Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 48


__ADS_3

Astagah, mampus!


Sarapan pagi ini adalah momen yang sangat memalukan bagi Olivia.


Olivia memandang jam tangannya. "Pak presiden, saya harus berangkat kerja sekarang. Olvi sayang, Mama pergi kerja dulu, ya?"


Wanita itu berdiri dan berpamitan, kemudian meninggalkan meja makan setelah dua orang itu menyetujuinya.


Olivia pergi ke kantor dengan terburu-buru karena ada banyak pekerjaan yang menunggunya.


Lebih tepatnya, ia melarikan diri dari situasi yang memalukan itu!


Tiba-tiba handphone Olivia berdering, setelah melihat nomor yang tertera di layar handphonenya, ia langsung mengenalinya.


Yap, itu adalah nenek Olivia yang menelponnya sendiri.


"Halo, Nek. Maaf, kemarin aku lupa berpamitan sama Nenek saat pulang."


"Tidak apa-apa, tapi nenek dengar dari Julia dia bilang kamu dijemput sama orang asing tadi malam, apa itu benar, Olivia?"


Orang asing?


Apa yang dimaksud Nenek adalah bodyguardnya Alio?


Olivia tak berani memberitahu wanita tua itu. "Oh, dia bukan orang asing, Nek. Dia itu temannya Olivia."


"Yuta dan Julia bilang kalau orang itu tidak baik, Julia mengatakan yang sejujurnya pada nenek."

__ADS_1


Olivia kesal, ia tak akan pernah melupakan si pengadu itu.


"Nenek, tolong jangan percaya omongan mereka!"


"Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tahu yang sedang kamu katakan itu? Bahkan, siapa ayah dari anakmu saja kamu tidak tahu! Olivia hidupmu kacau, berhenti bermain-main! Jangan membuat masalah keluarga kita semakin membesar!"


Olivia menggigit bibirnya dan tak mengatakan apa-apa lagi.


"Nenek sudah membuatkanmu janji temu dengan seorang pria beberapa hari lagi dan sudah mencarikan pasangan yang baik untukmu. Pria itu tidak keberatan dengan keadaanmu karena dia juga sudah punya anak. Bagaimanapun juga, kamu harus pergi dan menemui pria itu!"


"Tapi Nek—" Olivia ingin protes.


Namun, wanita tua itu langsung memotongnya. "Tidak ada penolakan!"


Kemudian, wanita tua itu langsung menutup sambungan telepon tanpa memberi Olivia kesempatan untuk mengatakan keputusannya.


Istana Presiden.


Sinar matahari menembus awan dan cahaya terang menyelimuti bumi.


Di depan gerbang emas yang megah, semua tentara istana berbaris rapi tampak penuh semangat dan hormat yang mengesankan.


Melawan matahari terbit, bendera kebanggaan negara segera naik.


Pagi-pagi sekali Alio bangun dan berdiri di istana Presiden dengan rakyatnya dan ia merasa semuanya tampak damai.


Di luar istana, orang-orang melihat ke atas bendera dan memandangnya dengan hormat.

__ADS_1


Semua orang bergegas ke istana Presiden dengan penuh semangat karena ingin melihat lebih dekat Presiden baru mereka.


Para tentara istana menahan massa dan menyuruh mereka untuk menjaga jarak.


Akhirnya, bendera itu di tarik sampai atas.


Alio menjadi sangat populer meskipun dia baru saja menjabat sebagai Presiden.


Apalagi berhasil mengalahkan calon kandidat Presiden yang sangat kuat dan juga merupakan Presiden termuda yang pernah ada dalam sejarah negara.


Alio berdiri tegak saat menyapa dan tersenyum kepada rakyatnya dari kejauhan.


Dia selalu tenang dan responsif dengan gerakan yang paling elegan untuk menanggapi rakyatnya.


Alio menikmati kesenangan karena diberikan kekuasaan tertinggi saat ini kepadanya. Namun, pada saat yang sama ia juga memikul tanggung jawab yang besar dan juga sangat berbahaya.


Tak lama kemudian, seorang tentara istana mendekatinya dan berkata dengan suara pelan. "Pak Presiden, Wakil Presiden Dion ada di sini."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2