
"Berikan padaku atau tidak?" Alio menempelkan tubuhnya pada tubuh Olivia.
Meskipun Alio tak bermaksud untuk melecehkan Olivia, tapi gerakan itu sudah membuat wanita itu takut dan malu. "Minggir! Itu ... pakaianku! "
Tentu saja Alio tak bergerak, Olivia takut pria itu akan melakukan sesuatu yang bodoh hingga akhirnya ia menyerah dan menggantungkan dasi di leher pria itu.
Sekarang Alio puas dan menjauh dari tubuh Olivia.
Langkah kaki di luar mulai ramai, Olivia sangat mengkhawatirkan putranya.
Sekarang mereka berdua sudah kehilangan keinginan untuk tidur bersama.
Satu menit kemudian...
Pintu perpustakaan terbuka.
"Ada apa dengan Olvi?" tanya Alio kepada para maid dan berjalan dengan langkah cepat ke kamar Olvi..
Olivia mengikuti pria itu. "Apakah kalian sudah menghubungi dokter?"
"Tadi Tuan muda muntah dan diare, sekarang dia sedang demam. Dokter Lay bilang Tuan muda mungkin makan sesuatu yang salah dan keracunan makanan."
"Keracunan makanan? Bagaimana mungkin?'' Olivia tampak pucat setelah mendengar apa yang dialami putranya.
__ADS_1
Olivia langsung bergegas ke kamar Olvi.
Alio marah. "Bagaimana Olvi bisa keracunan makanan?"
"Kepala pelayan sedang mencari tahu penyebabnya."
"Jelaskan dan berikan aku jawabannya! Atau aku akan memecat kalian semua!"
"Baik, Tuan." Maid itu ketakutan setengah mati.
Saat Alio memasuki kamar Olvi, ia melihat putranya sedang muntah-muntah di kamar mandi.
Apalagi, saat itu Alio melihat wajah putranya yang sudah pucat pasi, seolah anak itu akan pingsan kapan saja.
Lalu, Alio pun memberikan perintah pada Arnold untuk menyiapkan mobil agar ia bisa langsung membawa Olvi ke rumah sakit.
Arnold pun langsung pergi melaksanakan perintah Kakanya.
Sedangkan Alio, ia membantu membersihkan muntah Olvi.
Alio menggendong Olvi yang sudah terlihat lemas.
"Pakai ini, diluar dingin," ucap Alio sambil menyerahkan jaket pada Olivia.
__ADS_1
"O-oh oke," balas Olivia yang terlihat bingung dan tak tahu harus berbuat apa, lalu ia pun menerima jaket pemberian Alio.
Untungnya, saat ini Alio berada di samping Olivia dan menemaninya hingga membuat Olivia merasa lebih baik dalam situasi ini, kalau tak ... Olivia tak tahu harus bagaimana lagi dengan perasaan yang campur aduk.
Olvi berada di dalam pelukan Alio, anak itu terlihat sangat kesakitan dengan mata setengah terbuka, badannya sangat panas dan air mata sudah membasahi wajahnya yang kecil.
Olivia mengikuti mereka sambil menghapus air mata sang putra, sedangkan Olvi menangis dalam diam karena rasa sakit yang tak tertahan membuatnya tak bisa mengeluh.
Alio tahu kalau saat ini Olivia sangat sedih melihat kondisi sang putra yang sangat memprihatinkan lalu ia pun mengulurkan tangannya untuk membuat Olivia lebih tenang.
Olivia sedikit terkejut saat melihat Alio mengulurkan tangannya kepadanya lalu Olivia menerima uluran tangan Alio tanpa pikir panjang dan tangan Alio yang hangat berhasil menenangkan Olivia.
Alio menggandeng tangan Olivia dan menarik wanita itu agar lebih dekat dengannya, lalu Olivia menepuk punggung Olvi dengan pelan dan lembut.
"Olvi, kau itu adalah anak laki-laki, anak laki-laki harus kuat, tidak boleh lemah!" ucap Alio tegas namun hangat.
Alio diajari seperti itu oleh ayahnya saat masih kecil, Olivia tahu kalau Alio mengatakan itu untuk kebaikan Olvi dan juga karena ia pria itu peduli dengan Olvi.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~