
Alio berjalan mendekati Olivia sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Kau sengaja, kan?"
"Apa maksudmu?" tanya Olivia pura-pura tak mengerti dan Alio tahu kalau saat ini Olivia pura-pura tak mengerti maksudnya, jelas sekali kalau wanita itu takut diterkam olehnya malam ini, makanya ia membawa anaknya yang suka ikut campur itu kesini.
Alio pun menatap Olivia dengan tatapan tajam, lalu ia mengambil hairdryer dari tangan Olivia dan mencoloknya ke saklar.
"Kalau nggak ada lagi yang mau kamu bicarain, aku mau periksa PR Olvi dulu," ucap Olivia siap-siap hendak pergi, tapi Alio langsung meraih tangan Olivia dan menarik wanita itu kembali.
Hal itu membuat Olivia kebingungan, apalagi tiba-tiba, hairdryer yang baru saja diambil Alio kembali lagi ke tangannya.
Alio yang tubuhnya tinggi besar duduk di tepi ranjang sambil merapikan rambut pendeknya.
Olivia langsung paham dan ia merasa lucu dengan apa yang dilakukan Alio saat ini, "kamu nggak memintaku ngeringin rambutmu kayak Olvi, kan?"
"Menurutmu?"
Olivia menghela nafas, lalu menyalakan hairdryer untuk mengeringkan rambut Alio, lalu berkata, "Olvi, kan, masih kecil, makanya aku bantu, tapi kamu udah umur berapa, sih?"
"... " Setelah mendengar itu, Alio hanya diam saja tanpa mengatakan apapun sedangkan Olivia melanjutkan pekerjaannya mengeringkan rambut Alio.
__ADS_1
...—oOo—...
Angin hangat menerpa kepala Alio dengan lembut dan hal itu memberi rasa nyaman yang tak terbantahkan. Apalagi, saat jari-jari Olivia menyentuh rambut pendek Alio dengan lembut yang membuat pria itu semakin terhanyut.
Saat Olivia mengeringkan rambut Alio, ia berdiri sangat dekat disamping Alio, sampai-sampai aroma wangi dari tubuh Olivia memasuki indra penciuman Alio.
Alio mengangkat sedikit kepalanya, lalu melihat wajah cantik Olivia yang tanpa polesan make-up.
Tanpa pikir panjang, Alio langsung memeluk Olivia dan lengan panjangnya melingkari pinggang ramping wanita itu erat.
Olivia sangat terkejut, meskipun nalurinya ingin mundur, tapi wajah Alio malah menempel pada tubuhnya.
Terkejutlah Olivia dengan pertanyaan itu, lalu ia menjawab, "tujuh hari lagi, tapi kayaknya aku bakalan ambil cuti dan pergi duluan karena udah lama banget aku nggak ketemu sama Nenek."
Alasan pertama, Olivia ingin mengunjungi sang nenek. Lalu, alasan yang kedua, Olivia tidak mau berlama-lama di tempat ini, karena 5 hari lagi adalah hari yang tak Olivia inginkan.
"Oke," ucap Alio menganggukkan kepalanya, lalu melepaskan pelukannya dan berdiri.
Setelah itu, Olivia mematikan hairdryer dan mencabut colokannya, tapi tiba-tiba sebuah kotak persegi panjang dengan kemasan elegan disodorkan di depannya.
__ADS_1
Lalu, Olivia mengangkat kepalanya dan menatap Alio dengan tatapan penasaran dan bertanya-tanya. "Hadiah," ucap Alio singkat dan tanpa basa-basi.
"Hadiah apa?"
"Untuk ulang tahun ibumu kali ini, kau tak perlu repot-repot menyiapkan hadiah karena aku sudah menyiapkannya," ucap Alio sambil memberikan kotak persegi panjang tersebut ke Olivia, "ini adalah hadiah untuk neneknya anak kita."
Olivia melirik kotak tersebut, lalu mendongakkan kepalanya, melihat wajah pria itu yang tanpa ekspresi dan merasa sangat tersentuh.
Saat pertama kali Olivia bertemu Alio—ia pikir Alio itu adalah pria yang kasar, dingin dan susah di deketin.
Namun, semakin Olivia mengenal Alio, Olivia sadar kalau ternyata, Alio itu adalah pria yang hangat dan penuh kasih sayang.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~