Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 130


__ADS_3

Olivia bergegas mengeluarkan handphonenya dan yang membuatnya terkejut adalah … telpon ini bukan dari Alio melainkan dari Jesi—ibu tirinya.


Olivia tak menyangka, biasanya jika tak ada yang sangat penting dan mendesak, Jesi tak akan pernah meneleponnya.


Setelah memikirkannya, Olivia memutuskan menjawab dan menempelkan handphonenya nya di telinga.


"Olivia, ayahmu … terjadi sesuatu pada ayahmu!" nada suara Jesi terdengar cemas dan hampir menangis.


Olivia sedikit mengernyitkan alisnya dan hatinya juga terpaku, tapi ia berusaha tetap tenang dan lanjut bertanya. "Apa yang terjadi pada ayah?"


"Ayahmu, dia hiks… dia demam sejak dua hari yang lalu, hari ini orang-orang dari departemen pencegahan epidemi membawanya pergi dan bilang … dipastikan kalau dia terinfeksi virus epidemi.”


Setelah mengucapkan itu Jesi mulai terisak-isak, sementara Olivia merasa sangat khawatir dan tanpa sadar ia meremas handphonenya.


Penyakit epidemi wis sekarang menyebar secara global, menyebabkan tingkat kematian dan penularan yang tinggi dan sampai sekarang belum ada obat yang efektif untuk pengobatan atau pencegahan yang dikembangkan.


Oleh karena itu, penyakit epidemi semacam itu sebagian besar setara dengan hukuman mati.

__ADS_1


Kalian bisa mengatakan kalau pasien yang tertular oleh penyakit itu sudah menginjakkan satu kaki mereka ke gerbang kematian, sama sekali tak berlebihan.


Karena upaya pencegahan epidemi selalu dilakukan dengan baik di dalam negeri, jadi ... cakupan penyebarannya tak luas.


Namun, Olivia tak menyangka penyakit ini akan sampai ke keluarganya—apalagi ayahnya.


"Aku akan pulang sekarang," ucap Olivia dengan tergesa-gesa, ia sangat ingin melihat ayahnya.


"Apa gunanya kamu pulang? Ayahmu tidak ada di rumah. Kau sebaiknya bergegas mencari seseorang di Kementerian Luar Negeri yang memiliki hubungan dengan pejabat tinggi untuk membantu kami, agar kami bisa mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Ayahmu! Sekarang dia di karantina, kami tidak memiliki informasi terbaru tentang kondisinya sekarang," sahut Jesi menangis lagi saat membicarakan hal ini.


"Mereka bahkan tidak mengizinkan anggota keluarga untuk mengunjungi pasien. Kami tidak tahu apakah Ayahmu masih hidup atau..."


Olivia juga merasa tak bahagia, meskipun ia sudah meninggalkan keluarganya, ia masih memiliki hubungan kerabat dengan mereka.


Tapi…


"Aku baru saja menjadi karyawan tetap di Kementerian Luar Negeri, meskipun aku berurusan dengan pejabat tinggi setiap hari, aku khawatir kita tidak begitu akrab."

__ADS_1


"Kau setidaknya harus mencoba bertanya, maka kau akan tahu jawabannya!"


Jesi berharap Olivia bisa memberinya harapan, Olivia terdiam sejenak lalu bertanya. "Apakah Yuta ... Apakah Yuta tidak bisa di mintai tolong selain aku?"


"Tidak," jawab Jesi jadi kesal, "dia bilang kalau upaya pencegahan epidemi cukup ketat, tidak ada yang bisa memasuki area karantina tanpa izin, tidak terkecuali."


Aturan sudah menyatakan, bahkan Yuta tak punya solusi, apa yang bisa aku lakukan? batin Olivia.


Bagian hati dan pikiran Olivia kacau dan permohonan Jesi berulang kali mengganggunya terus-menerus.


Setelah Olivia berpikir cukup lama, ia berjanji pada ibu tirinya akan mencoba yang terbaik dan Jesi akhirnya menutup telepon dengan cepat.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2