
"Ini aku," ucap Alio dingin.
"Tuan, ada apa Anda menelpon?" tanya Sebas dengan sangat sopan.
"Apa anak itu sudah bangun?" tanya Alio yang semakin dingin.
"Iya ... Tuan muda sedang sarapan sekarang."
"Apa wanita itu sarapan bersamanya?" tanya Alio lagi setelah ia terdiam selama beberapa saat.
"Nyonya tidak pulang dan—," jawab Sebas dan tiba-tiba berhenti ketika dia mendengar suara napas di seberang sana menjadi lebih berat.
Sebas bertanya-tanya di dalam hatinya, apa ia harus melanjutkan atau tidak.
"Dan apa?" tanya Alio lagi.
"Dan saat Nyonya pergi kemarin, beliau bilang kalau beliau takkan pulang sementara waktu," jelas Sebas.
Alio berdiri sembari mencengkram erat hpnya, lalu ia mengatur napas dan berkata, "Terserah dia saja!"
...—oOo—...
Alio tak pulang selama seminggu dan saat ia pulang, ternyata Olivia masih belum pulang.
__ADS_1
Sementara di sisi lain…
Keadaan Yuta perlahan membaik dari hari ke hari dan Olivia sesekali mengunjungi Yuta di rumah sakit untuk memeriksa keadaannya.
Setelah Yuta bisa berjalan sendiri, ia akhirnya dipulangkan karena sudah tidak betah berada di rumah sakit lagi.
Orang tua Yuta mengantarkan Yuta sampai ke apartemennya. Lalu, ibu Yuta menelpon Olivia dan beliau mengundang Olivia—untuk makan malam bersama di apartemen Yuta.
Saat Olivia mendengar kabar Yuta yang sudah dipulangkan, ia merasa lega dan ia bahkan tak menolak undangan dari ibu Yuta.
Setelah Olivia pulang kerja, ia pun singgah ke supermarket, membeli buah-buahan sebelum datang ke apartemen Yuta.
Setelah makan malam selesai ... waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam, dan Yuta yang tengah memakai tongkat kini bersikeras ingin mengantarkan Olivia—sampai ke depan pintu masuk apartemennya.
"Kenapa?" tanya Yuta, seolah-olah cintanya di tolak oleh Olivia.
"Lukamu masih belum sembuh. Mungkin saja lukamu itu akan terbuka lagi, jika kamu terlalu banyak berjalan," jelas Olivia dingin.
Melihat tatapan dingin Olivia—Yuta bersandar didinding dekat pintu lift lalu ia menatap mata Olivia dengan tatapan rumit.
Jauh di dalam mata Olivia—Yuta bisa melihat, kalau wanita itu sudah tidak mencintai dirinya lagi seperti dulu.
Yuta tahu, begitu dia membiarkan Olivia pergi, dia akan menyesalinya seperti sebelumnya.
__ADS_1
Dan kemungkinan terburuknya, dia tidak akan pernah bisa menemui Olivia lagi selamanya.
"Jangan khawatir, kamu bisa masuk sekarang, aku baik-baik saja," ucap Olivia yang berusaha menghindari tatapan Yuta bagaimanapun, lalu ia menekan tombol untuk membuka lift.
Dan tidak ada angin dan tidak ada hujan, Yuta tiba-tiba memeluk Olivia!
Olivia sangat terkejut bukan main, saat wajah dingin Alio terlintas di benaknya saat itu juga!
Olivia yang tiba-tiba merasa cemas pun tanpa sadar mencoba mendorong pria otu menjauh, tapi ia tidak bisa. "Yuta, kamu—"
"Aku terluka, kamu tidak bisa mendorongku...," ucap Yuta sambil berbisik ditelinga Olivia dan mengingatkannya.
Olivia menghela nafas, lalu ia berkata dengan nada dingin. "Yuta, bagiku … semuanya sudah berakhir."
"Olivia, mengapa kamu sangat kejam padaku? Kupikir kita bisa memulai semuanya dari awal lagi, tapi ternyata, hanya aku yang berharap...," ucap Yuta lirih.
— Bersambung —
***
***Kalau kalian suka dengan cerita ini, jangan lupa like, komen dan tambahkan ke favorit untuk mendapatkan notifikasi updatenya*** :)
__ADS_1
***Thankyou so much and see you next part***~