
Setelah Olivia mendengar nasihat tersebut, ia terdiam sejenak dan matanya menjadi gelap. Akhirnya, ia menundukkan kepalanya sambil mengucapkan. "Aku tahu, terima kasih atas nasihatnya."
Lucas dengan santai melepaskan genggamannya pada tangan Olivia.
Namun, Olivia mengambil satu langkah mundur, teringat sesuatu dan kemudian menatap Lucas lagi seraya bertanya. "Apakah kamu punya kertas dan pulpen?"
Lucas tak memiliki kertas dan pulpen, lalu ia berbalik dan mengambilnya dari petugas polisi lalu lintas. Ia menyerahkannya ke Olivia.
Wanita itu menatap Lucas dengan tatapan tajam.
Olivia menulis serangkaian alamat untuk memberikannya kepada Lucas.
"Apa ini?" tanya Lucas melirik kertas itu.
Olivia menjawab. "Tadi Nyonya Obella bilang ingin mencoba makanan manis. Meskipun restoran kecil, namun makanannya enak. Kamu bisa mengajaknya kesana, coba saja."
Lucas memperhatikan alamat yang ditulis di kertas tersebut, kemudian ia menatap Olivia dengan pandangan yang mengisyaratkan bahwa ia ingin mengatakan sesuatu.
Namun, tiba-tiba Lucas berhenti berbicara.
Olivia melihat tatapan mata Lucas dan bertanya. "Ada yang salah? Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
__ADS_1
"Tidak, tidak apa-apa." Lucas menggelengkan kepalanya, lalu ia menarik kembali apa yang ingin ia sampaikan.
Dengan demikian, Lucas memilih untuk tak mengungkapkan apa yang ingin ia katakan pada saat itu.
Lucas merapikan kertas alamat tersebut dan hati-hati melipatkannya sebelum memasukkannya ke dalam saku. Kemudian, ia mengembalikan pulpen ke petugas polisi di sebelahnya dan mengingatkan Olivia. "Kamu harus pergi sekarang. Pakaianmu tipis dan kamu akan kedinginan."
Olivia mengangguk dan mengikuti Arnold masuk ke dalam mobil.
Saat melihat Olivia pergi, Lucas merasa seperti sosok wanita itu dan sosok Nyonya Obella yang pernah dilihatnya sebelumnya bertumpang tindih.
Lucas menyadari bahwa Olivia benar-benar putri Nyonya Obella.
Olivia telah terpisah dari ibu kandungnya selama lebih dari 8 tahun akibat sebuah tragedi kecelakaan.
Namun sayangnya, Nyonya Obella kehilangan sebagian ingatannya, bahkan ia tak bisa mengingat rupa putrinya.
Satu-satunya yang bisa diingat oleh Nyonya Obella hanyalah panggilan 'sayang'.
Sementara itu, Olivia sendiri mengalami cedera di otaknya dan mengalami amnesia, sehingga ia tak bisa mengingat masa lalunya.
Beruntung, keluarga Stein mengadopsi dan membantunya menjalani kehidupannya.
__ADS_1
"Mungkinkah Nyonya Obella akan menerima fakta bahwa Olivia masuk ke mobil Alio jika suatu saat dia ingat kembali? Wajah Alio tidak begitu tampan, menurutku aku lebih tampan darinya. Untuk saat ini, Alio Wilson dapat merasa berbahagia! Namun jika Olivia ada di genggamanku, dia akan merasakan betapa sakitnya kehilangan."
Saat itu Olivia mendapat telepon dan Alio tak tahu siapa yang meneleponnya.
Alio hanya mendengar Olivia berkata. "Baiklah, saya akan mengirimkannya ke kantor. Saya akan mencari seseorang untuk membungkusnya dengan hati-hati."
Setelah percakapan berakhir, Olivia menutup teleponnya, ia hanya mengarahkan pandangannya ke luar jendela, tanpa melihat ke arah Alio.
Tiba-tiba, Alio meraih pinggangnya dengan lengan panjangnya. Suhu panas telapak tangan pria itu menghantam dan Olivia sedikit gemetar melalui gaun tipis yang dikenakannya.
Di lubuk hatinya, selain merasa tak nyaman dengan perlakuan Alio, Olivia juga merasakan kesedihan yang dalam.
Alio, yang sombong seperti biasa, kemudian memeluk Olivia erat-erat dan membawanya ke dadanya.
Olivia terpaku dan menatap Alio tanpa sadar, mata mereka saling memandang dalam-dalam, dengan jarak hanya beberapa sentimeter. Olivia merasa sesak nafas, seolah-olah oksigen di sekitarnya perlahan-lahan menipis.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya :)
__ADS_1
Thankyou so much and see you next part~