
Alio tertawa ringan dan tawa itu terdengar sangat menyenangkan—membuat hati Angela berdebar.
Namun, di sisi lain suara tawa itu justru membuat Angela cemas tanpa alasan. Angela tak mengerti apa maksud dari tawa pria itu.
Lalu, tiba-tiba suara Alio terdengar lagi dari ujung telepon.
"Kalau kamu serius, kenapa tak kita majukan saja, pernikahannya jadi lima hari lagi?"
"Seriusan?" tanya Angela yang masih tak percaya.
"Serius."
Setelah mendengar itu, Angela sangat semangat. "Kalau begitu ... aku akan langsung memberitahu ayahku!"
Alio tak mengatakan apa-apa lagi, lalu ia menutup teleponnya.
Setelah itu, senyuman Alio langsung menghilang, dalam sekejap mata.
Alio melirik layar handphonenya, dengan ekspresi yang lebih dingin dari sebelumnya.
Lalu, Alio pun langsung memblokir nomor Angela tanpa ragu.
Lima hari lagi—akan ada pertunjukan yang sangat besar yang sudah disiapkan oleh Alio, untuk Dion dan Angela Scarlett.
__ADS_1
Setelah itu, Alio pun menghabiskan minumannya dengan sekali teguk.
Karena udara malam semakin dingin—Alio masuk dan berjalan dengan langkah berat menuju kamar tidur.
Alio menikmati kegelapan, saat ia melewati ruang tamu. Namun, Alio tidak sengaja menabrak sudut sofa sehingga membuat sofa itu sedikit bergeser, akibat benturan itu.
"Hm~" lenguhan lembut terdengar dari sofa, yang membuat Alio sangat terkejut.
Suara ini ... ternyata Olivia masih ada disini! batin Alio yang merasa—seperti dihantam oleh sesuatu dengan keras tepat di jantungnya.
Alio membungkuk, lalu menyalakan lampu yang ada di dekatnya, memberikan cahaya yang redup tapi tak menyilaukan.
Dalam sekali pandang, Alio melihat Olivia. Wanita itu seperti anak kecil, saat tidur di sofa! Tubuhnya terlipat di atas sofa, dan terlihat sedang memeluk bantal, ia terlihat sangat menggemaskan di mata Alio.
...—oOo—...
Setelah itu, Olivia sadar, kalau saat ini Alio sedang berdiri tepat di samping sofa, sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
Alio sudah melepas jasnya dan saat ini Alio hanya mengenakan kemeja putih saja.
Penampilan Alio saat ini terlihat—satu tangan ada di saku celananya dan yang satunya lagi, megang handphonenya.
Lengan kemejanya digulung hingga sebatas siku, menampakkan lengan yang kekar.
__ADS_1
Alio yang hanya mengenakan kemeja putih, entah kenapa jadi terlihat sangat tampan di mata Olivia.
Olivia terus ngeliatin gerak-gerik Alio dan ia tanpa sadar terpesona.
"Kau lagi liatin apa!?" tanya Alio, sambil melempar handphonenya ke atas meja.
Lalu, Alio menatap Olivia tajam—hingga membuat Olivia merasa canggung.
Untungnya, cahaya di ruangan itu redup, dan Alio tak bisa melihat wajah Olivia yang tersipu malu.
Olivia merapikan rambutnya dan buru-buru duduk tegak, wanita itu mengalihkan pandangannya dan bertanya seperti biasanya. "Kapan kamu pulang?"
Alio duduk di sofa, tepat disamping Olivia. Lalu, ia menoleh ke samping dan menatap Olivia intens.
Sofanya bergaya Eropa itu, sebenarnya sangatlah lebar dan kira-kira sofa itu—bisa muat tiga sampai empat orang dewasa.
Namun, setelah Alio duduk sambil menatap Olivia sampai sebegitunya, entah kenapa tiba-tiba Olivia merasa jadi sangat sempit.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thank you so much and see you next chapter~