
Olivia tak langsung pergi bekerja ke Kementerian Luar Negeri, tetapi menelepon Jesi.
Jesi dan sekelompok istri pejabat sedang berkumpul sambil minum teh, suami mereka sedang bekerja dan mereka mempunyai waktu lebih luang.
Luka di dahi Jesi tak bisa ditutupi dengan rambut, jadi beberapa istri pejabat pada ngelawak bilang itu tanda kekerasan dalam rumah tangga, membuat Jesi merasa sangat malu.
Ditambah lagi nasib Jesi lagi kurang beruntung, jadi waktu Olivia menelponnya ingin mengajak ketemuan, Jesi langsung memberikan alamatnya.
Jesi lagi bingung cari tempat buat melampiaskan emosi! Jika Olivia datang hari ini, tentu saja Jesi tak akan membiarkannya pergi begitu saja!
"Sebentar lagi, putri tertua saya, Olivia Stein, akan datang ke sini. Begitu dia masuk, aku akan mengunci pintu dan aku yang akan menghajar dia. Kalian jangan cuma jadi penonton. Lihat, kalian lihat luka ini kan? Kekerasan dalam rumah tangga, memang benar-benar kekerasan dalam rumah tangga, ini gara-gara si anak nakal itu yang memukulku."
"Si anak nakal itu sangat berani, ya?" ucap Nyonya Glen setelah meminum tehnya, "Biasanya kelihatan cukup polos."
"Itu semua palsu, dia berpura-pura polos!"
"Luka kamu juga cukup serius ya! Kita juga sudah saling kenal bertahun-tahun, kita harus membantu kamu mengatasi masalah ini. Nanti kita semua akan ikut menegurnya bersama-sama, bahkan gadis nakal sehebat apa pun pasti bisa kita hadapi." Nyonya lainnya juga ikut menyambung pembicaraan.
__ADS_1
Begitu Jesi mendapatkan banyak dukungan, ia merasa jadi lebih tenang sekarang.
Jadi, ia hanya tinggal menunggu Olivia datang ke sini.
Jesi sangat takut dengan Presiden Alio. Tapi kemarin, Yuta juga bilang, Presiden Alio pasti tak akan sembarangan membahayakan nyawa seseorang. Hanya dengan berpegang pada poin ini, Jesi tak takut berbuat keresahan.
...—oOo—...
Beberapa waktu kemudian, Olivia benar-benar datang.
Begitu Olivia masuk ke dalam ruangan, wajahnya langsung cemberut dan ia sendiri langsung menuju ke arah ibu tirinya.
"Aku bertanya, 5 tahun yang lalu, ibu tiri tidak diam-diam menjualku, kan?!"
Dengan wajah dingin, Olivia tak perlu basa-basi, ia langsung to the point bertanya dengan tegas pada ibu tirinya.
"..." Jesi tak menyangka Olivia tiba-tiba menanyakan itu, Jesi sedikit gemetar saat meraih tangannya yang memegang cangkir teh.
__ADS_1
Ada ketakutan tersirat di wajah Jesi, setelah jeda sejenak Jesi pun menjawab, "Aku tidak mengerti kamu membicarakan apa! Jual-jual apa?!"
"Aku tanya lagi! Apakah ibu tiri mengambil uang yang dikasih sama orang itu?! Apakah ibu tiri menaruh obat di susu yang aku minum?!" ucap Olivia satu kata demi satu kata dengan keras, suaranya bergetar, ekspresi wajahnya yang dingin membuat orang yang melihatnya ketakutan.
Jesi tegas menolak untuk mengakui, wanita itu juga takut untuk mengakui. Pada awalnya, ia memang diam-diam menjual Olivia, tetapi ia tak menyangka bahwa orang itu akan memaksa Olivia untuk melahirkan anaknya.
Untuk memberikan sedikit keberanian pada dirinya sendiri, Jesi berdiri dan menghela napas dingin, "Olivia, kehidupan pribadimu berantakan, kamu hamil di luar nikah karena pria liar yang entah dari mana. Tapi malah menuduhku? Kamu sangat jahat, berpikir bahwa dengan begitu kamu bisa memprovokasi hubungan antara ayahmu dan aku, kan? Aku bilang padamu, yang kamu lakukan—"
PLAK!
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
__ADS_1
Thankyou so much and see you next chapter~