
Olivia sedikit mengernyitkan alisnya, melihat ke arah kamar tidur dan bertanya dengan cemas. "Dokter Lay, Anda tidak tinggal di sini?"
Olivia takut kalau terjadi sesuatu, ia tak bisa mengatasinya.
"Ada banyak orang yang terluka di istana putih Presiden, saya harus menangani situasi ini. Publik tahu hubungan saya dengan Pak presiden. Jika saya menghilang terlalu lama akan ada kecurigaan di luar sana."
Dokter Lay juga mengkhawatirkan Alio, tapi saat ini tak ada cara lain. Setelah Dokter Lay pergi, Arnold bersama dengan beberapa orang, juga ikut pergi.
Karena Alio tak sadarkan diri, Arnold harus muncul di media untuk menstabilkan publik. Selain itu, tersangka atas kecelakaan ini harus ditangkap secepat mungkin, jika tidak … Alio akan selalu dalam bahaya.
Sekarang, hanya ada Olivia dan Alio di rumah ini. Untungnya, ada beberapa bodyguard yang berpatroli di sekitar rumah ini.
Olivia mengambil napas dalam-dalam dan mencoba untuk tenang sebelum ia kembali masuk ke dalam kamar lagi.
Di kamar, Arnold dan para bodyguard sudah mengganti karpet dan sprei berdarah dengan yang baru.
Alio sedang berbaring di tempat tidur dengan luka-lukanya yang sudah diobati dan dibalut dengan perban, sehingga kondisi pria itu tak mengejutkan seperti sebelumnya.
Tapi, Olivia masih tetap mengkhawatirkan Alio.
...—oOo—...
__ADS_1
Di malam hari.
Seperti yang dikatakan Dr. Lay, Alio mengalami demam, wajahnya yang merah dan alisnya yang mengerut serta keringat dingin yang membasahi tubuhnya, menunjukkan bahwa pria itu merasa sakit dan tak nyaman.
Olivia dengan cepat menyiapkan handuk basah dan meletakkannya di dahi Alio . Namun, ketika tangan Olivia menyentuh dahi pria itu, Alio menghela nafas berat berulang kali dan menggenggam tangan Olivia dengan erat.
Alio menggunakan hampir seluruh tenaganya, Olivia bisa merasakan telapak tangan panas pria itu bergetar.
Sebenarnya, Olivia bisa dengan mudah melepaskan tangan Alio karena saat ini pria itu masih dalam keadaan lemah.
Tapi Olivia tak berani, ia takut luka Alio yang sudah di jahit akan terbuka.
Alio bingung, ia tak bisa mendengar apapun kecuali suara lembut dan menenangkan.
Bulu mata pria itu bergetar sehingga butuh beberapa saat untuk membuka matanya. Wajah cemas Olivia perlahan-lahan muncul dalam pandangannya.
"Itu kau … Olivia?"
Suara Alio sangat serak, bibirnya kering dan pucat, menyakitkan saat Olivia melihat Alio, tapi pria itu tampak lega saat melihat Olivia.
Olivia mengangguk. "Arnold memintaku untuk menjagamu. Tenang saja, aku akan berusaha bersikap lembut dan tidak akan menyakitimu."
__ADS_1
Alio mengedipkan matanya, menunjukkan kalau ia mengerti.
Pada saat yang sama, pria itu perlahan-lahan melonggarkan kewaspadaannya dan pelan-pelan memindahkan tangannya yang besar dari pergelangan tangan Olivia.
Olivia mengambil alkohol (obat) dan merasa canggung saat melihat pria itu.
Oh my god! Aku harus membersihkan seluruh tubuhnya?
"Ada apa?" Alio merasa tak bisa bergerak lagi, jadi ia bertanya dengan lemah dan matanya terpejam.
"Dokter Lay menyuruhku menyeka tubuhmu dengan alkohol saat kamu demam." Olivia menjelaskan dengan suaranya yang semakin pelan.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1