Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 126


__ADS_3

Meskipun ini adalah keempat kalinya Alio menciumnya, Olivia masih merasa gelisah. Napasnya hampir berhenti dan tangan Olivia mendorong bahu Alio, tapi pria itu tak bergerak!


Ciuman Alio yang sombong menjadi agresif dan posesif, membuat Olivia sulit menolak.


Sambil berciuman, telapak tangan besar Alio secara perlahan-lahan bergerak dari sisi atas pinggang Olivia ke bagian tubuh atas wanita itu.


Perasaan berbahaya membuat Olivia semakin gelisah dan matanya menjadi agak buram, hampir tak bisa fokus sekarang.


Olivia tiba-tiba berdiri dari pangkuan pria itu, matanya yang ditutupi oleh cairan bening dan buram memandang Alio ketakutan.


Tangan Olivia memegang kerah piyama Alio tanpa sadar dan jari-jarinya gemetar.


Panas dari ujung jari Alio seperti masih tertinggal di dada Olivia.


...—oOo—...


Pada akhirnya, Olivia melarikan diri dari kamar itu, ia bermaksud meminta uang, tapi akibatnya, ia benar-benar lupa dengan tujuannya.


Olivia kembali ke kamarnya sendiri, hingga beberapa saat, ia masih ingat kata-kata yang Alio bisikkan saat pria itu memeluknya. "Jauhi Lucas!"


"Kenapa?" tanya Olivia dengan suara bergetar.


"Aku tidak menyukainya!" jawab Alio dengan tenang.


Pria ini sangat egois!

__ADS_1


Mata Alio pada saat itu sangat tajam seolah ingin membakar Olivia menjadi abu.


Pikiran Olivia berputar-putar dan ia tak bisa memikirkannya sama sekali. Jadi, ia tak mengangguk atau menggelengkan kepalanya dan berlari keluar dengan ketakutan.


Situasi pada saat itu membuat Olivia merasa jikalau ia berlari lebih lambat, ia mungkin akan dimangsa oleh Alio.


Itu terlalu berbahaya!


Olivia begitu tegang sehingga jantungnya berdebar kencang, ia tak bisa tak menyalahkan dirinya sendiri.


Alio mempermainkannya tak lama sebelumnya, bagaimana mungkin Olivia tak belajar apapun dari kejadian itu dan membiarkan pria itu kali ini.


Olivia menggigit bibirnya dan menyembunyikan dirinya di balik selimut, memaksa dirinya untuk berhenti memikirkan hal itu.


...—oOo—...


Olvi bangun dengan mata merah, saat anak itu baru saja keluar dari kamarnya, seseorang tiba-tiba menggendongnya.


Olvi pun menoleh dan melihat siapa orang itu, kemudian ia melingkarkan lengannya yang kecil di leher Alio dan memeluk pria itu. "Papa, apakah Papa menjemput Mama kemarin?"


"Ya."


"Kerja bagus, bonus ciuman untuk Papa!" ucap Olvi senang.


Terlepas dari apakah Alio mau atau tidak dengan bahagia Olvi mencium pria itu.

__ADS_1


Karena mereka berdua hidup bersama untuk waktu yang agak lama, mereka rukun satu sama lain, namun terkadang mereka masih suka bertengkar satu sama lain.


"Jika kamu tidak ingin Mamamu meninggalkan kamu sendirian untuk waktu yang lama lagi, maka teruslah menurut dengan Papa, tidak peduli apa yang Papa katakan saat sarapan nanti."


Olvi bingung. "Papa, apa yang akan Papa katakan?"


"Kamu akan tahu nanti."


"Oke."


...—oOo—...


Beberapa saat kemudian ... waktunya sarapan.


Begitu Olivia muncul, Olvi langsung memeluknya dan bertingkah seperti anak manja.


Olivia memeluk putranya dan menciumnya.


"Mama, aku sangat merindukanmu!" ucap Olvi sambil memeluk Olivia dan tersenyum pada pria yang duduk di meja. "Papa juga merindukanmu."


— Bersambung —


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thank you so much and see you next chapter~


__ADS_2