
Olvi juga ikut berbaring kembali sambil memiringkan kepalanya, lalu anak itu tersenyum lebar saat menatap ayahnya yang masih terlihat sangat kesal.
"Papa itu nggak boleh tau, ninggalin aku sendirian gitu aja buat tidur sama Mama di kamar sebelah!" protes Olvi.
"Siapa bilang Papa mau tidur sama Mamamu, hah!?" bantah Alio, berpikir kalau anaknya itu terlalu banyak bicara.
"Kalau nggak gitu, terus Papa bangun tengah malam gini, buat apa?" tanya sang anak penasaran.
"Tak usah penasaran!" seru Alio yang langsung mematikan lampu, "ayo lanjut tidur!"
...—oOo—...
Keesokan harinya.
Sama seperti sebelum-sebelumnya, setelah Olivia bangun, Alio sudah lebih dulu pergi, sedangkan anaknya masih terlelap dalam tidurnya.
Olivia masuk ke dalam kamar Alio, lalu membangunkan anaknya dengan penuh kasih sayang.
Setelah anaknya itu bangun, Olivia memandikan anaknya, lalu mengajaknya sarapan.
__ADS_1
"Hari ini Mama mau minta cuti ke gurumu selama beberapa hari dan bagaimana kalau kita pergi mengunjungi Nenek? Apa kamu setuju?" tanya Olivia.
"Nenek?" Olvi terlihat kebingungan, "aku belum pernah bertemu dengan beliau, kan?"
"Iya benar, ini akan menjadi pertemuan pertama kamu dengan Nenek. Nenek itu adalah ibu dari ibunya Mama. Beliau tinggal di luar kota dan kemungkinan, kita akan menginap disana beberapa hari," jelas Olivia.
Olvi merasa kalau liburan itu sama serunya seperti bermain-main, pastinya akan sangat menyenangkan, lalu ia tersenyum sambil bertanya, "Ma, kita ngajak Papa juga, nggak?"
Ekspresi Olivia terlihat sangat terbebani setelah mendengar itu, mengingat kalau saat ini Alio sedang sibuk mempersiapkan pernikahannya, jadi pria itu tidak ada waktu untuk hal lain, apalagi menemani mereka liburan.
Olivia menggelengkan kepala sembari tersenyum getir. "Kamu sendiri pasti tau, kan? Kalau Papamu itu orang yang sangat sibuk. Papamu nggak mungkin punya waktu buat ikut kita ke tempat yang jauh seperti itu."
Olivia hanya tersenyum tipis, ia berusaha menyembunyikan perasaan rumit dan sedih di hatinya. Olivia tak mau anaknya itu tahu, kalau ayahnya akan menikahi wanita lain, setidaknya ia masih belum ingin membuat anaknya sedih sekarang.
Apalagi, Olivia juga tak tahu, bagaimana ia harus mengatakannya pada anaknya tentang hal yang kejam seperti itu.
Setelah sarapan, Olivia mengantar anaknya ke sekolah dan ia berhasil mendapat izin cuti selama beberapa hari dari guru anaknya.
Setelah itu, Olivia berangkat kerja ke Kementerian Luar Negeri. Sesampainya di Kementerian Luar Negeri, Olivia menyalakan komputernya dan mulai bekerja.
__ADS_1
Sekitar jam 10, semua pekerjaan Olivia selesai dan tiba-tiba, handphonenya pun berdering.
Layar menampilkan nomor yang sama sekali tidak dikenal. Tanpa pikir panjang, Olivia segera meraih handphonenya sambil jarinya terus mengetik keyboard.
"Halo, dengan siapa disana?" tanya Olivia lebih dulu, setelah mengangkat telepon tersebut.
"Mari kita bertemu…," jawab suara di seberang telepon tanpa banyak basa-basi.
Suara ini…, batin Olivia terlihat sangat terkejut setelah mendengar suara itu dan terdiam sejenak sebelum akhirnya setuju. "Baik, Anda yang tentukan tempatnya."
"Saya akan mengirim seseorang untuk menjemput Anda, Anda tunggu saja di luar," balas orang itu, lalu memutuskan sambungan teleponnya.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~