
Olivia menundukkan kepalanya untuk menghindari kontak mata dengan Alio.
Pria ini jelas merupakan malaikat di kehidupan sebelumnya karena dia sangat sempurna!
"Yah... aku baik-baik saja, itu tidak sakit." Olivia akhirnya membuka suaranya.
Itu adalah kalimat biasa, tapi wanita itu berbicara dengan terputus-putus karena gugup.
Alio terus memijat dan hanya menatap Olivia lalu bertanya. "Apa yang terjadi dengan pekerjaanmu?"
"Hah?" Olivia tak fokus karena ia sangat dekat dengan Alio.
"Aku baru saja mendengar kau berbicara di telepon, kau tereliminasi dari Kementerian Luar Negeri?"
"Oh … iya." Olivia menjernihkan pikirannya. "Aku ada penilaian magang pada hari kamu terluka. Tapi, sebelum dimulai … Arnold menelponku dan mengirim orang untuk menjemputku, jadi aku tidak berpartisipasi di dalamnya."
"Kenapa kau tidak mengatakan itu sebelumnya?"
__ADS_1
"Yah… bagaimanapun juga, aku sudah berpikir untuk mencari pekerjaan lain, jadi tidak ada yang perlu dikatakan," balas Olivia berpura-pura santai. Tapi, ia masih agak kesal dan sedih di dalam hatinya.
Alio melirik Olivia dan berpikir wanita itu akan mengatakan sesuatu lagi, tapi wanita itu malah menjadi diam.
Alio bertanya. "Apakah ada hal lain yang ingin kau sampaikan kepadaku?"
"Apa?" Olivia mendongak sedikit, saat Alio menundukkan kepalanya bibir mereka hampir bersentuhan.
Dada Olivia terasa semakin sesak dan wajahnya memerah, lalu ia berkata dengan suara pelan, "Yah ... terima kasih, pinggangku tidak sakit lagi."
Setelah itu, Olivia mundur selangkah dan menjaga jarak dari Alio.
Olivia, kamu sudah memperingatkan dirimu sendiri untuk bersikap bijaksana! Bagaimana kamu bisa mendapat masalah saat kamu dekat dengan Alio? Olivia diam-diam mengingatkan dirinya sendiri dalam benaknya.
Alio tak tahu kalau Olivia memiliki begitu banyak pikiran pada saat itu.
Setelah melihat wanita itu, Alio duduk di sofa dan memegang sandaran tangan, lalu berkata. "Kau bisa memintaku untuk memberimu pekerjaan di Kementerian Luar Negeri. Kau tahu, bagiku itu sangat mudah."
__ADS_1
Olivia berpikir, bagaimana ia bisa begitu percaya diri? Siapa dia? Dan mengapa pria itu pikir ia memiliki keberanian untuk meminta Presiden negara membantunya dalam hal sepele seperti itu?
"Aku tidak terbiasa berutang budi pada orang lain. Selain itu, aku sudah mencari pekerjaan baru."
Alio sangat tak puas dengan jawaban Olivia. Pria itu melirik Olivia dengan matanya yang dingin dan berkata. "Kau berusaha sebaik mungkin untuk merawatku, jadi permintaan seperti itu tidak berlebihan. Terlebih lagi, itu karena aku ... kau jadi tidak berpartisipasi dalam penilaian."
Olivia masih menggelengkan kepalanya, memandang Alio sambil mempertimbangkan di dalam pikirannya selama beberapa saat, kemudian ia membalas. "Sebenarnya, alasan mengapa aku melakukan yang terbaik untuk merawat Pak Presiden karena ... kamu adalah Presiden paling populer di negara kita, jadi kau tidak perlu bawa ke hati. "
Alio menoleh dan menatap wajah Olivia, matanya menjadi semakin dingin. "Hanya itu?"
"Tentu saja itu juga karena kamu adalah ayah Olvi, jika sesuatu terjadi padamu, anak itu akan sangat sedih. Aku ... tidak ingin dia tidak bahagia."
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~