
Olivia menggesek kartu untuk membuka pintu dan berdiri di ruang tamu, ia merasakan sekelilingnya begitu sunyi.
Tidak ada orang...
Dalam ruang yang begitu luas seperti ini tanpa lampu menyala—membuat hati Olivia semakin gelisah.
Olivia menyalakan senter hpnya dan mulai mencari saklar lampu, ia meraih sakelar lampu di dinding ruang tamu hingga cahaya terang menyelimuti seluruh ruangan itu.
Kemudian, Olivia melepaskan sepatu hak tinggi dan berjalan tanpa alas kaki di atas karpet yang lembut.
Olivia menggantungkan jaketnya di gantungan di sebelahnya, lalu berjalan ke balkon setelah menuangkan segelas air.
Di luar, angin bertiup kencang dan udara menjadi semakin dingin.
Meskipun Alio tak berada di sana, Olivia tahu pasti bahwa pria itu yang menyuruh Ken membawanya ke sini.
Malam ini ... Apakah Alio akan datang?
Olivia tak pernah sangat berharap bertemu dengan Alio, ia berdiri di balkon sambil melihat bintang dari lantai 80 gedung ini.
Dari atas sini, Olivia juga melihat negaranya yang begitu indah.
Semuanya milik pria itu.
__ADS_1
Hanya dengan melihat keindahan negaranya seperti ini, membuat Olivia mengerti. Tak heran, mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan kekuasaan demi berdiri di posisi tertinggi ini.
...—oOo—...
Olivia tak tahu sudah berapa lama ia berada di balkon, sehingga tak sadar pintu ruangan perlahan-lahan terbuka dari luar setelah beberapa bunyi bip.
Ada cahaya terang berasal dari ruang tamu, wajah pria itu tampak waspada, tapi ketika ia melihat sosok ramping di balkon, wajahnya yang tampan menjadi lega.
"Sepertinya Kak Olivia sudah sampai," ucap Arnold yang mengikuti di samping Alio. Jelas, Arnold juga melihat Olivia.
Alio melambaikan tangannya menyuruh Arnold pergi.
Dalam waktu sekejap, ruangan kembali sunyi, di ruangan yang besar itu hanya ada mereka berdua.
...—oOo—...
Ternyata, tanpa sadar Olivia terbuai dalam lamunan selama hampir dua jam. Dalam dua jam itu, sosok Alio terus berputar di pikirannya.
Alio belum datang, ya?
Olivia menghela nafas, memegang gelasnya dan hendak berbalik—bersiap memasuki ruangan.
Tapi, saat berbalik, tiba-tiba Olivia terkejut karena sosok Alio yang berdiri didepannya.
__ADS_1
Bahkan, gelas di tangan Olivia terlepas karena tak stabil, namun pria itu dengan tenang mengulurkan tangannya dan dengan mudah menangkap gelas itu.
"Sangat sulit untuk bertemu satu sama lain, jadi kenapa kau sampai terkejut begini?" ucap Alio menatap Olivia dalam-dalam dan terlihat sedikit menggoda.
Tapi juga terdapat perasaan yang rumit dan sulit ditebak di dalam tatapannya, Alio meletakkan gelas itu sembarangan ke samping.
Akhirnya, Olivia tersadar—orang di depannya ini bukanlah imajinasinya, tapi Alio sendiri. Entah sejak kapan, tanpa Olivia sadari, Alio tiba-tiba berdiri di belakangnya.
Mata Olivia terasa pedih saat melihat sosok Alio. Pada saat itu, semua kekhawatiran, kegelisahan dan ketidakpastian meledak begitu juga.
"Kamu bisa bikin orang kaget sampai mati! Kenapa kamu sangat menjengkelkan?!"
Dengan ekspresi marah, Olivia menatap Alio dengan tajam, lalu melangkah masuk ke dalam.
Namun, Alio bisa mendengar suara yang keluar dari mulut Olivia terdengar serak.
Alio merasakan sakit yang tertahan di dada Olivia, pria itu mengulurkan tangan dan dengan sedikit usaha—Olivia berputar, kemudian Alio langsung memeluk wanita itu dengan erat.
— Bersambung —
***
Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~
__ADS_1
Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~
Thankyou so much and see you next chapter~