Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 32


__ADS_3

Yuta menyapa Olivia, tapi entah perasaan apa yang dirasakan Olivia saat ini.


Olivia tersenyum pahit. "Ya, tapi aku tidak ingin bertemu kamu disini," balasnya memasang wajah tak senang.


Yuta masih tak menyerah, meskipun Olivia enggan bertemu dengannya, pria itu menatap wanita cantik di depannya sambil tersenyum hangat. "Gaun itu terlihat cocok untukmu, sangat cantik," pujinya kemudian.


"Terima kasih," balas Olivia ketus, ia sungguh tak ingin berlama-lama lagi berbicara dengan Yuta.


Kemudian, mereka berdua terdiam sejenak dan tak mengatakan sepatah kata pun. 


Jauh di dalam hati, sebenarnya mereka ingin berbicara satu sama lain seperti dulu lagi, tapi bibir mereka tak tahu harus mulai dari mana, apalagi suasana saat ini sungguh sangat canggung.


Banyak sekali yang ingin Yuta katakan dan tanyakan pada Olivia. Tapi…


"Sudah lima tahun berlalu, kamu apa kabar? Anak kamu pasti sudah besar, ya?"


Entah kenapa, Yuta malah menanyakan soal anak yang membuat dirinya pergi meninggalkan Olivia dulu.


Olivia tetap diam, meski awalnya ia terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Yuta, ia mengesampingkan perasaannya agar tetap terlihat tegar.


"Aku—," ucapan Olivia tiba-tiba terpotong saat ia hendak menjawab pertanyaan Yuta.


"Kak Yuta!" teriakan manja itu mengalihkan perhatian mereka berdua.

__ADS_1


Tubuh Olivia membeku saat seorang wanita datang menghampiri mereka dan bergelayut manja di lengan Yuta. "Kak Yuta, sedang apa kakak disini?"


Ternyata ... wanita itu adalah Julia Stein!


Olivia tiba-tiba teringat, kalau para model internasional akan mengisi acara malam ini.


Namun, Olivia tak menyangka Julia Stein akan menjadi salah satu dari model itu.


Yang lebih membuat Olivia tak menyangka, Yuta dan Julia tampak begitu dekat, ada apa dengan mereka?


Pandangan Olivia tertuju pada tangan Julia yang bergelayut manja di lengan Yuta.


Yuta yang merasa tak nyaman langsung melepaskan tangan Julia dari tangannya. "Julia, kita berada di Kementerian Luar Negeri, jadi … jangan begini!" ucapnya dengan nada canggung dan malu.


Olivia akhirnya mengerti dengan situasi ini dan ia mulai merasa bosan.


"Oh my god, who is that? Kak Olivia?" Julia berpura-pura tak menyadari keberadaan Olivia.


Kemudian, Julia melepaskan tangannya dari Yuta dan menggenggam tangan Olivia. "Kak Olivia! Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini, aku baru saja dari rumah kamu yang dulu, tapi mereka bilang kamu sudah pindah.”


"Kalian berdua mengobrol saja, aku sibuk karena masih ada pekerjaan yang belum selesai, maaf karena tidak bisa menemani kalian." 


Olivia benar-benar tak tahan dengan sikap palsu Julia, jadi ia menarik tangannya kembali lalu beranjak pergi.

__ADS_1


Tapi, Julia langsung menahan tangannya. "Kak, jangan terburu-buru begitu. Kita mengobrol sebentar lagi, ya?"


Olivia ingin protes. "Maaf, tapi aku harus—"


Lagi-lagi ucapan Olivia dipotong Julia, wanita itu tampak tak peduli dengan pendapat Olivia.


"Oh ya, kak Yuta! Tadi sepertinya orang-orang mencari kamu, sebaiknya kamu pergi menemui mereka, mungkin mereka membutuhkan kamu."


Yuta menatap Julia dan Olivia secara bergantian, pada akhirnya pria itu tak mengatakan apa-apa dan hanya melangkah pergi.


Setelah Yuta pergi, Julia langsung menghempaskan tangan Olivia dengan kasar lalu tertawa geli.


"Aku pikir, kau sudah jadi gelandangan di luar sana setelah angkat kaki dari rumah," sarkas Julia.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2