
"Apakah kamu ingin mencoba beberapa nuget milikku?" Olivia menawarkan dengan ramah.
"Tidak perlu!" tolak Alio dingin.
Betapa gengsi dan dinginnya dia! batin Olivia lalu tersenyum jahil.
"Astaga enak sekali! Kenapa nuget ini bisa sangat enak? Kenapa, ya? Mmmmm … sepertinya, ini lebih enak daripada makanan dingin, nyam, nyam…" Olivia sengaja mengunyah dengan suara yang berisik.
"Kau tidak belajar tata krama?" sindir Alio sambil mengerutkan kening.
"Apa?" bukannya tersinggung, Olivia semakin membuat Alio kesal dengan pura-pura tak mengerti.
"Bisakah kau mengunyah tanpa suara?" kesal Alio.
Sementara Olivia masih mengunyah, ia menganggukkan kepalanya karena tak mau berdebat. "Ya, Pak Presiden. Saya akan makan dengan tenang dan sopan.''
Di mansion Alio Wilson, semua orang harus memiliki tata krama, apalagi saat pria itu ada disana.
Alio menatap Olivia, mata mereka pun saling bertemu selama beberapa detik, lalu mereka berdua melirik ke arah nuget yang lezat itu.
Detik berikutnya, Alio langsung memegang piring nuget Olivia, lalu dengan tak tahu menahu membawanya pergi.
"Tunggu!" ucap Olivia tak terima.
Dengan wajah bingung, Olivia menatap tajam pria itu—ingin protes. "Pak Presiden, bukankah itu tindakan yang tidak wajar? Bukankah Anda phobia kotor?"
__ADS_1
"Aku lapar, meskipun tadi aku menolaknya karena harga diriku ... aku tidak punya pilihan karena harus bertahan hidup demi mengurus negara! Bukankah kau tadi menawarkan makanan ini padaku? Berarti kau memberikannya, kan? Karena aku seorang presiden, maka semuanya jadi milikku dan kau ... buat saja yang baru lagi!" sahut Alio menahan malu.
Olivia ternganga dan tak percaya, jawaban macam apa itu? Dan ini baru pertama kalinya ia mendengar si kutub utara berbicara panjang lebar.
"Tapi, bukan hanya itu—" ucap Olivia ragu-ragu, jari telunjuknya langsung menunjuk ke arah nuget yang baru saja dimakan pria itu.
Alio langsung bertanya dengan alis yang mengernyit. "Ada apa?"
"Itu … yang kamu makan, sudah aku gigit." Olivia berkata dengan suara pelan.
Alio mengerjapkan kedua matanya dengan cepat, wajahnya tampak terkejut, pria itu menatap Olivia dengan tatapan ganas seperti ingin membunuh orang.
Olivia takut dan kakinya terasa lemas, ia dengan cepat menghampiri Alio dan dengan sopan meletakkan tangannya di bawah bibir pria itu. "Muntahkan!" ucapnya pelan dan agak panik.
Olivia ingin mengeluh!
Bibir tipis Alio bergerak, pria itu sungguh ingin memuntahkan nuget yang baru saja ia makan.
Tapi...
Pria itu sedikit bingung dengan wajah yang marah dan kesal.
Olivia masih membujuk Alio dengan mata penuh harapan dan dengan sabar menunggu pria itu.
Telapak tangan Olivia yang lembut berada tepat di bawah bibir Alio dan pria itu bisa mencium aroma tangan Olivia.
__ADS_1
Aroma elegan yang sangat harum dan menyegarkan.
Alio tak bisa melupakan malam panas lima tahun yang lalu dan aroma tubuh wanita itu yang manis seperti wewangian.
Dan sampai sekarang pun, Alio masih ingat dengan jelas aroma tubuh wanita itu … walaupun itu hanya sebuah ingatan.
Olivia tak menunggu pria itu menjawab dan memanggilnya. "Pak Presiden?"
Alio tersadar dari pikirannya, matanya berubah menjadi dingin saat menatap Olivia. Kemudian, ia menelan kunyahan yang hampir lunak dan tersenyum penuh arti pada Olivia.
Ada apa dengan senyuman aneh pria itu? batin Olivia bingung.
Seolah menyadari sesuatu, wajah Olivia tiba-tiba memerah karena malu.
Dia ... Apakah dia sungguh menelannya?
Olivia terkejut karena Alio memilih memakannya dari pada memuntahkannya.
Jadi … diantara mereka, apakah ini dianggap sebagai ciuman tak langsung?
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~