
"Kamu masih bersemangat! Kurasa kamu tidak mengalami luka serius." Olivia berkata dengan nada meledek.
Alio memejamkan matanya dan benar-benar tak mengatakan apa-apa lagi, Olivia tetap membersihkan tubuhnya dengan alkohol meskipun wanita itu tak ingin melakukan ini.
Tangan Olivia kaku dan bergetar, ini tak baik, setiap sentuhan membuatnya merasa seolah-olah tersengat arus listrik.
Jari-jari Olivia panas dan mati rasa saat akan menyelinap ke sesuatu yang blablabla pisang. Alio membuka matanya dan tiba-tiba memegang tangan Olivia dengan tangannya yang tak terluka.
Olivia sudah merasa khawatir ketika ia menyeka tubuh Alio dan ia takut dengan apa yang akan di sentuhnya dibalik celana pria itu.
Dengan menggunakan sedikit tenaga, Alio menarik Olivia ke arahnya.
Olivia sedikit berteriak karena hampir jatuh dan menekan luka-luka Alio. Olivia sangat terkejut kalau pria itu menopang tubuhnya di sisinya.
"Berbahaya melakukan ini!" sambil mengernyitkan alisnya, Olivia khawatir dan menatap Alio dengan agak protes.
Alio berkata dengan sedikit tertawa. "Apakah kau yakin ini adalah perawatan yang Dokter Lay katakan untuk mengurangi demam?"
"Ya." Olivia mengangguk.
Pada saat ini, mereka sangat dekat, Olivia terjatuh karena sedikit ceroboh dan ia bisa mencium bau mesiu di tubuh Alio.
__ADS_1
Olivia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seolah-olah akan keluar dari dadanya kapan saja.
Alio menyipitkan matanya dan berkata. "Mengapa aku pikir demamku jadi lebih tinggi, bukannya berkurang?"
Olivia sangat malu.
Tak hanya Alio yang merasakan demamnya semakin parah, tetapi Olivia juga merasa tubuhnya jadi lebih panas!
"Pak Presiden... "
Olivia menjilat bibirnya yang kering lalu melanjutkan perkataannya. "Jika kamu tidak melepaskan aku sekarang, demammu pasti akan bertambah parah. "
Dengan ekspresi yang rumit, Alio menatap Olivia dengan sungguh-sungguh. Akhirnya, ia perlahan melepaskan tangannya.
Olivia duduk di samping tempat tidur, mengambil napas dalam-dalam dan menyeka keringat di dahinya.
Melihat Alio di tempat tidur, Olivia merasa sedikit tak nyaman. Dia berkata kepada Alio sambil membereskan obat-obatan. "Selamat beristirahat, aku akan mengukur suhu tubuhmu nanti."
"Hmm," jawab Alio. Pria itu menutup matanya dan tertidur dengan cepat karena ia kelelahan.
Setelah berkemas, Olivia menutupi tubuh Alio dengan selimut. Wajah merah Alio membuatnya khawatir.
__ADS_1
Malam ini, Olivia harus begadang dan menemani Alio, jadi sangat sulit baginya untuk tertidur.
Karena Olivia khawatir.
"Tapi, mengapa aku sangat mengkhawatirkannya?" Olivia menolak untuk berpikir secara berlebihan.
Baru saja Olivia selesai beres-beres, Rena menelepon. Olivia berpikir Alio akan terbangun jika ia berbicara dengan keras di dalam kamar, jadi ia meninggalkan kamar untuk menjawab panggilan telepon Rena.
"Olivia, katakan saja padaku apa yang kamu lakukan?!" Rena berteriak di seberang sana.
"Apakah kamu gila? kamu sudah bekerja sangat keras untuk penilaian hari ini. Tapi kamu pergi begitu saja dan menyerah pada penilaian ini! Kamu harus memberitahuku alasan yang jelas! ”
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1