Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 30


__ADS_3

"Please, sit down!" (Silahkan, duduk!")


Semua orang yang ada di dalam ruangan itu pun duduk setelah mendengar perintah dari Perdana Menteri.


Tak sengaja, mata Olivia bertemu lagi dengan mata Yuta.


Pria itu menatap Olivia dengan tatapan tajam lalu tersenyum sekilas.


Olivia langsung mengalihkan pandangannya karena tak ingin menatap Yuta lebih lama lagi, ia takut akan teringat lagi dengan kenangan indah saat mereka bersama dulu.


Untungnya, acara konferensi pagi ini berjalan  dengan lancar tanpa adanya kendala.


Olivia benar-benar tak tahan kalau harus berada di ruangan yang sama dengan Yuta lebih lama lagi.


Karena Olivia dan Rena masih magang, jadi mereka tak perlu menghadiri acara rapat negara sehingga pekerjaan mereka selanjutnya jadi lebih mudah.


Saat siang hari, setelah Olivia dan Rena menyelesaikan pekerjaan mereka, akhirnya mereka bisa bersantai dan makan siang.


Olivia mengambil sendok lalu memakan hidangan yang ada di atas meja dengan wajah tak bersemangat.


Rena yang duduk di seberangnya langsung bertanya. "Olivia, apa kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


Olivia mengangguk. "Hm, ada apa, Ren?" jawabnya sambil tersenyum dan pura-pura santai.


"Wajah kamu pucat ... apa karena Yuta? Aku mengenal kamu lebih baik daripada siapapun," ucap Rena dengan nada khawatir.


Rena yakin, kalau Olivia masih belum bisa melupakan Yuta.


Olivia tak membantah ucapan Rena dan hanya diam saja. Memangnya, ia harus mengatakan apa pada Rena?


Sejak bertemu dengan Yuta, mood Olivia langsung berubah drastis.


"Aku masih tidak menyangka kalau Yuta adalah lead translator yang sering dibicarakan beberapa hari ini, dia memang tampan, sih. Pantas saja, cewek-cewek di kantor suka gosipin dia tapi aku rasa Yuta sudah punya pacar," komen Rena.


Olivia tersenyum hambar. "Tidak mengejutkan, karena Yuta itu tampan dan juga baik, makanya banyak cewek mengantri ingin jadi pacarnya."


"Olivia, kalau kamu sudah mengetahui identitasnya, langsung beritahu aku! Aku akan menamparnya dengan high heelsku!" lanjutnya kemudian.


Olivia tersenyum, Wajah dingin Alio langsung muncul di dalam pikirannya, lalu ia terkekeh saat membayangkan adegan Rena menampar wajah pria itu dengan high heels.


Pasti akan sangat seru!


Rena mengernyitkan alisnya. "Olivia, kenapa kamu tertawa?"

__ADS_1


“Oke, jika aku sudah tahu siapa ayahnya Olvi, aku akan langsung memberitahumu, pastikan kamu menamparnya dengan baik buat aku."


"Percayakan saja padaku, aku sungguh akan melakukannya!" tekad Rena sangat yakin.


Olivia masih berpura-pura tak tahu siapa ayah Olvi, karena—ia tak berani bilang kalau orang itu adalah Presiden negara ini.


Rena pun mengubah topik pembicaraan. "Aku dengar, Pak presiden akan datang ke acara puncak malam ini."


"Oh ya? Kenapa aku belum mendengar kabar itu?” ucap Olivia agak kaget dan bingung.


Rena melihat ke sekitarnya, setelah memastikan keadaannya aman ia kembali menatap Olivia. "Aku tidak sengaja mendengar itu dari para atasan yang membahasnya," balasnya dengan suara pelan.


"Ooh, begitu…" Olivia mengangguk-anggukan kepalanya, ia tak banyak berkomentar karena ia sendiri belum melihat Alio selama beberapa hari terakhir.


Mungkin karena alasan itu, pria itu jadi sangat sibuk, batin Olivia.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2