Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 331


__ADS_3

Kepala pelayan berbicara dengan suara gemetar. "Nyonya Olivia bilang, dia ada janji sore tadi dan berjanji akan kembali sebelum malam. Namun, Nyonya Olivia belum pulang hingga saat ini."


Alio merespons dengan dingin ketika mendengar kata 'janji'.


Apakah Olivia pergi menemui Yuta? Yuta mengirim pesan panjang pada malam sebelumnya, meskipun pesan tersebut telah dihapus. Alio tak percaya bahwa Yuta akan menyerah begitu saja.


Tiba-tiba, suara Olvi terdengar dan dia turun perlahan dari lantai atas. "Papa, sudah pulang," ucap Olvi dengan hati-hati.


Suasana hati Alio sangat suram sehingga dia mengabaikan Olvi yang berada di dekatnya.


Ruangan itu dipenuhi dengan hiasan yang sangat dikenalinya, tapi malah membuat suasana hatinya semakin buruk. "Kenapa kalian memasang ini tanpa persetujuanku?! Lepaskan semuanya!" Alio memperlihatkan sikap yang sangat menjengkelkan.


Kepala pelayan merasa ketakutan. "Nyonya besar yang mengirimkannya, beliau memerintahkan agar hiasan-hiasan tersebut dipasang."


"Apa ibu yang mengirimnya? Apakah kamu suka dengan itu?" tanya Alio pada putranya.


"Tidak! Aku tidak menyukainya!" 


Alio memandang kepala pelayannya, lalu kepala pelayan segera berkata. "Baik, saya akan memerintahkan orang-orang untuk melepas semuanya."


Dengan ragu, Olvi mencoba mendekati Alio. "Papa, apakah kita bisa pergi dan menjemput Mama? Sudah lama dia tidak pulang."

__ADS_1


"Wanita itu yang melanggar janjinya, mengapa aku harus menjemputnya pulang?" ujar Alio dengan dingin.


Alio telah meminta Olivia untuk menunggunya malam ini karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan.


Namun sekarang, kenapa ia harus menjemputnya? Alio merasa kecewa karena Olivia tak konsisten dengan janjinya.


"Tapi siapa bilang Mama melanggar janjinya? Mama tidak melakukannya!" protes Olvi.


Alio mendengus. "Dia sedang berkencan dengan pria lain sekarang, bukannya menunggu Papa pulang di rumah. Bukankah itu sudah melanggar janji?"


Tiba-tiba Olvi mendongak dan tertawa jahil, lalu menatap Alio dengan matanya yang imut. "Papa, sekarang Papa menyukai Mama, kan? Papa terlihat sangat marah dan cemburu!"


"Papa, Papa benar-benar aneh!" ucap Olvi. "Mama hanya janjian makan dengan Mami Rena. Dan, Mama berjanji kepadaku bahwa Mama pasti akan pulang malam ini. Mama tidak akan melanggar janjinya denganku! "


Alio melangkah maju. "Apa yang kamu katakan barusan?"


Olvi meringis dan berlari ke atas menuju kamarnya sambil mengatakan, "Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku akan pergi mengerjakan pekerjaan rumahku!"


Setelah itu, anak itu menutup pintu dengan keras.


Dari situ, Alio menyimpulkan bahwa Olivia tak pergi untuk menemui Yuta.

__ADS_1


Perasaan kesal dan emosinya mereda. Alio melihat jam dan menyadari bahwa sudah lebih dari jam 8, yang berarti akan sangat sulit bagi Olivia untuk masuk ke kediaman Presiden dari luar.


Setelah itu, Alio kembali ke kamarnya dan melepas bajunya.


Pria itu berganti pakaian dengan baju tidur yang lebih sederhana.


...—oOo—...


Olvi berbaring di atas meja untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. Setelah beberapa saat, pintu kamarnya didorong terbuka dan seseorang masuk. Orang itu kemudian berjalan menuju meja Olvi dan duduk di dekatnya.


"Tolong pergi, Papa. Aku sedang mengerjakan pekerjaan rumahku, jadi tolong jangan mengganggu!" ucap Olvi tanpa mengangkat kepalanya.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2