
Disisi lain, pada waktu bersamaan, di dalam mansion Presiden.
Alio sudah pulang, para maid dan butler di kediaman itu bergerak dengan cepat ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Pertama, Alio pergi ke perpustakaan dan mampir ke dalam sana sebentar, ketika ia keluar dari sana hari sudah benar-benar gelap.
Di ruang makan, banyak makanan lezat yang disajikan di atas meja makan, butler dan para maid sedang berdiri menunggu kedatangan Alio.
Sementara maid lain menjemput tuan muda dari kamarnya sambil bergandengan tangan.
"Papa." Sapa Olvi.
Alio mendudukkan putranya di kursi anak-anak lalu bertanya. "Kamu ingin makan apa?"
"Hmm sebentar…" Olvi melihat-lihat makanan yang ada di atas meja.
Alio duduk di kursi utama, kemudian melihat sekeliling dan bertanya kepada Sebas. "Di mana Olivia?"
"Nyonya Olivia keluar dari pagi hari, barusan nyonya menelpon dan mengatakan bahwa dia akan pulang setelah makan malam dengan temannya," jawab Sebas menjelaskan.
"Hm," balas Alio singkat.
Olvi mencicipi sup dan tiba-tiba berkata. "Mama pergi ke kencan buta."
__ADS_1
"Apa?" Alio melirik ke arah putranya.
"Aku yakin kencan buta itu baik untuk Mama, karena Mama sangat menyedihkan. Mencintai Om Yuta yang sudah tidak menyukainya, jadi mama perlu menemukan orang yang tepat untuk menikahinya. Mama akan menemukannya, benar kan, Om?" Olvi menoleh dan melihat Sebas yang ada di belakangnya.
Sebas tersenyum. "Nyonya Olivia baik dan sangat perhatian, Nyonya akan menemukan pasangannya. Terlebih lagi, tampaknya mereka bersenang-senang karena mereka makan siang dan makan malam bersama, mungkin mereka memang akan berjodoh."
"Itulah yang aku pikirkan, Aku akan memberikan Anda souvernir pernikahan saat Mama menikah."
Alio melirik wajah tersenyum Olvi, memikirkan Olivia yang merkencan dengan sangat bahagia, ia jadi tertekan lalu berkata dengan nada rendah. "Baiklah, mari makan sekarang."
Setelah menjawab. "Oke," Olvi mulai makan.
Sebas diam-diam mengamati ekspresi wajah Alio yang sedikit berubah, namun ia tak berani berkomentar lebih banyak tentang kencan Olivia.
...—oOo—...
Ketika Lucas hendak membayar tagihan setelah makan malam, ia tampak mencari-cari sesuatu di sakunya, setelah menggeledah semua sakunya ternyata … semuanya kosong.
Sial!
Asistennya hanya meninggalkan mobil untuknya tapi tak meninggalkan uang atau debit.
Memahami rasa malu Lucas, Olivia membayar tagihan sambil tersenyum.
__ADS_1
Lucas mengikutinya dan berkata. "Aku berhutang padamu, nanti aku akan membayarmu kembali."
"Kamu tidak berhutang padaku karena kamu tidak memakan semuanya sendirian. Jadi, aku juga harus membayarnya."
"Tidak! aku tidak pernah membiarkan seorang wanita mentraktirku." Lucas menolak dan Olivia hanya tersenyum.
Mobil yang dikendarai Lucas adalah Aston Martin dan sekarang terparkir di sisi jalan sehingga menarik perhatian banyak orang.
Lucas membuka pintu penumpang depan dan berkata kepada Olivia. "Ayo, aku akan mengantarmu pulang!"
Olivia bisa merasakan tatapan iri yang dilontarkan oleh pejalan kaki. Memang benar, Lucas tak hanya tinggi dan tampan, tetapi juga sangat kaya.
Sekarang, pria itu memamerkan kekayaannya dengan terang-terangan, tak heran orang lain akan merasa sangat iri padanya.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1