
Di malam hari, Olivia pergi ke supermarket untuk membeli sayuran terlebih dahulu. Saat sedang jalan-jalan di supermarket, Olivia teringat kembali waktu mereka bertiga jalan-jalan bersama di supermarket.
Dulu, meskipun ayah dan anak itu sering berselisih karena sering ribut gara-gara hal besar maupun hal kecil, tapi sekarang setelah dipikir-pikir, kenapa ada rasa hangat yang tak terlukiskan?
Olivia tak tahu ke depannya apakah akan ada kesempatan seperti itu lagi atau tidak? Siapa tahu itu mungkin akan jadi yang pertama kalinya dan yang terakhir kalinya.
Di hati Olivia ada rasa getir, ia menggeleng-gelengkan kepalanya, tak ingin memikirkannya lagi, lalu mengambil beberapa sayuran segar dan daging dari pendingin.
...—oOo—...
Saat kembali ke hotel King, di kamar yang besar itu, masih kosong dan tak ada orang di sana.
Olivia masuk ke dapur dan dengan mahirnya menyiapkan makan malam.
Olivia tak tahu juga kapan Alio akan datang.
Takut Alio datang terlalu malam dan makanan yang sudah dimasak jadi basi.
Akhirnya, Olivia hanya menyiapkan alat dan bahan sambil menunggu.
Begitu Alio datang baru disiapin dengan cepat karena masih sempat.
__ADS_1
Olivia berpikir begitu, ia melepas apron, lalu melangkah keluar dari dapur. Setelah melepas ikat rambut, Olivia nyelonong duduk di sofa ruang tamu sambil menonton tv yang membosankan.
...—oOo—...
Sejak scandal itu sampai sekarang, Alio telah menerima beberapa telepon dari kediaman orangtuanya yang memintanya untuk kembali sebentar.
Dan baru sekarang, Alio benar-benar bisa meluangkan waktu.
Begitu Alio memasuki kediaman orangtuanya, Mamanya dan Alea sedang duduk di ruang tamu.
Kedua wanita itu sedang mengobrol dengan suara pelan.
Alio dengan cuek hanya membalas. "Hmm," lalu menyapa Mamanya.
Wanita tua itu menatap Alio dengan cemas, lalu melirik ke lantai atas. "Wajah ayahmu sudah jelek selama beberapa hari ini, cepat naik ke atas!"
Alio mengangguk, tapi Mamanya masih khawatir, wanita tua itu mengikuti Alio naik sambil memperingatkan. "Kamu harus sangat hati-hati saat berbicara, ayahmu masih sangat marah sekarang."
Alio mengangguk lagi, lalu menaiki tangga dengan perlahan.
Tuan Wilson sekarang ada di ruang kerja dan sedang menelpon. Alio masuk ke dalam, begitu pria tua itu berbalik, tatapan melotot yang tajam dan dingin langsung tertuju ke arah Alio.
__ADS_1
Namun, Alio seolah sudah terbiasa dengan sikap ayahnya yang seperti itu, jadi ia hanya mengambil sebuah buku sembari membolak-balikkan halaman dan pura-pura tak peduli dengan tatapan ayahnya.
Setelah beberapa saat, pria tua itu berkata. "Baiklah, jangan khawatir, aku tahu tentang masalah ini dengan baik, jadi aku akan membicarakan hal ini dengannya."
Begitu telepon ditutup, pria tua itu memukul meja dengan telapak tangannya.
BRAKK!!
Suara itu terdengar keras menggelegar di ruang kerja, jika bukan karena kualitas meja yang bagus, pasti sudah hancur karena gebrakan itu.
"Jadi inikah kelakuan kamu sebagai seorang Presiden?!" teriakan marah yang dingin dan penuh kehormatan—membuat koran di atas meja dilemparkan tepat di depan Alio. "Lihatlah foto-foto ini, mana yang menarik perhatianmu?!"
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~
__ADS_1