dirasakan dari jauh.
Jantung Olivia berdetak lebih cepat dan ia berbalik.
Selama beberapa saat, detak jantung Olivia masih tak teratur.
"Apakah kamu ingin aku mengujinya untuk kamu?" tanya Lucas tiba-tiba.
"Apa?" Olivia tak mengerti. Menguji siapa?
Lucas merentangkan kedua tangannya, meletakkannya di pinggang Olivia dan tiba-tiba memeluk wanita itu dengan erat.
__ADS_1
Merasakan itu, Olivia tertegun sejenak, menyadari kalau ia sedang dipeluk, wajahnya langsung memerah.
"Lucas, apa yang kamu lakukan?"
"Jangan bergerak!" Lucas tersenyum. "Apakah kamu tahu bagaimana ekspresi cinta pertamamu sekarang?"
"..."
"Dia terlihat sangat menyedihkan! Tapi ... ini sangat aneh. Sepertinya, Pak Presiden juga tidak senang!" jelas Lucas dengan alis mengernyit.
Olivia menggigit bibir bawahnya, tersipu malu dan mendorong Lucas menjauh. "Kamu jahat!"
Lucas tertawa. "Aku di sini untuk membantumu. Lihat, cinta pertamamu masih tertarik padamu!"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1