Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 362


__ADS_3

Sekarang tidak ada bukti yang menunjukkan kalau wanita yang bersama Presiden Alio itu bukan Nona Scarlett? Bahkan Nona Scarlett sendiri tidak mengeluarkan pernyataan resmi, jadi kalian tidak usah ikutan berkomentar asal-asalan.


Apapun yang terjadi, aku benar-benar kecewa sama Presiden Alio. Next time, aku pasti tidak akan nyoblos buat si dia lagi!


Dari awal aku lebih condong ke Hansel Taylor sih, sekarang makin mantap pilihan aku.


Tapi kalian jangan lupa bahwa selama masa kepemimpinan Presiden Alio ini, prestasi politik, ekspansi kekuatan militer, dan kemajuan ekonomi melesat jauh berkat kerja kerasnya, ini benar-benar belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah! Keberhasilan lebih besar daripada kekurangannya, kan?


Hei! Kalau negara ini dipimpin oleh Presiden Hansel Taylor atau si Wakil Presiden Scarlett, pasti juga akan mencapai prestasi yang sama!


Presiden Alio dan juga Calon Presiden Hansel Taylor mempunyai kekutan politik yang sama!


Di dunia maya, semuanya berantakan.


Alio tak melanjutkan membaca komentar dan melemparkan iPad itu kembali ke Arnold dengan wajah dingin.


"Siapa dalang di balik samua ini?" tanya Alio dengan suara rendah yang muram.


"Sudah diperiksa, itu adalah ... Perdana menteri Hansel Taylor."


Alio menganggukkan kepala dengan sedikit ekspresi—pria itu tak terkejut. Setelah merenung sejenak, ia berkata dengan suara serius. "Pastikan tidak ada informasi tentang Olivia yang bocor ke media! Jangan sampai hal ini merugikan dia!"

__ADS_1


"Baik, kak. Kamu tenang aja."


Sementara itu, begitu mereka selesai berbicara, handphone Arnold berdering. Sebelum pria itu bisa menjawab, telepon kantor di ruangan tersebut mulai berdering juga.


Satu perusahaan di sibukkan dengan telpon kantor yang terus mengerang dengan tak sabar.


Tok...tok...tok...


Seseorang mengetuk pintu dan David—asisten sekretaris, masuk tergesa-gesa dengan wajah yang terlihat panik. "Pak Presiden, media Sky Economic ingin mewawancarai Anda, beberapa situs web berita juga menelepon."


"Selain itu, kotak surat publik ... Dalam waktu sekejap saja, kami menerima puluhan ribu email masuk."


Sangat jelas, masalah ini berkembang pesat seperti virus yang tak bisa dikendalikan dan terus meluas dengan cepat.


Pintu itu terbuka lagi, Ken masuk dengan wajah serius sambil menatap Alio dengan tajam. "Wakil Presiden Dion Scarlett ada di sini!"


...—oOo—...


Di sisi lain, kementerian Luar Negeri.


Olivia baru saja meletakkan barang-barangnya dan pergi ke toilet.

__ADS_1


Disana, Olivia mendengar teman wanitanya berbicara. "Tante, disini masih kotor, tolong di bersihkan!"


Kemudian, Olivia tanpa sadar menoleh dan melihat sosok familiar yang dimaksud temannya.


Jesi langsung datang sambil membawa sapu dan pel, begitu melihat Olivia, ia juga kaget sejenak.


Lalu, Jesi menatap Olivia penuh kebencian yang menusuk seperti pisau, kalau pandangan mata bisa membunuh, Olivia merasa dirinya sudah mati berkali-kali.


Olivia tak berlama-lama disana, hanya melengos pergi melewati Jesi, temannya tadi juga ikut keluar sambil tertawa. "Olivia, kenapa aku merasa kamu nyakitin si tukang bersih-bersih tadi? Liat aja pandangan matanya, kayak pengen makan kamu!"


Olivia hanya tersenyum dan tak mengatakan apa-apa.


Tiba-tiba, Rena datang sambil berlari dengan wajah serius. "Olivia! Ada masalah besar!"


Olivia berhenti dan terkejut saat melihat ekspresi Rena. "Ada apa?" tanyanya penasaran.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2