
Alio menoleh ke samping, menghadap Olivia, ia melihat kekhawatiran yang dalam di mata wanita itu. "Kau khawatir denganku?"
Olivia tak menjawab, ia hanya meraih tangan Alio yang masih menyentuh pipinya, jari-jari pria itu terasa hangat sehingga membuat jantung Olivia berdetak kencang.
Namun, diam saja berarti setuju.
"Memang benar, kadang-kadang aku merasa takut."
Setelah Alio selesai mengatakan itu, ia terdiam cukup lama, napasnya yang berat terdengar hingga telinga Olivia yang membuatnya merasa sesak di dadanya.
Kemudian, Alio melanjutkan. "Hanya saja ... Aku biasanya terlalu sibuk, tidak bisa membuang banyak waktu hanya untuk takut. Ini sering terjadi dalam pertarungan politik, sebelum kamu bisa menjernihkan emosi untuk masalah ini, akan ada masalah yang lebih mengerikan muncul dan membuatmu kebingungan."
Mendengar itu, Olivia merasa sangat bingung, perasaannya campur aduk, tapi yang lebih parah, ia tak bisa melakukan apapun.
"Tadi kamu bilang ada yang bisa aku bantu?" tanya Olivia.
Alio menatap Olivia sejenak, tiba-tiba pria itu menghela nafas dengan suara pelan dan menarik Olivia hingga menabrak dadanya.
Olivia terkejut, robe yang dikenakan Alio hanya diikat dengan satu tali di pinggang, sekarang pria itu tidur dengan posisi miring sehingga dada bidangnya terekspos dengan jelas.
__ADS_1
Wajah Olivia langsung nempel di dada Alio yang seksi tanpa ada kain yang membatasi, detak jantungnya yang tak stabil dan kuat mengetuk-ngetuk gendang telinganya, hingga membakar hatinya yang paling dalam.
Suhu panas yang hanya dimiliki pria itu menyambar Olivia seperti api, membuat detak jantungnya jadi semakin kacau seketika, bahkan pikirannya pun juga ikut kacau.
Bukankah Alio bilang mau di bantu? Masa bantuannya harus memeluknya seperti ini?
Olivia menjilat bibirnya yang kering, sebelum ia hendak bertanya, tiba-tiba handphone Alio yang dilemparkan asal di atas tempat tidur tadi berbunyi sejenak.
"Handphonemu...," ucap Olivia menghela nafas lega.
Olivia asal-asalan meraba-raba di bawah badannya, wanita itu meraba-raba cukup lama sebelum akhirnya menyerahkan handphone itu pada Alio.
Itu adalah pesan dari Arnold.
Olivia tak ada niatan untuk melihat, tapi saat ia mendongak—tanpa sengaja ia melihat isi pesan itu.
Di layar handphone Alio hanya ada beberapa kata sederhana 'Bukti sudah dalam genggaman'.
Olivia tak tahu bukti apa yang dimaksud, tapi ia yakin pasti ada hubungannya dengan politik, jadi ia tak bertanya.
__ADS_1
Alio melihat pesan itu, ekspresinya jelas jadi lebih lega, lalu pria itu menghapus pesan dari Arnold dan kembali melemparkan handphonenya dengan asal ke samping.
Alio menghela nafas dan berbalik untuk memeluk Olivia lebih erat.
Alio menutup matanya, dagunya nempel di atas kepala Olivia, lalu berkata dengan suara yang terdengar seperti *******. "Malam ini tinggal di sini bersamaku, maka itu akan dianggap sebagai bantuan darimu."
"Hah?" ucap Olivia menatap Alio dengan kebingungan.
"Hah, kenapa?" balas Alio juga tak buka matanya sebab agak malas, terlihat jelas kalau pria itu benar-benar lelah. "Beberapa hari ini aku terlalu sibuk, jadi kurang tidur, mungkin ada telepon yang mengganggu pada jam 2 atau 3 tengah malam. Kalau kau menginap di sini, jika jam dua atau tiga malam aku terbangun karena ada telpon, kau bisa menemaniku mengobrol."
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1