Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 88


__ADS_3

Alio melototi Arnold, adiknya itu terlalu banyak bicara.


Olivia membalas Arnold. "Tolong jangan mengejekku, ya! Jika aku seorang istri yang pengertian dan ibu yang penyayang, kenapa aku masih belum punya pacar?"


"Suatu keberuntungan bisa menikah dengan Kak Olivia, jika kak Olivia ingin punya pacar, aku akan mencoba menjodohkan Kak Olivia dengan pria yang bisa diandalkan kapan saja."


"Benarkah?" Olivia tersenyum, matanya membentuk bentuk bulan sabit. Wanita itu memalingkan wajahnya ke Arnold dan bercanda dengannya. "Baiklah, kalau begitu aku bisa menyerahkan masalahku ini padamu."


"Yakinlah, aku akan mengingatnya. Jika ada kecocokan, aku akan... "


"Sekretaris Arnold, sejak kapan kau menjadi mak comblang paruh waktu?" ucap Alio termenung.


Pria itu memotong pembicaraan mereka, tatapannya menusuk Arnold dan Olivia, setajam silet.


Arnold merinding dan langsung menutup mulutnya, ia merasakan ada sesuatu yang salah antara kakaknya dan kak Olivia saat datang ke sini dan sekarang ia bahkan lebih yakin tentang itu.


Berpikir kalau lelucon Arnold lah yang membuat Presiden tak senang, Olivia tak mengatakan apa-apa dan hanya berkonsentrasi pada tugasnya sendiri.


Setelah beberapa saat, Olivia berkata. "Selesai."


Setelah membantu Alio mengenakan kemeja dan jas, Olivia mundur selangkah.


Mengenakan pakaian formal, Alio tampak seperti orang lain yang berbeda dari yang terluka mengenakan pakaian pasien dan terbaring di tempat tidur.

__ADS_1


Saat pria itu berbaring di tempat tidur dan membutuhkan perawatan Olivia, Alio jauh lebih mudah untuk didekati.


Hari ini, pria itu bukan lagi seorang pasien. Berdiri di sana, dia menjadi Pak Presiden lagi.


Temperamen kepemimpinan Alio membuat orang menjauh, seolah-olah … pria itu adalah puncak yang sulit untuk didaki dan orang-orang hanya bisa memandangnya.


Pria dengan pakaian formal adalah Alio yang asli, seorang Presiden negara ini.


Dan Olivia, salah satu rakyat sipil, hanya bisa memandangnya dengan kagum.


"Kak Olivia, kakakku sudah lebih baik sekarang. Kakak bisa kembali ke kediaman Presiden hari ini. ''


Kalimat yang diucapkan Arnold mengganggu pikiran Olivia.


Bahkan punggungnya yang tinggi dan tegap penuh dengan kekuatan.


"Haruskah aku kembali hari ini?" Olivia tak menyangka dan melirik ke belakang lagi. "Jika Dokter Lay perlu bantuan untuk mengganti perban baru—" ucapan Olivia tiba-tiba terhenti.


Arnold tersenyum. "Selama kakakku berhasil bertahan di depan media hari ini, itu tidak akan lagi menjadi masalah."


"Baiklah." Olivia mengangguk. "Aku akan mengambil tasku dan pergi."


"Baiklah, supir akan menunggu Kak Olivia di luar pintu. Sekarang, kami akan pergi dulu," pamit Arnold.

__ADS_1


"Oke," Olivia berpikir sejenak, "Pak Presiden belum sepenuhnya sembuh. Jadi, jangan biarkan dia terlalu lelah!"


Arnold tersenyum lagi. "Tentu saja."


Tampaknya Arnold sudah tahu tentang semuanya yang membuat Olivia merasa sedikit malu. Untungnya, Arnold tak tinggal lama dan mereka pergi dengan terburu-buru.


Melihat mobil-mobil itu perlahan-lahan menghilang, Olivia agak tertekan.


Olivia akan pulang dan bertemu Olvi, bukankah seharusnya dia bahagia?


...—oOo—...


Di dalam mobil.


"Mengapa kau tidak memberitahuku tentang pekerjaan Olivia?" tanya Alio pada Arnold.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2