Melahirkan Anak Untuk Presiden

Melahirkan Anak Untuk Presiden
Part 354


__ADS_3

"..." Olivia tak berkomentar, karena ia sendiri tak bisa memberikan saran apa pun tentang masalah cinta dan perasaan.


Kemudian, Rena bertanya dengan semangat 45. "Bagaimana denganmu dan Pak Presiden? Sekarang, setiap hari media menyiarkan proses pertunangan mereka. Kamu lihatlah! Mereka akan menggelar acara pertunangan di hotel itu dan orang-orang sudah mulai mendekorasi."


Rena mengangkat dagunya, menunjuk ke televisi di restoran tempat mereka makan. Saat itu, di televisi sedang menyiarkan berita hiburan. Reporter di berita sedang merekam hotel di mana Alio dan Angela mengadakan pertunangan.


Dekorasinya sangat romantis, terlihat jelas bahwa mereka sungguh-sungguh memperhatikan detailnya.


Olivia tak mengatakan bahwa Alio tak akan bertunangan dan juga Olivia tak tahu bagaimana Alio akan menghadapi masalah pertunangan ini.


Pada dasarnya, saat ini semuanya terlihat cukup tenang, tak ada tanda-tanda bahwa Alio tak berniat untuk bertunangan dengan Angela Scarlett.


Setidaknya, menurut persepsi luar, tak ada keraguan sedikit pun.


Namun, Olivia percaya pada kata-kata Alio, ia tahu Alio tak akan membohonginya. Kepercayaan itu seperti bawaan alamiah. Saat ini, Olivia tak memikirkan apa hubungan ia dan Alio saat ini, Olivia tak bisa memahaminya.


"Tenang saja," ucap Olivia, tapi kata itu lebih tertuju untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Rena mengangkat matanya, dia jelas kebingungan tapi dia tak mencoba untuk bertanya dan hanya mengangguk.


Ketika Alio mengatakan bahwa pria itu tak akan bertunangan, alasan terakhir yang membuat Olivia menjaga jarak dengan pria itu hilang begitu saja.


Ini sangat berbahaya! Olivia tahu, ia akan semakin terjerumus pada Alio tanpa kendali dan suatu hari nanti ia tak akan bisa melepaskan Alio.


Namun, pria itu seperti sebuah magnet yang membuat Olivia tak bisa menahan diri untuk mendekatinya.


Olivia memalingkan pandangannya dari televisi, tepat ketika ia ingin mengatakan sesuatu, ia melihat sosok yang familiar melintas di depan matanya.


Olivia terkejut sejenak dan Rena mengikuti garis pandangan sahabatnya.


Benar! Wanita yang sedang mengenakan celemek dan topi, membersihkan restoran, bukankah itu Jesi—ibu tirinya Olivia?


Wanita itu menuangkan sisa makanan yang tak habis ke dalam tong sampah besar, menyebabkan bercak-bercak kotoran menempel di seluruh tubuhnya.


Jelas sekali Jesi tak pernah melakukan pekerjaan yang kotor dan melelahkan ini sebelumnya, gerakannya canggung dan semua sisa makanan tercecer di lantai.

__ADS_1


Manajer restoran keluar dan memberinya teguran dengan marah.


"Kamu sangat lambat! Pekerjaan mudah seperti ini saja tidak bisa, jangan lagi melakukan pekerjaan disini, cepat pergi ke toilet dan bersih-bersih di sana!"


Hasilnya, manajer itu langsung memberikan perintah.


"Membersihkan toilet?!" Jesi langsung protes.


Sebagai istri seorang walikota, Jesi merasa seperti menjadi bahan lawakan saat diminta untuk membersihkan toilet. "Apakah kamu tahu siapa aku? Beraninya kamu memerintahku untuk membersihkan toilet!"


"Aku tidak tahu siapa kamu, dan aku juga tidak ingin tahu. Tapi, atasan bilang, kamu harus bekerja dengan tekun di sini setidaknya selama sepuluh tahun. Jangan banyak omong, lakukan apa yang diperintahkan!"


- Bersambung -


***


Kalau kalian suka dengan ceritanya, jangan lupa tinggalkan jejak kalian berupa like, comment and click favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya~

__ADS_1


Support penulis juga dengan cara menonton iklan di gift atau hadiah ya~


Thankyou so much and see you next chapter~


__ADS_2