
"Kenapa ya?" tanya Olivia sopan dan sangat penasaran mengapa Alio memanggilnya.
"Mohon maaf, Nyonya. Tuan tidak memberi tahu saya alasannya," jawab maid itu sopan.
"Baiklah...," ucap Olivia, lalu pergi ke kamar Alio.
Beberapa saat kemudian...
Olivia pun tiba di depan pintu kamar Alio—lalu ia mengetuk pintu kamar tersebut.
Tok, tok, tok...
"Ini aku," ucap Olivia lembut.
"Masuk!" sahut Alio dari dalam kamar, lalu mempersilahkan Olivia masuk.
Olivia membuka pintu dan melihat Alio sedang sibuk mengancing kemejanya.
Alio menghentikan aktivitasnya begitu melihat wanita itu. "Kemarilah!" perintahnya.
Olivia mendekati Alio tanpa ragu. Pria itu mengulurkan tangannya meminta bantuan Olivia untuk memasangkan kancing mansetnya.
Melihat itu, Olivia langsung membantu Alio tanpa berpikir panjang. Alio terpesona dengan keindahan gerakan tangan Olivia yang cekatan saat memasang manset berlian tersebut.
__ADS_1
Saat menunduk, rambut di sekitar pelipis Olivia terjatuh dan menutupi pandangan wanita itu sedikit.
Alio mengaitkan rambut Olivia yang jatuh ke belakang telinga wanita itu tanpa sadar.
Olivia tersentak kaget, lalu mendongakkan kepalanya membuat tatapan mereka bertemu.
"Apa kamu memanggilku sepagi ini ... hanya untuk melakukan ini?" tanya Olivia.
Sebelum Alio bisa menjawab pertanyaannya Olivia, Kepala pelayan datang sambil membawakan jas Alio dan Sebas meletakkannya di tempat biasa.
Olivia meraba jas tersebut dan merasa kalau jas itu sangat tipis. Tanpa pikir panjang, Olivia berkata, "Pakailah yang lebih tebal lagi, katanya hari ini akan hujan lebat dan udara di luar sana pasti akan semakin dingin."
Olivia menyadari kalau dirinya terlihat sangat khawatir. Merasa canggung, ia tidak berani menatap Alio terlalu lama.
"Baiklah," sahut Olivia lembut sambil menganggukkan kepalanya.
Lalu, Alio mengalihkan topik pembicaraan. "Olivia, aku masih menunggu jawabanmu mengenai ibu tirimu," ucapnya.
Alio sadar kalau kesalahannya adalah akar dari semua tragedi ini dan Alio merasa tak berhak menentukan bagaimana nasib ibu tiri Olivia selanjutnya.
"Ngomong-ngomong tentang hal itu," ucap Olivia sedikit murung lalu tersenyum pahit, "bukankah seharusnya aku menyelesaikan masalah ini sama kamu dulu, ya?"
"Aku minta maaf," ucap Alio meminta maaf, dengan tulus kepada Olivia.
__ADS_1
Sebenarnya, Olivia sangat membenci Alio sejak pertama kali ia mendengar tentangnya. Namun, ketika ia mulai mengenal Alio lebih dalam, perasaannya mulai berubah. Ia merasa khawatir dan bergantung pada Alio, dan akhirnya perasaan benci Olivia terhadap Alio lenyap.
Olivia mengambil napas panjang sebelum berbicara, "Aku akan menangani masalah ini sendiri dan akan bertemu dengan ibu tiriku pagi ini."
Alio terdiam sejenak, lalu menawarkan bantuannya, "Jika kau membutuhkan bantuan, katakan saja padaku. Aku siap membantu."
"Terimakasih perhatiannya...," ucap Olivia mengangguk sambil tersenyum pada Alio,
Meskipun Olivia ingin bertanya kepada Alio tentang masalah pernikahan politiknya Alio, tapi ia menyadari masalah itu sangat rahasia dan juga sensitif.
Lalu, sebagai gantinya—Olivia mengalihkan pembicaraan dan menanyakan sesuatu yang lain pada Alio.
"Ada sesuatu yang mau aku tanyakan," ucap Olivia, sambil menatap Alio dengan tatapan tajam.
— Bersambung —
***
Kalau kalian menyukai cerita ini … jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment dan tambahkan cerita ini ke favorit kalian agar mendapatkan notifikasi updatenya, ya~
Support juga penulis dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah, biar semakin semangat, ya!
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1