Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 194


__ADS_3

"..." Pikiran Olvi langsung terekspos, anak itu memerah karena malu. 


Kemudian Olvi bersenandung dan berbalik untuk menghindari Papanya.


Papa benar-benar tidak asik sama sekali!


"Apakah kamu merindukan Mamamu?" tanya Alio duduk di samping tempat tidur dan mengabaikan amarahnya.


"Tentu saja aku rindu! Papa, menurut Papa apa yang sedang dilakukan Mama sekarang?" tanya Olvi semangat.


Saat berbicara tentang Olivia, anak itu segera mengatasi kemarahannya dan dan melanjutkan." Mama bilang Mama akan mengucapkan 'Selamat Ulang Tahun' kepada Papa secara langsung, tapi sekarang ini hampir jam 12 malam, sebentar lagi ulang tahun Papa akan berakhir!"


Olvi selalu menyentuh titik sensitif pria itu.


Alio memasang wajah cemberut dan melemparkan handphonenya kepada putranya.


Olvi mengambil handphone Alio sambil menatap pria itu dengan bingung. "Papa, ada apa?"


"Kamu bilang kamu merindukan Mamamu dan ingin tahu apa yang dia lakukan sekarang. Jadi, telpon saja Mamamu dan tanyakan padanya sendiri, maka kamu akan tahu."


"Oke! Aku akan menelepon Mama sekarang!" balas Olvi menekan nomor telepon yang sudah dikenalnya.

__ADS_1


Sebelum Olvi menelpon nomor Olivia, anak itu ingat sesuatu, jadi ia memutar matanya yang besar dan menatap Alio. "Papa, sebenarnya, Papa sangat merindukan Mama, kan?"


"Jangan ngawur kamu!"


"Jadi ... Papa tidak merindukan Mama?"


"Tidak, Papa tidak merindukannya!" Alio menyangkal dengan wajah masam.


"Oohh ... sebenarnya, aku tidak terlalu merindukan Mama. Lagi pula, sekarang sudah tengah malam dan Mama pasti sudah tidur. Jadi, jangan ganggu Mama!" ucap Olvi mengembalikan handphone pria itu lalu menguap malas dan menyelinap ke dalam selimut. "Papa, sebaiknya Papa juga bobo sekarang! "


Huh! Bagaimana bisa Papa tidak merindukan Mama? Papa pasti gengsi! Biarkan saja Papa mati karena merindukan Mama.


Alio mengambil handphonenya dan berdiri. "Sekarang aku akan memberikan tahu Sebas dan Arnold kalau Tuan muda tidak menginginkan mainan model terbaru dan belajar merakit senjata lagi karena sudah bosan!"


"Jangaaaan!" teriak bocah kecil itu melompat dari tempat tidur dan memegangi kaki Alio erat-erat. "Papa selalu saja mengancamku!"


"Jadi, apakah kamu akan menelepon Mamamu?" tanya Alio sambil menatap putranya. 


Jika Alio tak bisa menangani seorang anak kecil, bagaimana ia bisa menjadi pemimpin suatu negara?


Anak kecil itu memasang wajah cemberut dan mengangguk patuh. "Oke, aku akan menelepon Mama, sini berikan handphone Papa!"

__ADS_1


...—oOo—...


Olivia telah keluar selama beberapa menit, Yuta khawatir dengan Olivia saat wanita itu tampak dalam suasana hati yang buruk. 


Tapi Yuta hanya bisa berbaring di ranjang rumah sakit dan tak bisa bergerak.


Tepat saat Yuta hendak meminta perawat untuk mencari Olivia, handphone Olivia yang berada di atas nakas samping tempat tidur tiba-tiba berbunyi.


Sudah tengah malam sekarang, jadi Yuta pikir ini mungkin telpon yang mendesak, kemudian pria itu berusaha keras untuk meraih handphone dan langsung melihat layar, tiba-tiba tatapannya menjadi suram saat melihat 'Suami Masa Depan' berkedip-kedip di layar.


Siapa yang akan menjadi 'Calon Suami' Olivia? Lucas, atau ... Pak Presiden?


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2