Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 147


__ADS_3

Olivia ingin terdengar tenang sebisa mungkin, tapi nada suara ragu-ragu mengkhianatinya. Jika Olivia benar-benar tertular, kapan ia bisa mendengar suara Alio lagi? Atau mungkin … ia tak akan punya kesempatan lagi untuk mendengar suara pria itu.


"Hmm, kau tutup telepon dulu," ucap Alio.


"Oke," balas Olivia dengan suara yang lebih lembut.


Wanita itu diam sejenak dan akhirnya memutuskan untuk menekan tombol tutup telpon.


"Tunggu!" suara Alio terdengar lagi dari seberang telpon.


Olivia kaget, wanita itu segera kembali ke telepon. "Ada apa?"


"Terakhir kali kau bilang akan memasak untukku, apakah kau masih ingat?"


"..." Olivia terdiam.


Tentu saja! Olivia ingat, tapi bukankah pria itu bilang tidak secara tak langsung?


"Malam ini, aku akan mencoba pulang lebih awal," ucap Alio tak memberi Olivia kesempatan untuk menolaknya dan suaranya dingin seperti biasanya. "Olivia, jangan mengingkarinya lagi!"


"Tapi..."


Sebelum Olivia bisa mengatakan sesuatu, Alio tiba-tiba menutup telepon.


Olivia menatap layar handphonenya dan bertanya-tanya kapan dia mengingkarinya?


Terakhir kali, ia sama sekali tak berjanji memasak untuk pria itu!


Tunggu!

__ADS_1


Ini bukan intinya.


Intinya, Olivia benar-benar tak bisa pulang malam ini.


Olivia mencoba menelpon Alio lagi untuk mengganti jadwal memasaknya. Namun, pria itu sama sekali tak menjawab teleponnya.


Wanita itu bersandar di dinding dengan handphone di tangannya, ia merasa khawatir.


Olivia sudah bisa membayangkan adegan saat pria itu marah.


...—oOo—...


"Olivia."


Yuta datang dengan membawa tas berisi obat-obatan di tangannya.


"Dokter bilang kita bisa pulang sekarang," ucap Yuta lalu menyerahkan obat. "Minum ini!"


Olivia menurut dan meminum obat yang diberikan pria itu, baru saja ia hendak mengucapkan 'terima kasih', tapi Yuta tiba-tiba menggendong wanita itu dalam pelukannya lagi.


"Yuta!" protes Olivia.


"Kamu sangat lemah sekarang, jadi hematlah energimu," balas Yuta. "Dokter bilang kalau demammu akan mereda setelah kamu minum semua obat ini, kamu tidak tertular virus. Jadi, jangan khawatir! Kamu akan baik-baik saja."


Olivia tahu Yuta sedang menghiburnya, tapi ia tak ingin Yuta terlalu khawatir padanya.


"Iya, aku akan baik-baik saja," balas Olivia sambil tersenyum.


Mungkin Olivia terlalu lelah, saat Yuta membawanya ke mobil pria itu, ia tertidur.

__ADS_1


Olivia berbaring diam di pelukan Yuta dan wajah cantiknya memerah karena demam, membuat wanita itu tampak seperti anak kecil.


Sambil berjalan, Yuta menatap wanita yang berada dalam pelukannya dan kembali teringat masa lalu mereka.


Sekarang, rasanya seperti mimpi, Yuta tak menyangka bahwa suatu hari ... ia akan begitu dekat dengan Olivia.


Yuta berharap waktu akan membeku selamanya di moment ini dan kemudian Olivia akan selalu berada di pelukannya.


Bahkan jika Olivia sakit parah, Yuta bersedia merawatnya sepanjang hidupnya.


...—oOo—...


Saat Olivia bangun, ia berbaring di tempat tidur asing di kamar yang asing pula.


Dimana aku?


Olivia bingung dan berusaha keras untuk duduk, ia merasakan suhu tubuhnya belum normal, terkadang dingin dan terkadang panas.


Wanita itu berpikir keras untuk mengingat kalau ia pergi ke rumah sakit dan setelah itu ia bertemu dengan Yuta. Lalu … semuanya kosong! Olivia tak mengingat apapun lagi.


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~

__ADS_1


__ADS_2