
Olivia melihat Alio dua kali, tampaknya Olivia sedang mempertimbangkan apakah putranya atau Alio yang menginginkannya kembali.
Alio sengaja mendinginkan wajahnya. "Apa yang kau lihat?"
Olivia tersenyum. "Tidak apa-apa, sudah lama aku memberi tahu Olvi bahwa dia akan hidup dua sisi seperti ini, dia akan tinggal denganmu tetapi dia tetaplah anakku juga."
Wajah Alio benar-benar mendung, hubungan mereka berdua sudah sangat baik, mereka telah berdiskusi dengan baik, tapi siapa yang mengingatnya?
"Kamu datang begitu larut malam seperti ini, bukan karena ingin membicarakan hal ini denganku, kan?" Olivia melihat jam di handphonenya. "Sebenarnya, hal seperti ini bisa disampaikan melalui telepon. Kamu sudah bekerja keras dan menghadiri pertemuan sepanjang hari, sekarang harus mengemudi pulang ke mansion Presiden, sudah hampir tengah malam."
Entah kenapa, Olivia merasa prihatin hanya dengan memikirkannya.
Alio merasa wanita dihadapannya benar-benar tak bisa dimengerti, membuatnya kesal saja.
Mata Alio yang dalam memandangi Olivia sekilas, perasaan di dalam hatinya tak bisa ditahan lagi, pria itu membungkukkan tubuhnya dan tiba-tiba mencium bibir Olivia.
Ciuman ini, sepertinya sudah diperkirakan, tapi juga terasa tak terduga. Olivia tak melawan sama sekali, hanya membiarkan Alio menciumnya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Olivia merasa sedikit kebingungan dan teralihkan oleh ciuman Alio, tangannya meraih kemeja pria itu dengan erat, napasnya terengah-engah.
Hingga pada saat mereka berdua sama-sama tak bisa mengendalikan napas, bibir Alio akhirnya terpisah dengan enggan dari bibir Olivia.
Melihat ekspresi bingung di wajah Olivia, tiba-tiba Alio merasa sulit untuk menahan diri dan ingin lebih lagi.
Tangan Alio yang berada di pinggang Olivia memperketat cengkramannya, tapi sekejap kemudian, cengkraman itu terlepas dengan terpaksa.
Dari tatapan mata Alio, terdapat keinginan dan rasa sakit yang tertahan. Olivia bisa merasakannya, hasrat pria itu terhadap tubuhnya begitu jelas.
Mata Alio menjadi lebih dalam saat memandang wanita itu, tatapan matanya yang berbahaya juga terlihat semakin jelas di malam hari. "Kalau kau terus bicara seperti itu ... malam ini, mungkin salah satu dari kita takkan bisa pergi."
Wajah Olivia sedikit memerah, ia buru-buru mundur satu langkah.
"Ngomong-ngomong ... jaketmu?" ucap Olivia ragu-ragu—bersiap melepaskan jaketnya.
"Tetap kenakan!" balas Alio dengan suara dingin.
__ADS_1
"Oh, oke." Olivia menganggukkan kepala dengan patuh, merapatkan kembali jaketnya. Yah, meskipun jaket itu tak terlalu tebal, seolah-olah suhu tubuh Alio menyelimutinya dengan kehangatan tak terlukiskan. Bahkan, angin dingin di luar tak lagi menakutkan.
Saat Olivia baru pergi beberapa langkah, tiba-tiba ia berbalik.
Alio bersandar di mobil dengan tenang sambil menatap Olivia. "Jika kau benar-benar tidak ingin pergi, aku bisa menemani kau naik ke atas. Tapi... jika aku naik, mungkin aku tidak akan turun lagi malam ini."
Kata-kata terakhir itu, Alio mengucapkannya dengan sangat ambigu!
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1