
Tak lama kemudian, Olivia pun keluar dari kamar mandi dan melihat kalau putranya terbangun dari tidurnya.
"Sayang … kenapa? Apakah kamu ingin buang air kecil?" tanya Olivia segera mendatangi putranya yang kini duduk di tempat tidur.
Olvi duduk sambil mengucek matanya berkali-kali dan melihat ke arah ibunya dengan tatapan yang masih samar. "Tidak," jawab Olvi singkat dengan nada mengantuk.
"Kalau begitu kamu tidur lagi, ya? Karena ini masih tengah malam," bujuk Olivia lalu naik ke atas tempat tidur dan memeluk putranya dengan erat dan lembut.
Olvi yang mengantuk pun menyempatkan diri untuk bertanya kepada sang ibu. "Ma, apakah Papa tidak mau datang menemuiku lagi?"
Setelah mendengar pertanyaan putranya, hati Olivia terasa sakit dan ikut bersedih.
Sepertinya, besok Olivia harus bicara dengan Alio.
"Sayang, Papamu bukannya tidak mau bertemu denganmu. Tapi kamu tahu, kan? Kalau Papamu itu orang yang sangat sibuk?" jelas Olivia lalu mengecup kening putranya.
"Oh…," Olvi ber-oh ria lalu menguap dan tak lama kemudian ia tertidur lagi.
15 menit kemudian…
Olivia yang mengantuk pun hampir ikut tertidur juga. Namun, samar-samar ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka.
Saat ini, kamarnya sangat gelap, Olivia sengaja mematikan lampu agar ia bisa tertidur.
Olivia yang terbangun pun samar-samar melihat seorang pria berperawakan tinggi berjalan perlahan menuju tempat tidur.
__ADS_1
Lalu, pria itu diam-diam menghampiri Olvi dan mencium keningnya.
Olvi pun menggeliat dan menendang selimut hingga terjatuh, tapi pria itu dengan hati-hati meletakkannya kembali.
Secercah cahaya bulan menyinari wajah tampan pria itu, ekspresi wajahnya yang selalu dingin itu menunjukkan seulas senyuman tipis—walaupun tak berlangsung lama.
Melihat itu, Olivia tersenyum. Sepertinya mereka sudah salah paham pada Alio.
Bagaimana mungkin pria itu tidak mau menemui anaknya sendiri? batin Olivia lalu memejamkan matanya.
...—oOo—...
Keesokan harinya.
Saat menuruni tangga menuju ruang makan, mereka berdua berbincang sambil tertawa ria.
Tapi, setelah maid membukakan pintu ruang makan, mereka berdua pun langsung terdiam saat melihat sosok pria berwibawa yang kini duduk di meja makan sambil membaca koran.
Suasana di ruang makan langsung berubah menjadi hening seketika.
"Selamat pagi, Tuan muda dan juga ibunya Tuan muda," sapa Sebas yang kini berdiri di belakang pria itu dengan sangat ramah.
"Selamat pagi," balas Olivia merasa agak canggung dengan suasana ini.
"Pagi," balas Olvi singkat lalu berjalan menuju meja makan bersama ibunya.
__ADS_1
Setelah sampai di meja makan, Olivia menarik kursi untuk Olvi duduk.
Kemudian, para maid langsung melayani mereka berdua.
Tanpa sadar, mata Olivia melirik ke arah seorang pria yang saat ini terlihat sangat fokus membaca koran.
Lalu, pipi Olivia memerah karena ia merasa sangat malu saat mengingat kembali kejadian malam tadi.
"Selamat pagi, Pak Presiden." Olivia memberanikan dirinya untuk menyapa Alio meskipun saat ini ia merasa canggung.
"Hm," balas Alio singkat dan tetap fokus membaca koran.
Hanya itu saja? batin Olivia malah merasa semakin malu.
"Saya pikir Anda tidak akan pulang," ucap Olvi sambil menatap sang ayah dengan ekspresi yang agak kecewa.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1