
Alio sedang memeriksa makanan yang dibawa para maid, saat ia mendengar nasihat perawat, ia menoleh ke samping ke arah Olivia dan benar … Alio melihat ada bengkak di tangan wanita itu.
Olivia bodoh!
Olivia merasakan tatapan tajam Alio dan ia balik menatap pria itu dengan marah.
Jika bukan karena Alio, ia tak akan melepaskan infus!
Tapi saat Olivia menoleh ke perawat, ia tampak patuh dan tenang. "Baik, saya tidak akan mengulanginya lagi."
...—oOo—...
Alio tak berlama-lama berada di kamar Olivia.
Setelah pria itu pergi, Olivia makan malam sendirian dengan sendok.
Semua makanan ini terasa sangat hambar.
Olivia memaksakan dirinya untuk makan sedikit dan kemudian memeriksa layar handphonenya, sekarang sudah hampir tengah malam.
Wanita itu menelpon Rena.
__ADS_1
Rena sudah tertidur, tapi saat mendengar suara Olivia, ia sedikit sadar. Apalagi saat ia mendengar kalau Olivia mungkin terinfeksi virus dan harus meminta cuti dari tempat kerja, ia langsung duduk di tempat tidur.
"Kamu di rumah sakit mana? Aku akan menjenguk kamu sekarang. Kenapa kamu tidak memberitahuku sebelumnya? Kamu tidak sendirian, kan?
Rena bertanya-tanya sambil mengganti pakaiannya.
"Apakah kamu sudah makan sesuatu? Atau apa yang ingin kamu makan? Aku akan membawakanmu."
Olivia merasa sangat tersentuh. "Setelah mendengar suaramu, aku merasa lebih baik sekarang."
"Berarti aku adalah obat yang mujarab untuk kamu. Cepat bilang di mana kamu berada sekarang?"
"Rena, terima kasih atas perhatianmu, tapi jangan terlalu khawatir denganku. Sekarang, aku tidak di rumah sakit."
"Hm," jawab Olivia. "Aku tidak ingin pergi ke sini, tapi dia membawaku pulang."
Rena secara otomatis tahu bahwa 'dia' yang dimaksud merujuk pada Pak Presiden.
Rena menghela nafas. "Olivia, aku iri padamu. Pak Presiden sangat baik padamu."
"Kamu pasti bercanda!" sahut Olivia saat kembali mengingat intimidasi dan penghinaan yang baru saja dideritanya.
__ADS_1
Olivia tak setuju dengan Rena, Alio benar-benar mengerikan! Seorang Bajingan yang sempurna!
"Jangan seperti itu, kamu tidak menghargai hidup bahagia yang kamu nikmati. Bayangkan saja tentang hal ini, kamu adalah orang yang diduga terkena virus wis! Jika orang lain yang menemukanmu dalam kondisi seperti itu, misalnya … ibu tirimu, dia akan langsung mengusirmu lebih awal. Tapi, lihat Pak Presiden kita yang sangat baik—"
Olivia menyentuh bulu kuduknya yang merinding. "Kamu terlalu memujinya."
"Jangan memotongku!" ucap Rena sangat bersemangat. "Pak Presiden kita yang baik tidak hanya tidak mengusirmu, tapi juga membawamu pulang dan merawatmu dengan baik. Katakan padaku, jika dia tidak memperlakukanmu dengan baik, lalu siapa yang akan peduli denganmu?"
Olivia terdiam, ia memikirkannya dengan hati-hati dan objektif, lalu mengakui. "Oke, baiklah, kamu benar."
"Olivia, mungkinkah Pak Presiden jatuh cinta padamu?" tanya Rena saat memikirkan beberapa kemungkinan.
Mendengar itu, jantung Olivia berdetak kencang. Namun, Olivia juga ingat perkataan Alio 'kau benar-benar terlalu percaya diri.'
Jadi, Olivia menyangkal dengan panik. "Kamu ngomong yang enggak-enggak lagi. Bagaimana itu bisa terjadi di antara kita? Selain itu, Pak Presiden bilang kalau dia membawaku pulang hanya karena tidak ingin aku menularkan virus ke lebih banyak orang. Semua yang dia lakukan didasarkan pada identitasnya sebagai Presiden, jadi jangan berpikir seperti itu lagi!"
- Bersambung -
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~