Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 182


__ADS_3

Rena tiba-tiba bertanya. "Sekarang sudah larut malam, apakah kamu mau tetap di sini bersamaku? Mungkin acarnya akan selesai besok pagi."


"Maaf Rena jam kerjaku sudah selesai, sekarang aku bau, lebih baik aku beristirahat dan mandi."


Rena tak mengatakan apa-apa lagi dan hanya mengangguk, membiarkan Olivia pergi.


Ketika Olivia kembali ke kamarnya di bangunan lain mansion keluarga Wilson, hari sudah sangat larut malam.


Sebas dan yang lainnya masih menunggu di auditorium.


Olivia melepas blazernya dan seorang maid dengan cepat mengambilnya.


"Apakah Tuan muda sudah tidur?" tanya Olivia.


"Iya, Tuan muda tidur lebih awal," jawab maid itu kemudian.


"Ngomong-ngomong...," ucap Olivia ragu sambil melihat ke lantai atas. "Apakah Pak Presiden sudah kembali?"


Maid itu menggelengkan kepalanya. "Pak Presiden bilang kalau dia tidak akan kembali malam ini."


"Oh begitu..."


Olivia tak menanyakan apa-apa lagi dan berjalan perlahan menaiki tangga ke lantai atas.


Kata-kata yang diucapkan Yuta pada Olivia tadi masih bergema di benak wanita itu sampai saat ini.

__ADS_1


Mereka akan segera menikah...


Ya, bagaimanapun Pak Presiden dan Angela Scarlett akan menikah cepat atau lambat di masa depan.


Setelah mandi, Olivia berbaring di atas tempat tidurnya, ia membolak-balikkan tubuhnya cukup lama sebelum akhirnya tertidur.


...—oOo—...


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali, Olivia dan Olvi sarapan bersama.


Olvi memperhatikan Mamanya cukup lama dan Olivia menyadari tatapan anak itu. "Sayang, makan sarapanmu, kenapa melihat Mama seperti itu?"


"Apakah suasana hati Mama sedang tidak baik?"


"Mama jangan berbohong! Aku bisa melihat semuanya."


"Tidak kok, Sayang." Olivia enggan mengakui kalau ia sedang dalam suasana hati yang buruk, untuk apa aku badmood?


Olvi mengambil bubur dan menggerutu. "Seorang wanita yang keras kepala sama sekali tidak lucu. Mama memperlakukanku sebagai anak berusia tiga tahun lagi."


Olivia mencubit daun telinga putranya yang mungil. "Mama tahu kamu tidak berusia tiga tahun, usiamu empat tahun, hampir lima, kan?"


"Hari ini adalah hari ulang tahun Papa, apakah Mama sudah menyiapkan hadiah untuk Papa?'' tanya Olvi mengubah topik.

__ADS_1


"Papamu tidak kekurangan apapun, jadi dia tidak akan peduli apakah Mama memberikan hadiah kepadanya atau tidak. Karena itu, Mama hanya akan mengucapkan 'Selamat Ulang Tahun' kepadanya."


"Itu terlalu biasa," ucap Olvi lalu mendesis. "Papa akan marah."


"Marah saja sesukanya, Mama tidak peduli," sahut Olivia acuh tak acuh.


Olvi menatap Olivia dengan curiga dan kemudian menegaskan. "Apakah suasana hati buruk Mama karena Papa?"


"Tidak!" bantah Olivia cepat.


"Mama bertengkar dengan Papa. Jangan berbohong padaku! Aku bisa melihat semuanya!"


"Cuci tanganmu setelah makan, ini sudah waktunya pergi sekolah," balas Olivia meletakkan peralatan makannya dan menurunkan anak itu dari kursinya.


Olvi menjulurkan lidahnya dan tak berani mengatakan kata-kata lagi. Bagaimanapun, anak itu bisa melihat bahwa Mamanya sedang dalam suasana hati yang buruk hari ini!


Pada awalnya, Olivia tak ingin menyiapkan hadiah apapun untuk Alio, tapi di sore hari ia pergi ke mall tanpa sadar.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~

__ADS_1


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2