
Keesokan harinya.
Olivia bangun pagi-pagi dan langsung mandi. Setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi dan mendengar suara berisik dari unit apartemen sebelahnya.
Seperti sedang direnovasi? Ada apa, ya?
Unit apartemen disebelah sudah lama kosong, apa sekarang sudah ada yang mau isi unit itu? Lumayan juga sih kalau seperti itu, setidaknya jadi lebih ramai punya tetangga baru.
Dengan berpikir seperti itu, Olivia tak mau ambil pusing. Setelah beres-beres dan mengganti pakaian, Rena menelponnya, mereka janjian mau berangkat kerja bareng.
Olivia segera menjawab telpon dan buru-buru keluar dengan membawa tasnya.
"Permisi, apakah Anda Nona Olivia?"
Saat Olivia baru saja keluar dari unitnya, seorang pria tiba-tiba menghalangi jalannya, pria itu membawa blueprint dan mengenakan kacamata—terlihat seperti seorang desainer.
Olivia agak bingung sambil mengamati pria tersebut, lalu ia mengangguk dengan rasa penasaran. "Ya, itu aku. Anda siapa?"
"Halo, saya adalah desainer untuk ruangan ini. Ruangan di sebelah akan disambungkan dengan ruangan ini, jadi dalam beberapa hari ini mungkin akan sedikit mengganggu Anda. Mohon pengertiannya."
Olivia ragu ... apakah ia salah dengar? Sejak kapan unit apartemen di sebelah juga menjadi miliknya?
"Tapi, saya tidak pernah bilang ingin menyambungkan ruangan! Unit itu juga bukan milik saya. Apakah ada kesalahpahaman?" Olivia merasa sangat bingung. Unit di sebelah bukan ia yang sewa, selain itu—ia juga cuma penyewa di sini.
__ADS_1
Jadi, bagaimana mungkin Olivia meminta untuk menyambungkan dua ruangan?
"Client saya pernah bilang, jika Anda memiliki pertanyaan, Anda bisa langsung menghubungi dia melalui telepon."
"Client Anda? Maaf, siapa?"
"Dia hanya bilang namanya Ali."
Olivia langsung mengerti, dalam hidupnya, satu-satunya orang yang ia kenal dengan nama Ali—selain Alio Wilson, tak ada orang lain lagi!
Tapi, kenapa mereka sudah mau merenovasi pagi-pagi sekali?
Olivia bertanya-tanya di benaknya, ia mengambil handphonenya dan segera menelepon Alio.
Alio mengangkat tangannya, memindai sidik jari dan setelah berhasil masuk, baru ia menjawab telepon dari Olivia.
"Apakah desainer itu memang orang yang kamu panggil?" tanya Olivia.
"Ya, desainer profesional, kemampuannya seharusnya lumayan bagus. Kenapa? Kau tidak suka?"
"Bukan begitu...," ucap Olivia melirik desainer itu. "Hanya saja, kenapa harus membongkar apartemen? Sebenarnya, aku nyaman tinggal di unit kecil ini."
"Kalo cuma kamu sendiri, mungkin masih bisa. Tapi, bagaimana bisa kamu tinggal bersama tiga orang? Seperti yang terakhir kali, apakah semua orang akan menumpuk di satu tempat tidur?"
__ADS_1
Mengingat kejadian sebelumnya, wajah Olivia memerah. Tapi, sepertinya ... perkataan Alio agak aneh!
"Ada apa dengan tinggal bersama tiga orang? Kamu juga tidak akan—"
"Terkadang, aku juga harus pergi menemui Olvi, kalau sudah terlalu larut malam, tidak ada salahnya menginap di sana."
"..." Olivia menatap ruangan yang sedang dibongkar, sudut bibirnya berkedut. Dengan perluasan sebesar itu, apakah benar-benar hanya untuk menginap sesekali?
"Renovasi unit apartemenmu akan memakan waktu dua atau tiga hari. Selama itu, kamu akan tinggal di mansion untuk sementara waktu."
Olivia menatap lagi ke arah ruangan yang sedang dibongkar dan merasa seolah-olah ia tak punya pilihan.
Alio mulai sibuk dan setelah beberapa penjelasan singkat, mereka berdua akhirnya menutup telepon.
- Bersambung -
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1