
"Tentu saja tidak." Olivia tertawa. "Olvi sayang … mama akan menginap di rumah Tante Rena."
"Oke, kalau begitu mama akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama Tante Rena. Tapi…," Olvi sedang memikirkan sesuatu, melihat ke lantai atas dan bertanya. "Mama, kalau Mama tidak pulang malam ini, bagaimana dengan memasak makan malam untuk Papa?"
"Makan malam apa?" Olivia bingung.
"Bukankah Mama bangun pagi ini untuk membuatkan makan malam untuk Papa? Papa sudah menunggu dan belum makan malam, ini sudah sangat terlambat waktu makan malam!" Olvi menjelaskan.
Olivia semakin bingung. "Mama tidak pernah bilang akan menyiapkan makan malam untuknya."
"Tidak? Tapi .... kata Papa—," Olvi sedikit terkejut dan ragu untuk mengatakannya.
"Makanan yang Mama siapkan di pagi ini adalah untuk Om yang Mama kencani hari ini," timpal Olivia menjelaskan.
Olvi dan Alio sepertinya benar-benar salah paham.
Ah, Papa yang malang~
Papa sudah menunggu sepanjang hari, tapi ternyata … Papa hanya terlalu percaya diri.
Ketika Olvi merasa simpatik kepada Alio, ia mendengar suara klik di telepon.
Olivia bingung.
Ini jelas suara meletakkan telepon.
__ADS_1
Tapi ia dan Olvi tak terputus.
Maka itu hanya mungkin...
"Mama, sepertinya ... Papa baru saja menguping pembicaraan kita di lantai atas."
"..."
Olvi merasakan sayang kepada ayahnya, anak itu menutup telepon dan memanggil. "Om Sebas, Om Sebas!"
Sebas menghampiri anak itu. "Kenapa Anda sangat cemas, Tuan muda? Apa yang terjadi?"
"Bisakah Anda meminta Chef menyiapkan beberapa hidangan makan malam untuk Papa? Papa pasti tidak akan turun lagi."
Berada di bawah angan-angan kalau Mama menyiapkan makan malam untuknya, Papa baru saja kehilangan wajahnya.
Sebas tak tahu cerita apa-apa dan hanya mengangguk. "Baik, saya akan mempersiapkannya."
...—oOo—...
Setelah telepon ditutup, Olivia berbaring di tempat tidur bersama dengan Rena.
Olivia tak bisa mengerti kenapa Alio menguping pembicaraannya dengan Olvi.
"Kenapa kamu datang ke tempat tinggalku yang sederhana dan tak tidur di kediaman Presiden yang megah? Apa yang kamu pikirkan?'' Rena bermain game di handphonenya sambil mengobrol dengan Olivia.
__ADS_1
"Kamu tidak menyukaiku?" Olivia menoleh menatap Rena.
"Oh my god, aku tidak punya nyali. Aku tidak akan mengeluh tentang hal itu jika kamu tinggal di sini selama beberapa bulan atau bahkan setengah tahun, apalagi kamu hanya tinggal disini selama satu hari ... kamu adalah ibu kandung dari putra Pak Presiden. Aku tidak akan merasa terganggu karena menghormati Pak Presiden? Apakah aku benar?" jawab Rena menjelaskan.
"Siapa bilang aku hanya akan tinggal di sini selama sehari?"
Rena bangkit ke posisi duduk dan memandang Olivia. "Apakah kamu benar-benar ingin tinggal disini selama setengah tahun?"
Olivia juga duduk dengan tangan di lututnya, tenggelam dalam pikiran tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Apa yang terjadi hari ini membuat Olivia benar-benar bingung, ia tidak tahu bagaimana menghadapi Alio jika ia pulang.
...—oOo—...
Kediaman Alio Wilson
Alio masih belum makan malam, pria itu sangat marah sehingga ia tak ingin makan.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~