
Olivia heran lalu bertanya-tanya dalam hatinya mengapa di depan rumah ada sakit, wartawan banyak sekali?
Apa mereka datang kesini karena orang-orang sudah sembuh dari wabah virus?
Lalu, dari kejauhan Olivia pun melihat sesuatu yang sangat familiar.
Yaitu, rombongan mobil berwarna hitam yang datang, lalu berhenti.
Oh, akhirnya aku mengerti kenapa ada banyak sekali wartawan yang rela berdesak-desakan, batin Olivia.
Kemudian, sosok pria yang di kenali oleh satu negara itupun turun dari mobil.
Dengan senyumannya yang mempesona, pria itu melambaikan tangannya ke kamera.
Lalu, teriakkan antusias dari orang-orang pun, terdengar.
Menjadi seorang Presiden itu ternyata, sangat populer daripada publik figur di negara ini!
Alio selalu jadi pusat perhatian dimana pun ia berada, mungkin karena Alio sangat tampan.
Di usianya yang terbilang muda, ia sudah bisa memimpin sebuah negara dan di kagumi oleh semua rakyatnya karena adil dan bijaksana.
Alio sangat peka sehingga ia segera mendongak saat merasakan tatapan dari Olivia, dan mata mereka bertemu.
Olivia sudah terlambat untuk berpaling!
Setelah hari itu, perubahan dalam diri Alio mungkin tak terlihat pada pandangan pertama, namun jika diperhatikan lebih lama, pria itu menjadi sedikit berbeda.
Alio menatap Olivia dengan tajam, tapi tak menunjukkan ekspresi apapun.
__ADS_1
Olivia mencengkram tasnya, sedikit memayunkan bibirnya dan menundukkan kepalanya sebagai bentuk salam hormat.
Olivia tak ingin bersikap kurang sopan ketika bertemu dengan Presiden di depan umum.
Tanpa menatap lama ke arah Alio, Olivia segera berpaling ke arah neneknya dan berkata. "Nenek, ayo kita masuk ke dalam!"
"Mama, itu Pap—" ucap Olvi ingin mengatakan kalau ia melihat Alio, tapi Olivia langsung memotongnya.
"Stttt!"
"Apa yang kalian bicarakan, huh?" tanya nenek sedikit curiga.
"T-tidak ada, Nek. Itu tidak penting," jawab Olivia seketika menjadi panik.
"Benarkah?" tanya nenek Olivia dan melihat ke arah Olvi dengan tatapan curiga.
"Ahhh, uhmm aku tadi melihat...," Olvi yang tak mengerti kode dari sang ibu pun sedikit ragu.
"Melihat apa?" tanya sang nenek dengan nada dingin.
"Pa—"
"Pak Presiden! Kamu melihat Pak Presiden?!" Olivia segera menyela walaupun tak sopan.
"Aku sedang berbicara dengan anakmu!" ucap sang nenek dingin.
"Maaf, Nek."
"Kamu ... melihat Pak Presiden?" tanya Nenek kembali.
__ADS_1
"Iya! Nanti kalau aku besar, aku mau menjadi seperti Pak Presiden!" Olvi segera menjawab sambil tersenyum dengan senyuman andalannya.
Keringat dingin membasahi tubuh Olivia.
Olivia sangat takut kalau putranya akan bilang kalau ia melihat Papanya, tapi untung saja itu hampir saja terjadi.
Bagaimana bisa ... dia ada disini? batin Olivia.
Nenek Olivia menoleh ke Pak Presiden, lalu ia mengangguk sopan, menyapa Pak Presiden.
Setelah itu mereka semua melanjutkan tujuan mereka datang kesini.
Dan saat mereka dalam perjalanan nenek pun bertanya pada Olivia.
"Pak Presiden akan bertunangan ... apa kamu tahu, Olivia?"
Olivia tak mengatakan apapun dan menundukkan tatapannya hingga akhirnya ia menatap lantai.
"Selama ini Nenek tak suka dengan ibu tirimu, kamu sendiri pasti tahu apa alasannya, kan!?" lanjut sang nenek, tapi Olivia masih terdiam.
"Menjadi orang ketiga itu, sangat mengerikan! Kalau bukan karena ibu tirimu, keluarga 'Stein' kita pasti akan tetap harmonis, mengerti?"
...— Bersambung —...
...***...
...Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)...
...Thankyou so much and see you next part~...
__ADS_1