Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 311


__ADS_3

"Kamu!" ucap Jesi tak habis pikir saat Olvi mengucapkan itu.


Jesi hampir tak bisa mengatakan apa-apa. "Inilah hasilnya jika gagal mendidik anak! Anak yang sama saja dengan ibunya! Tidak tahu malu!"


Kata-kata Jesi membuat Olivia merasa kata-kata itu menjadi Boomerang di kepalanya.


Bagaimana bisa wanita itu menghina anaknya dan menganggap Olivia gagal dalam mendidik putranya? Wahh, betapa konyolnya pernyataan itu?


Olivia melemparkan piring dan sendok di depan Jesi penuh amarah.


Olivia benar-benar di luar kendali, apalagi saat melihat kesekitanya dan tak ada pembelaan,


Sekarang, Olivia merasa sendirian dan tak bisa mengandalkan siapa pun, ia merasa sangat sedih melihat anaknya yang cerdas dan lucu dianggap gagal dididik.


Terlebih lagi, Jesi sendiri tak ada niatan bercanda dalam setiap katanya! Itu jelas sebuah pernyataan.


Jesi tidak pernah menyangka Olivia bisa seganas itu. Ketika piring dihancurkan Olivia, Jesi hanya terdiam dan tak bergerak.


Olivia melempar sendok ke arahnya, dan dahi Jesi berdarah saat terkena sendok.


Ketika Jesi menyentuh dahinya, wajahnya menjadi pucat.

__ADS_1


Jesi menangis sambil mencari perlindungan kepada suaminya. "Lihatlah anak kesayanganmu ini! Dia berani melakukan ini padaku!"


Oliver Stein terlalu banyak minum, jadi ia sakit kepala, melihat sang istri mengadu padanya, bukannya membantu tapi pria itu malah diam saja.


Merasa tak dapat keadilan, Jesi sangat marah. Lalu ia berkata dengan marah. "Apakah ayahmu mengajarkanmu untuk bertindak kurang ajar seperti ini?!" 


"Olivia Stein, kamu sangat tidak berpendidikan! Kamu tidak pantas menjadi bagian dari keluarga Stein! Kamu melemparkan sendok ke dahi ku hingga berdarah. Dan bukannya minta maaf, tapi kamu merasa tidak bersalah sama sekali! Benar-benar seperti ibumu!"


"Sudah cukup!" seru sang nenek sambil memukul meja makan dengan keras. "Kita akhiri pertengkaran ini di sini saja!" Kemudian, wanita tua itu berdiri dan meninggalkan ruang makan.


Olivia mengabaikan Jesi, ia juga malas meladeni wanita gila itu.


Setelah mengatakan itu, Olivia segera menggendong Olvi dalam pelukannya.


Tanpa mengucapkan selamat tinggal, keduanya keluar dari sana.


Karena banyak minum wine, Olivia berjalan dengan langkah yang tak stabil sambil menangis.


Olvi memeluk leher Olivia dengan kedua tangan dan mencoba menenangkan wanita itu. "Mama, aku baik-baik saja, jadi jangan menangis!"


Air mata Olivia semakin deras saat ia menggelengkan kepala dan mencium pipi putranya.

__ADS_1


"Aku tidak merasa dirugikan oleh nenek itu, dan aku tidak merasa sedih. Tapi melihat mama menangis, aku menjadi sangat sedih."


Olvi menyeka air mata Olivia dengan tangan kecilnya yang lembut.


Saat berada di sisi jalan, efek dari wine yang diminum oleh Olivia mulai terasa, membuat wanita itu merasa sangat pusing dan tak bisa berjalan dengan stabil.


Karena takut menjatuhkan putranya, Olivia meletakkan Olvi di jalan dan mengeluarkan handphonenya. "Tunggu di sini, Mama akan memesan taksi untuk kita," ucap Olivia dengan suara serak.


Vila keluarga Stein terletak di pinggiran kota yang jauh dari keramaian, sehingga sulit menemukan taksi di sekitar sana.


Namun, Olvi hanya diam dan patuh berdiri di samping Olivia, sambil memegangi kaki wanita itu, seolah-olah ingin membantu Mamanya tetap stabil.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2